Tuesday, April 22, 2014

AKU JATUH HATI PADANYA

Dia tiba-tiba diam di sampingku, melihat mawar yang baru saja aku genggam-setelah ia lepas dari tangannya.
kami sama-sama tertawa. mungkin lucu. kami jatuh cinta setelah berlama-lama menjadi seorang teman.
Namanya Ariyan.
Namaku Felisha.
kami jatuh cinta
cinta yang manis
Lalu dia berdiri, mengulurkan tangan kanannya padaku. mengajakku jalan menyusuri trotoar sore itu. indah: Senja pun menyaksikan kisah ini.

Aku jatuh cinta padanya
pun dia
setelah sekian lama kami hanya saling mengakui teman

Thursday, April 10, 2014

Story 7 “Akhirnya Tulisan Ini Jadi”



Setelah beberapa minggu tulisan saya selesai, saya mulai mencari beberapa orang ahli untuk memberikan endrosment karya saya. Sudah ada beberapa orang, akan tetapi saya juga butuh untuk yang memberikan kata pengantarnya. Tentang pemahaman puisi, sastra.
Lalu tadi pagi saya dipertemukan dengan salah satu dosen penggiat teater, sebut saja Mr. S. saya menawarkan tulisan saya, tetapi pertemuan itu singkat karena beliau mau memberi kuliah di kelas broadcasting.
Sekitar pukul 5 sore tadi, saya sms Mr. S. Saya menanyakan kapan dia bisa membaca tulisan saya, akhirnya dia meminta saya untuk menemuinya di Warung Kopi belakang UIN. Beberapa jam terlewati, puisi dibacakan, narasi pun dijelaskan.
Saya melihat jam tangan, sangat kaget saat jam menunjukkan angka 20.35 WIB. “Gawat, saya harus posting tugas akhir untuk story personal”  akhirnya saya terburu-buru, segera pamit pada Mr. S. Sangat sungkan sebenarnya, memotong diskusi yang masih asik dari beberapa jam lalu. Tapi saya tidak ingin melalaikan tugas yang satu ini.
Hingga akhirnya tiba di kost. Saya buka lapto. Mulai mengetik. Lalu jadilah tulisan ini.

Good nigt miss Dinar..

Wednesday, April 9, 2014

Story 6 "Sulitnya Mendapatkan Uang; Terlalu Mudah Menghabiskannya"


Kemarin sore saya mendapat telepon dari saudara yang ada di desa, menjelaskan bahwa dia sudah mentransfer uang seperti yang saya minta. Karena kemarin saya kurang sehat akhirnya baru beberapa jam yang lalu saya ambil di ATM.
Karena saya mengambil di ATM yang ada di Alfamart terdekat kost, akhirnya saya lanjut membeli kebutuhan yang sangat mendesak di sana. Saya kaget saat kasirnya mengatakan jumlah nominal yang harus saya bayar, Rp. 50.000,00 pun habis. Uang tinggal 70.000. saya masih harus bayar listrik Rp. 12.000.00, uang pulsa dan hutang belanja makan kemarin senilai Rp. 18.000. akhirnya uang saya hanya tinggal sekitar Rp. 40.000.00.
Sedangkan besok saya harus segera daftar ujian PKL Rp. 110.000.00. sungguh sangat membingungkan dan mampu membuat saya berpikir keras malam ini. Harus mencari kemana kekurangan uang itu?
Padahal baru kemarin dikirim dari rumah, sudah hampir habis, bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan saya. Akhirnya, demi kelancaran pendaftaran ujian PKL, saat ini saya menghubungi sebagian teman-teman saya. Bertanya apakah mereka dapat membantu saya untuk mencukupi kebutuhan saya untuk sementara. Ini masih dalam proses pencarian dan menunggu kepastian. Semoga ada.

