Thursday, October 6, 2011


PEREMPUAN DALAM KHAYAL
Bidadari surga. Malam itu seakan benar-benar menghampiri dunia nyataku, bidadari yang Sempat membelai lembut rambut hitamku dengan jemari lentiknya. Pula senyum terindah yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun. Bidadari yang tiba-tiba pula mengintip pesona hatiku yang dalam keadaan bergemuruh. Entah kenapa harus aku yang rasakan itu, Padahal aku bukanlah laki-laki sempurna yang pantas dihampiri para perempuan yang tak cukup dikatakan sederhana. Bidadari itu… sampai saat ini tergiang jelas di otak kananku. Wajahnya yang bak rembulan seakan ingin menjatuhkan aku dari setiap mimpi-mimpi malamku. bidadari itu, benarkah kau memang ada dan hadir untuk seorang aku?
@@@
Aku, seorang laki-laki berusia sembilan belas tahun. Pemilik hati yang tak pernah tersapa oleh lembutnya salam ibu. Sebab aku ditinggalnya sebelum aku tahu bagaimana kabar dunia. Dia memang tak meninggal, pun bukan tak sadarkan diri dari koma. dia hanya berkehendak sendiri untuk meninggalkanku setelah aku terlahir, lalu ia menitipkanku pada ayah. Satu-satunya hati yang kupunya. Kabarnya, ibu lebih memilih untuk bersama Adam lain selain ayah. Entahlah, apa yang menjadi sebab ia begitu tega menelantarkan aku. Sampai saat ini akupun tak pernah tahu seperti apa wajah cantik yang ia miliki.. Mungkin dia alpa, kalau di sini ada sepotong jiwa yang merindu hangat belaian seorang ibu. yang kata banyak orang kasih terhebat adalah miliknya. yang kata banyak orang pemilik cinta tertulus di dunia. Lalu bagaimana dengai ibuku? Bukankah dia juga bagian dari perempuan indah itu?
Sebab itu sampai saat ini aku tak pernah menyentuh sapa para perempuan sebagaimana laki-laki wajarnya. Aku hanya tak ingin bayang ibuku menghantuiku kembali, aku tak ingin membencinya dengan segala kenangan yang selama ini aku punya. sebab aku tahu, ibu dan segala yang telah dia korbankan selama aku di rahimnya, takkan pernah mampu menjadi alasan yang akurat untuk aku jatuh benci padanya. bagaimanapun dia, akupun tetap terlahir karenanya.
Aku menjalani hidup seperti biasa. berdua dengan ayah yang setiap hari menghabiskan waktunya di kantor. yah, dia terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar hati yang aku punya. tapi sudahlah, aku cukup memahaminya, bekerja adalah alasannya untuk terus menghidupiku.
@@@
Hingga tiba saat itu, saat semua yang mengakar di jiwaku tentang perempuan tertelan sudah. Sebab dia. Rikza Amalia. perempuan yang menyediakan jiwanya untuk teduhku, perempuan yang mematahkan segala kecewaku tentang wanita. Status kakak tingkat serta usia lebih tua yang ia sandang tak mampu menyurutkan segala yang terlanjur ada. Aku telah jatuh terlalu dalam, pada jiwanya yang terlampau indah untuk kuacuhkan. meski aku masihlah ragu, itu jugakah yang ia rasa? tiba-tiba rasa takut untuk mencintai dan mengenal perempuan menghilang begitu saja dari hatiku. Tak ada ragu sedikitpun. aku berani katakana ini adalah cinta, sebab aku tak pernah rasakan ini sebelumnya.
Maka tak ragu, kubuang segala kenangan pahitku tentang perempuan. Sebagai laki-laki aku harus  berani menyatakan rasaku. Porsi kebersamaan yang kami punya membuatku akan lebih mudah menyatakan semua. hah, menyesal mengapa rasa ini baru hadir? Mengapa tak dulu, sebelum trauma ini berkepanjangan? Hmh, Rabb...diakah bidadari yang sempat hadir dalam mayaku beberapa waktu lalu? bidadari yang seakan-akan nyata?
@@@
Kami pun dekat, ada rasa yang semakin meyakinkanku. Di sini, di hati terdalamku. dan aku pun yakin dia juga memilki perasaan itu.
“Alif, bagaimana dengan semester yang akan kamu hadapi minggu depan? sudah ada planning untuk belajar?” Rikza merealkan perhatian itu padaku.
“Hm… sebagai seorang pelajar, belajar bukanlah sekedar planning. tapi kewajiban” aku menjawabnya datar.
