Thursday, January 9, 2014

KOREA UTARA: (TERNYATA) MASIH ADA WARGA NEGARA YANG TERBELENGGU!



 www.dw.de
Selama ini kita mengenal Korea Utara sebagai salah satu negara yang paling tertutup di dunia. Negara ini hanya memiliki hubungan sangat sedikit dengan negara lain. Negara ini juga terisolasi dari pergaulan internasional, bahkan warganya tidak punya akses ke dunia luar. Pemerintahan di Korea Utara dipimpin oleh seorang Presiden. Tidak ada pemilihan umum untuk memilih presiden. Presiden dipilih oleh presiden sebelumnya, Korea Utara bisa disebut juga sebagai satu-satunya negara di dunia yang menerapkan monarki-komunis, karena kepala negara dipilih berdasarkan keturunan.
Komunis adalah ideologi dari negara ini, semua warga dipaksa hanya menyembah pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il, dan mendiang ayahnya, Kim Il-Sung. Ini berarti, tidak ada agama atau kepercayaan mana pun yang diizinkan berdiri di negeri Korea Utara. Tak terkecuali dengan medianya. Sangat tertutup, terisolasi, tidak adanya kebebasan dan sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah. Media di negara ini berada di belakang kontrol dari kediktatoran Komunis.
Undang-undang mengenai pers tercantum dalam Pasal 67 yang bunyinya adalah masyarakat memiliki kebebasan berbicara, publikasi, berkumpul , demonstrasi, dan asosiasi. Berdasarkan konstitusi yang ada, negara menjamin kebebasan berbicara dan berpendapat tiap warganya namun dalam hal ini hanya diperbolehkan jika dalam rangka mendukung negara maupun partai. Hal-hal yang bersifat melawan pemerintahan tidak diperbolehkan. Setiap tindakan yang dianggap melawan pemerintah atau menghina Pemimpin Besar (presiden) akan diberikan hukuman yang berat yaitu mati atau dipenjara. Dengan kata lain tidak ada kebebasan berbicara di Korea Utara (Zero, 2011).
“Situasi di Korea Utara sama buruknya dengan tahun lalu. Orang-orang yang bekerja di media harus membawa propaganda rezim penguasa dalam pemberitaan. Mereka sama sekali tak bisa mengritik pemerintah atau membahas topik yang dianggap tabu. Tidak ada kebebasan berekspresi sama sekali di Korea Utara” (Purwaningsih, 2007).
            Pengekangan kebebasan berpendapat dan berekspresi ini berarti pemerintah Korea Utara sangatlah membelenggu kebebasan pers. Media massa harus selalu tunduk pada pemerintah karena sebenarnya media yang ada di sana adalah media yang dibentuk oleh pemerintah sendiri. Pihak swasta tidak diperbolehkan memiliki perusahaan media massa. Orang-orang yang bisa mengakses berita hanyalah para anggota Partai Buruh. Saluran televisi dan radio selalu menayangkan acara pemerintah.
Media didirikan dan dikuasai sepenuhnya oleh negara. Orang-orang yang bisa mengakses media massa hanyalah mereka yang berasal dari Partai Buruh dengan kata lain hanya bisa diakses oleh orang-orang pemerintah saja.Korea Utara tidak mengijinkan pihak swasta mendirikan suatu media.
Sesuai dengan Pasal 2: Segala macam alat produksi adalah milik negara. Dalam hal ini termasuk pula alat-alat komunikasi dan media baik cetak maupun elektronik dimiliki oleh negara. Media dipakai sebagai alat untuk propaganda, salah satunya untuk mempropagandakan bahwa ajaran komunisme sampai saat ini telah membawa kesejarteraan. Padahal banyak negara komunis yang telah meninggalkan komunisme murni sebagai paham (Purwaningsih, 2007).
            Karena penguasaan pemerintah terhadap media massa yang begitu kuat, media massa yang ada kemudian menjadi alat propaganda untuk menyosialisasikan ajaran komunisme sebagai ideologi Korea Utara, juga memberitakan prestasi-prestasi pemerintah dalam usahanya menyejahterakan rakyat atau bahkan tentang program nuklirnya. Dengan begitu, akan sangat terlihat bahwa media massa yang ada di sana sangatlah mendukung pemerintah.