Tuesday, April 8, 2014

Story 5 “Maaf Bu, Hari Ini Anakmu Gagal Kuliah”


Kira-kira pukul 05 pagi, saya merasa sekujur tubuh sakit. Gigil, rasa panas, juga mual bercampur aduk. Saya pikir itu hanya pusing biasa, hingga akhirnya saya memutuskan untuk segera mandi karena beberapa menit lagi harus berangkat ke kampus untuk kuliah. Semua sudah siap, softcopy tugas yang akan disetor pada jam kedua matakuliah juga rentetan pertanyaan yang sudah saya susun dari kemarin malam karena ketidak mengertian saya pada tugas yang diperintahkan oleh dosen terkait.
Setelah selesai mandi, badan saya merasa semakin gemetar, akhirnya saya minta tolong teman kost agar mendidihkan air untuk saya, rencana membuat teh hangat untuk saya minum sebelum berangkat ke kampus. Melihat kondisi saya yang seperti lunglai, teman saya bilang “Sudahlah Ra, tidak usah dipaksakan untuk kuliah jika memang sakit. Orang puasa saja tidak boleh memaksakan dan menyiksa diri, ijin saja kuliahnya” saya hanya tersenyum. Dalam hati saya bergumam “Tidak, saya harus tetap kuliah. Saya tidak boleh kalah pada perjuangan ibu. Meski pun dia sakit, bahkan lebih parah dari sakitku hari ini, dia tetap berangkat jualan ke pasar. Tempatnya sangat jauh dari rumah. Mengingat juga setiap hari saya punya jatah uang 10ribu untuk jajan dan makan, ya, jika saya tidak kuliah, maka uang itu beroperasi sia-sia. Karena ibu mengirim aku uang saku, karena aku hendak kuliah di sini. Jadi semasih bisa saya bertahan, saya tetap kuliah”.
Jam menunjukkan pukul 10.15 WIB. 15 menit lagi jam pertama kuliah akan segera dimulai, saya pun berangkat ke kampus sendirian, dengan nada jalan yang cukup gontai, lunglai, seperti tak ada energi. Hingga akhirnya sampailah di kampus, ambil absen, lalu naik ke lantai 3. Ke ruang kuliah. Dosen pun datang, “Rara, kenapa? Sakit yaa? Pulang saja Ra, Ijin. Tidak apa-apa kok. Nanti materinya bisa kamu copy” ujar dosen setelah melihat saya duduk di deretan kursi bagian belakang. Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Berharap semoga saya kuat hingga jam kuliah selesai.
Ditengah perjalanan menjelaskan tugas yang kami posting di kompasiana kemarin tentang artikel, rasa sakit semakin membuat tubuh ngilu. Akhirnya saya meminta salah seorang teman saya untuk antarkan saya ke kost. Benar-benar dipuncak sakit. Keringat sudah mengucur keseluruh tubuh, gemetar, gigil dan semuanya sangat mengganggu konsentrasi saya.
Maka untuk jam kedua tepat jam 12.00 WIB. Saya tidak bisa ikut kuliah. Saya tidak bisa mempertahankan diri saya di kampus. “Maaf bu, anakmu gagal kuliah hari ini”. Akhirnya perlahan-lahan melangkah, sampailah di kost saya. Istirahat. Mencoba menutup mata untuk sementara hingga sakit tak akan dirasakan lagi. namun hingga saya terbangun pun, sakit itu masih terasa, bahkan sampai saat saya mengetik tulisan ini. Saya masih dalam kesakitan.
“Maaf kan saya bu, saya janji akan menjaga tubuh ini lagi. agar tak sakit lagi. saya janji akan tetap bertahan, memperjuangkan niat saya yang kuat untuk kuliah dan cari ilmu hingga akhirnya kau mengijinkan saya merantau ke kota yang cukup jauh ini”.

Monday, April 7, 2014

Story VI "ASMARA PUN KADANG JADI PENCURI WAKTU" ; maka biarkan saya tetap memegang prinsip yang dulu