“Aku suka dengan cara bicaramu yang bijak itu, ajari aku memilki sikap itu, Alif” aku tersentak mendengarnya. akupun membalas perkataannya dengan senyum. senyum harapan yang tak pernah aku tawarkan pada yang lainnya. dia membalas senyum ku saat itu mata kami bertemu. Tatapan itu, menyiratkan harapan yang teramat dalam..
@@@
Setelah semua hampir menginjak sempurna, aku pun yakinkan hati untuk menyatakan semua pada ayah, agar dia bersedia memintanya untukku.
“Alif, ada yang ingin Ayah bicarakan” ayah tiba-tiba muncul dari ruang depan lalu duduk tenang di sampingku. Ada yang berbeda dengan sinar di wajahnya sore ini. Cerah dan terlampau tenang. Sedikit merasa aneh, sebab nyaris tak pernah Ayah membicarakan sesuatu yang serius denganku. Bahkan aku sempat berpikir aku tak cukup dewasa untuk mengetahui apapun tentang Ayah. Sebab ia terbiasa menyimpan semua sendiri. Entah ada apa sore ini,.
 “ada apa yah?” tanyaku tak sabar
“ayah igin tau pendapatmu, bagaimana kalau..” ayah terlihat ragu “ayah memberimu Ibu baru” mendengar hal itu, tiba-tiba hatiku bergidik. Siapa perempuan yang berhasil menggantikan posisi ibu di hati ayah? Bukankah ibu terlalu berarti? Hingga Ayah memilih  tetap sendiri selama Sembilan belas tahun? Kalau begitu, perempuan pilihan Ayah tentu istimewa atau mungkin ayah  telah terlalu capek dengan kehidupannya yang sendiri. Bagaimanapun ayah selalu butuh tempat untuk berbagi, mencinta dan dicintai. Jadi,  tak ada alasan aku merlarangnya.
“Itu terserah ayah. yang penting perempuan itu mampu menyayangi ayah dan merawat ayah dengan baik. Alif mendukung. siapa perempuan itu yah?”Ayah tersenyum hangat mendapati respon positifku. Hm, lama tak kudapati senyummu, yah…
“sebentar lagi dia datang, ayah sudah janji untuk mempertemukan kamu dengannya” aku mengangguk yakin. Akan ada jiwa baru yang mungkin akan menjadi pelangi di rumah ini.
 “hm, yah..apa dia sudah tau tentang keadaan ayah dan aku ?“
”ayah sudah menceritakan semua. dan dia bersedia menerima ayah apa adanya” jawab ayah tanpa ragu sedikitpun.
tiba-tiba  bel  pintu berbunyi, pasti perempuan itu !. Calon ibuku !. Aku melirik wajah ayah, ia memberi isyarat agar aku bergegas membukakan pintu. Lekas kulangkahkan kaki menuju pintu dan betapa kagetnya aku mendapati wajah bidadariku berdiri mematung di depan pintu. Rikza Amalia, perempuan yang menjadi bunga dalam setiap waktuku bersama malam.        “Hei, k-kau..ada perlu? atau ada tugasmu yang perlu kita diskusikan?” oh, aku terlalu surprise melihatnya menemuiku. Hingga lupa mempersilakannya masuk. Tunggu. Aku menangkap perubahan seketika di wajahnya. Wajahnya tiba-tiba pucat dan tegang.
 “Ternyata  kamu sudah mengenal calon ibumu, Alif” ucap ayah seperti petir menyambar sekujur tubuhku. aku harap aku hanya salah mendengar.
“maksud ayah?”.
“Yah, ini dia perempuan yang ayah pilih untuk kau jadikan ibu. Gimana, cocok kan dengan ayah?” ayah tersenyum bahagia. Seluruh tubuhku tiba-tiba kelu. Senyum hangat ayah tiba-tiba seperti seringai yang menertawai ketololanku. Langit yang bersinar cerah tiba-tiba kelam, sekelam mimpi yang selama ini berani kurajut sendiri. Bagaimana mungkin? Ahh…Aku menatap wajah Rikza. Mencoba mencari kesungguhan di bola matanya. dia berpaling dari tatapanku. Tega kau, za !! Jadi, kedekatannya denganku selama ini hanyalah karena ia menginginkan ayahku ? ayahku ? bukan aku !. Aku benar-benar seperti terlempar. Terlempar ke jurang gelap yang teramat terjal. ternyata benar. Tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan mereka. Tak kuhiraukan panggilan bingung ayah yang berusaha menahan langkahku. Aku harus berlalu dari semua ini. Tak pernah sekalipun terbayang, cintaku terbalas atas nama cinta seorang ibu. Ibu yang mencintai Ayahku. Aku akan terus berlari, entah akan berujung kapan dan di mana…
@@@
Dan sampai saat ini, aku masih tak ingin kembali. Biarlah mereka tenang tanpaku. Biarlah sakit ini aku yang tau. Aku telah terlalu biasa. Akupun tak lagi tahu kabar ayah, begitupun kabar Rikza. perempuan yang sempat kucinta. Ternyata mimpi itu benar-benar sekedar mimpi. dia bukanlah bidadari yang nyata untukku..Hm, tak semua perempuan begitu kan Rabb ? kalau begitu, mohon, pertemukan aku dengan bagian dari keindahan mereka..
