Hari ini aku dan
sahabatku bertengkar lagi, hanya karena salah paham. Masalah yang cukup spele.
Berawal dari sms
“Kamu kenapa? Semalam kok smsnya cuek ke aku? Aku sms jawabnya pendek. Aku
menyuruhmu agar menelponku, kau bilang lagi tidak bisa nelpon. Kenapa?”
“Tidak apa-apa,
aku hanya sedang butuh istirahat, jadi tidak begitu bisa banyak bicara atau
untuk sekadar banyak mengetik sms” jawabku lewat sms.
“Tapi kau tidak
sedang punya masalah kan? Ayolah cerita”
“Tidak kok J
aku baik-baik saja”
“Padahal aku
akan membantumu jika kau punya masalah. Kau loh sering bantu aku, jadi jangan
mikir itu membebankan atau tidak”
“Tidak. Aku
baik-baik saja”
Air mataku
mengalir sambil kuketik sms itu. Entah sejak beberapa hari lalu pikiranku
sangat berat. Ada banyak hal yang membuat diriku merasa tak nyaman di sini. Di
kota yang membuatku jauh dari orangtuaku.
Pertama, aku
memikirkan masalah keuanganku. Selain uang saku yang sudah tidak ada, aku
kepikiran ke uang pendaftaran ujian PKL ku, padahal pendaftarannya besok.
Sedangkan saat aku nelpon ibuku, pasti beliau bilang “Nak, jangan boros-boros
ya, disini juga lagi tidak ada uang. Kakak iparmu baru kemarin malam berangkat
ke Jember, mau kerja disana. Mumpung lagi libur kerjaan yang di sini” padahal
aku belum bilang bahwa aku butuh uang. Lalu apa yang harus aku katakan? Bilang
tidak, sudah keduluan ibu yang bilang! Sedangkan aku juga ada hutang pada teman kelasku beberapa ribu karena
kemarin beli alat untuk printku.
Pokoknya banyak
yang aku pikirkan, dan itu membuatku merasa sangat lelah.
Dan semua itu
tidak mungkin aku bicarakan atau aku ceritakan pada sahabatku. Karena aku tahu,
dia baru sembuh dari sakitnya. Apalagi dia sudah sangat sering membantuku dalam
hal keuangan. Jadi aku sudah sungkan jika akan bercerita masalah keuangnku ini.
Aku hanya
berniat agar dia tidak merasa terbebani dengan apa yang sedang menjadi
masalahku beberapa hari ini.
“Yasudah kalau
kamu gak percaya ke aku. Maaf tidak bisa menjadi pundakmu, dan sahabat yang
baik untukmu, Ra”
Setelah itu dia
gak sms lagi. aku sms juga gak dibalas. Ya, aku paham, mungkin dia merasa tidak
berguna untukku. Padahal dia merasa aku selalu menolongnya saat dia dalam
keadaan sulit.
Lagi-lagi aku
berpikir, “Andaikan aku jujur saja, andaikan aku bercerita” hufh. Aku makin
lelah. Ternyata semua yang kulakukan juga lebih membuat dia berpikir yang
tidak-tidak. Memang jujur itu akan lebih sangat menguntungkan, apapun nati yang
akan terjadi setelahnya. Dia bisa membantuku atau tidak. Dari pada keadaan jadi
begini. Niatku agar dia tidak terbebani dengan masalahku ternyata membuat dia
malah merasa tidak berguna menjadi sahabatku.