Sejak saya kelas 4 SD dulu, saya berpikir bahwa selama saya masih belajar atau menuntut ilmu saya tidak akan pernah menyentuh yang namanya cinta (Pacaran dll), karena menurut saya perihal itu akan sangat mengganggu pada proses belajar saya, dan saat itu hingga saya melalui bangku SMP, SMA, bahkan saat sudah di bangku kuliah saya mampu tetap mempertahankan prinsip saya itu. Ya, meski memang didalam hati pasti ada rasa yang sudah bisa dikatakan cinta. Namun saya tetap bertahan agar tidak tergoda.
Hingga akhirnya saya tiba di kota dingin, Malang. Saya mulai punya banyak teman, perempuan, laki-laki sekampus bahkan diluar kampus. Ada banyak cerita yang asyik untuk di dengarkan dari teman-teman saya, tentang asmara mereka pastinya; bertengkar karena tak ada waktu satu dengan pasangan lainnya, karena cemburu, dll.
Di sisi lain ada juga yang bercerita pada saya, bahwa memang menjalin hubungan katanya sangat menyita waktunya, teman saya pernah sampai tidak masuk kuliah, bolos kerja, karena pacarnya kadang ngajk dia jalan. Atau kalau tidak saat teman saya stress gara-gara disakitin oleh pacarnya malah membuat dia bolos kuliah selama semingguan. Nyaris, membuat saya “Kadang” merasa bersyukur masih belum berada dilingkaran itu. Masih mulus kuliah dan tak merasa terganggu karena jalinan asmara.
Meski kata banyak orang, sudah lumrah orang seusia saya sudah punya pasangan untuk nanti persiapan di masadepan, karena sudah semester 6 dan sebentar lagi wisuda. Tapi saya selalu percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan saya jodoh. Tanpa harus saya ikat sekarang dengan status pacaran, dll.
Dan kali ini, kali pertama saya merasa hati saya bergemuruh. Setelah sekian lama, sekian tahun saya mempertahankan idealisme pemikiran saya tentang konsep cinta dan cita-cita, tentang kemulusan belajar hingga lulus S1, hari ini saya merasa dilumpuhkan total. Perasaan yang seperti tak bisa saya simpan lagi, rasa yang sudah beku di hati saya mulai menyentuh logika saya dan mengatakan bahwa cinta itu butuh untuk keseimbangan proses cita-cita. “Hah? Apakah iya harus dengan jalan berpacaran? No!” gumam saya.
Ya, beberapa hari ini, sampai malam ini saya merasa sudah terganggu dengan asmara yang tiba-tiba menggelitik hati saya. Jika dibilang jatuh cinta iya. Tapi entah saya harus bagaimana, karena saya masih harus fokus pada kelanjutan kuliah saya yang saat ini semakin harus disereusi. PKL, Ujian< KKN, Skripsi. Hah... ya. Saya harus melewati itu dulu dan harus fokus agar hasilnya maksimal. Karena saya tidak mau jika saya nanti memutuskan untuk menjalani asmara saya, ternyata malah saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan orang yang menjadi kekasih saya.
Tekad saya mulai malam ini, berusaha tetap tenang, meluruskan kembali arah hati yang mulai terganggu. Harus tetap semangat, melanjutkan prinsip yang lahir saat saya berumur 7 tahunan itu.

Sunday, April 6, 2014

Cerita III "Fokus Pada 1 Hal Saja! Lebih Baik!"

Aku termasuk mahasiswa yang sibuk di kampus. Selain tanggungjawab sebagai mahasiswa yang masuk kuliah setiap hari serta mengerjakan banyak tugas, aku juga sibuk di hal organisasi. Intra kampus (BEM, Radio Kampus) Ekstra kampus (PMII, IMIKI), dll.

Awalnya aku sangat suka dan senang dengan segala kegiatan yang ku lakukan itu. Aku nikmati. Tapi setelah aku menginjak semester lebih tinggi, aku merasa keteteran pada semua tanggungjawabku. termasuk kewajibanku pada organisasiku.

Pertama, dengan alasan aku menyibukkan diri karena mau menerbitkan buku fiksiku yang kedua, aku jarang hadir ke event yang diadakan teman-teman IMIKIku, kemarin aku tidak hadir di temu akrab IMIKI di Pandaan.
Kedua, kemarin juga aku tidak hadir di kepanitiaan AMT, padahal aku Sekretaris di BEM.
Ketiga, Hari ini aku tidak bisa hadir bahkan untuk sekadar menampakkan wajahku sebentar disana, di Karang Ploso, sahabat-sahabat PMII ku sedang ada acara PKD. Padahal aku senior, tapi sayang, aku tak bisa memberi contoh yang baik pada adik-adik tingkatku. 

Hingga aku berpikir, bahwa aku gagal menjadi mahasiswa yang baik. Yang mampu memenej waktuku untuk segala hal. Untuk Organisasiku, pribadiku.