            Korea Utara tidak memperbolehkan media asing masuk ke wilayah negaranya, karena itu Korea Utara benar-benar terisolasi dari dunia luar. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa banyak hal-hal asing yang bisa mengganggu stabilitas dalam negeri. Berita-berita yang masuk ke Korea Utara harus diatur dan melalui seleksi oleh pihak pemerintah, sehingga rakyat tidak mengetahui berbagai berita terkini dari luar negeri selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Korea utara menyadari pentingnya media dalam mengendalikan pemikiran masyarakat. Media Korea utara semuanya dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan mendukung program-program dan ideologi pemerintah. Media senantiasa mengedepankan keberhasilan pemerintah dalam setiap pemberitaanya.
Ada sebuah cerita menakjubkan tentang wartawan luar negeri yang kebetulan diajak mengelilingi Korea Utara, dalam suatu perjalanan ternyata mereka salah jalan, ketika sadar mereka telah salah jalan, pejabat pemerintah Korea Utara itu dengan suara bergetar meminta kepada para wartawan asing untuk tidak mengambil foto dan menulis tentang apa yang sudah mereka lihat (jalan yang tidak beraspal, jalan berdebu, bangunan tua yang terlihat lapuk dan tak terawat). Dia meminta agar para wartawan asing itu menulis informasi “yang sebenarnya” (berita yang bagus) tentang keberhasilan dan kemakmuran negerinya di bawah kekuasan rezim Kim itu (Daniel, 2012).
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa Korea Utara menggunakan sistem pers soviet komunis. Pers dikuasai pemerintah dan partai dan menjadi sarana propaganda penyebaran ideologi komunis dan sosialisasi kebijakan pemerintah dan partainya kepada rakyat dengan berita-berita yang selalu mendukung pemerintah. Hal ini menyebabkan salah satu fungsi pers yaitu sebagai pengawas dan pengontrol pemerintahan tidak berjalan sama sekali. Selain itu pers di Korea Utara memiliki prinsip sebagai media yang bebas dan bertanggung jawab, namun yang dimaksud adalah bebas dari kaum borjuis dan bertanggung jawab pada partai.
            Sudah sangat jelas dipaparkan tentang lika-liku perjalanan pers serta pemerintahan di negara Korea Utara, maka tentu kondisi mengenaskan tersebut juga berpengaruh terhadap keadaan sosial ekonomi warga Korea Utara. Seperti apa yang telah di tuturkan oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dalam sebuah konferensi pers bersama Presiden Korea Selatan, Lee Myung-Bak "Jika sebuah negara tak bisa memberi makan rakyatnya dengan baik, tak bisa menghasilkan sesuatu yang berguna buat siapapun, tak memiliki ekspor selain senjata dan itu pun bukan dari jenis yang terbaik, Jika tak bisa memenuhi indikator kesejahteraan apapun bagi rakyatnya tentunya, anda mengira mereka akan melakukan perubahan, ada hal-hal yang tak akan berhasil dan apa yang mereka lakukan tidak akan menghasilkan apa-apa" itulah keheranan Obama pada kondisi Korea Utara yang kontras dengan keterpukauannya terhadap Seoul yang menunjukkan banyak kemajuan.
Bagaimana pun caranya penguasa Korea Utara berupaya menutup-nutupi kondisi sosial-ekonomi negerinya itu, selama ini dunia pun tahu bahwa negeri komunis ini sudah lama rakyatnya berada dalam kehidupan yang menderita karena kemiskinan dan kelaparan (Daniel, 2012).
Begitu besar pengaruh keadaan sistem pers suatu negara terhadap perkembangan sosial ekonomi warga negara itu sendiri. Terisolasinya hubungan warga negara dengan warga luar negara, dibelenggunya keadaan pers, otoriternya pemerintahan, dan diabaikannya kondisi suatu tempat yang memprihatinkan, membuat banyak warga negara lain merasa prihatin terhadap keadaan warga negara Korea Utara.


Referensi:
Daniel, H.T., 2012. Salah Jalan, Wartawan Asing Malah Diperlihatkan Kemiskinan Rakyat
Korea Utara. [Online] Available at: < file:salah-jalan-wartawan-asing-malah-diperlihatkan-kemiskinan-rakyat-korea-utara-454530.html> (Accessed 04 January 2014)
Purwaningsih, A., 2007. Laporan Reporter Tanpa Batas 2007: Eritrea Tersungkur, Korea
Utara Tak Ada Perbaikan. [Online] Available at: <file:laporan%20reporter.htm> (Accessed 04 January 2014)
Zero,  2011. Sistem media massa korea utara. [Online] Available at: <file:sistem-media
massa-korea-utara.html> (Accessed 04 January 2014)

Template by:

Free Blog Templates