Hari ini aku pun ditegur oleh kakak tingkatku "Gimana, sekarang kamu kok melempem begini! Kasian kader-kadermu!" Aku hanya diam. Aku malu.

Ya, saking sibuknya aku, karena terlalu banyaknya tugas yang kuemban dan kunyatakan siap memikulnya, nyatanya membuatku kehilangan banyak hal. Membuatku lebih tidak bisa melakukan apa-apa.

Mulai hari ini, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan kembali giat, akan kembali mengatur waktu lebih baik. Jika tidak bisa kurangkul semua, setidaknya ada satu atau dua hal yang bisa aku selesaikan dengan baik. Ini tentang kepercayaan orang lain padaku. Serta tentang tanggungjawab yang sudah ku iyakan saat aku diikrar.

Cerita II "Bermaksud melindunginya; malah Bertengkar"


Hari ini aku dan sahabatku bertengkar lagi, hanya karena salah paham. Masalah yang cukup spele.
Berawal dari sms “Kamu kenapa? Semalam kok smsnya cuek ke aku? Aku sms jawabnya pendek. Aku menyuruhmu agar menelponku, kau bilang lagi tidak bisa nelpon. Kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya sedang butuh istirahat, jadi tidak begitu bisa banyak bicara atau untuk sekadar banyak mengetik sms” jawabku lewat sms.
“Tapi kau tidak sedang punya masalah kan? Ayolah cerita”
“Tidak kok J aku baik-baik saja”
“Padahal aku akan membantumu jika kau punya masalah. Kau loh sering bantu aku, jadi jangan mikir itu membebankan atau tidak”
“Tidak. Aku baik-baik saja”
Air mataku mengalir sambil kuketik sms itu. Entah sejak beberapa hari lalu pikiranku sangat berat. Ada banyak hal yang membuat diriku merasa tak nyaman di sini. Di kota yang membuatku jauh dari orangtuaku.
Pertama, aku memikirkan masalah keuanganku. Selain uang saku yang sudah tidak ada, aku kepikiran ke uang pendaftaran ujian PKL ku, padahal pendaftarannya besok. Sedangkan saat aku nelpon ibuku, pasti beliau bilang “Nak, jangan boros-boros ya, disini juga lagi tidak ada uang. Kakak iparmu baru kemarin malam berangkat ke Jember, mau kerja disana. Mumpung lagi libur kerjaan yang di sini” padahal aku belum bilang bahwa aku butuh uang. Lalu apa yang harus aku katakan? Bilang tidak, sudah keduluan ibu yang bilang! Sedangkan aku juga ada hutang  pada teman kelasku beberapa ribu karena kemarin beli alat untuk printku.
Pokoknya banyak yang aku pikirkan, dan itu membuatku merasa sangat lelah.
Dan semua itu tidak mungkin aku bicarakan atau aku ceritakan pada sahabatku. Karena aku tahu, dia baru sembuh dari sakitnya. Apalagi dia sudah sangat sering membantuku dalam hal keuangan. Jadi aku sudah sungkan jika akan bercerita masalah keuangnku ini.
Aku hanya berniat agar dia tidak merasa terbebani dengan apa yang sedang menjadi masalahku beberapa hari ini.
“Yasudah kalau kamu gak percaya ke aku. Maaf tidak bisa menjadi pundakmu, dan sahabat yang baik untukmu, Ra”
Setelah itu dia gak sms lagi. aku sms juga gak dibalas. Ya, aku paham, mungkin dia merasa tidak berguna untukku. Padahal dia merasa aku selalu menolongnya saat dia dalam keadaan sulit.
Lagi-lagi aku berpikir, “Andaikan aku jujur saja, andaikan aku bercerita” hufh. Aku makin lelah. Ternyata semua yang kulakukan juga lebih membuat dia berpikir yang tidak-tidak. Memang jujur itu akan lebih sangat menguntungkan, apapun nati yang akan terjadi setelahnya. Dia bisa membantuku atau tidak. Dari pada keadaan jadi begini. Niatku agar dia tidak terbebani dengan masalahku ternyata membuat dia malah merasa tidak berguna menjadi sahabatku.

Template by:

Free Blog Templates