                                 Istana Cinta Lingkar pena

ADA TUHAN DALAM DIRIMU, CINTA...

Sudah terhitung empat tahun aku ada dibangku kuliah. Sekarang aku menginjak semeser delapan, semester akhir yang akan melangkah pada wisuda dengan penyetoran skripsi sebagai syaratnya. Aku merasa berat dengan syarat itu, karena selama ini yang mengerjakan semua tugas-tugas kuliahku adalah Ema, sahabatku yang beda fakultas tapi sangat ahli di bidang hukum.  Tapi, sayangnya untuk kali ini dia tidak bisa membantu karena dia harus bertugas ke rumah sakit jiwa di Jakarta atas penelitian di fakultas psikologinya. Andaikan dulu aku tidak malas karena alasan aku ingin nahfidz dan nerjemah, mungkin aku tidak akan sebingung ini sekarang.
###
            Aku lihat semua teman-teman sudah mulai sibuk menggarap skripsinya dan mulai menemui pembimbing mereka. Aku hanya merasa semakin bingung saja. Aku tidak tahu harus memulai dari apa untuk membuat skripsiku.
            Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi pembimbingku meski aku tak punya bekal.
Aku menemui ibu Rahmaningsih di ruangannya. Al-hamdulillah, ruang sepi dari teman-teman yang ingin menyetorkan judul atau berkonsultasi pada ibu. Jadi aku punya kesempatan terbuka untuk mengadu bahwa aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk menggarap skripsiku.
“as-salamualaikum bu,...”  aku tidak tahu harus bagaimana dihadapannya. “maaf dik. Jika saya tidak bisa menjawab salammu itu. Soalnya saya tidak begitu tahu untuk menjawab salammu itu” aku tidak mengerti. Memangnya tetamn-teman kalau kesini menyapa ibu dengan sapaan apa? “ maksud ibu, gimana ya?” dengan lancang kutanyakan ketidak mengertianku itu pada ibu Rahma. “agama saya dan adik beda. Adik muslim sedang saya non muslim. Saya beragama kristen dik” ooo,.. jadi ibu Rahma bukan perempuan muslim. Sayang, padahal dia masih sangat muda dan sudah terpandang hebat, hm... tidak cocok saja dengan namanya yang Rahmah. “maaf bu. Saya tidak bermaksud untuk...” . “sudah lah tidak usah  mempermasalahkan itu. Dalam agama kita harus saling menghargai setiap orang meski tak seagama dengan kita. Jadi salam adik tidak menjadi salah atas kehadiran adik kesini” ow, cara bicaranya sangat bijak. Beliau sepertinya sangat tekun dalam agamanya. Beliau sangat pandai menghargai. Kenapa yang kutemui kebanyakan orang muslim tidak seperti beliau? Malah banyak muslim yang sukanya mencela, memfitnah dan banyak hal lainnya. Beliau yang non muslim mampu merealisasikan ajaran dalam agamanya. Meskipun kenyataannya di hadapan Allah semua itu tetaplah tak ada artinya. “oiya bu. Nama saya M. Fadhil Ilham, anak hukum. Kedatangan saya kesini kepada ibu ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa saya belum sama sekali menggarap skripsi, bahkan untuk judul pun saya masih belum punya”  ada perasaan takut untuk mengatakan hal itu. Aku harap ibu Rahma tidak akan memarahiku karena kebodohanku ini. “memangnya apa kesibukanmu selama ini sehingga kamu tidak sempat memikirkan hal yang sangat penting untuk masa depanmu ini?” ibu Rahma memandangku penuh dengan tanda tanya. “saya orang biasa yang tidak punya kesibukan bu dan jujur bu, saya tidak bisa membuat karya tulis ilmiyah. Termasuk skripsi ini. Jadi saya merasa kerepotan untuk memulai dati mana dan dengan bahan apa.” Mataku sepertinya mulai berlinang. Aku harus bertahan, aku tidak boleh menangis di depannya karena hal ini. Sangat  memalukan jika hal itu terjadi “kamu sudah pernah membuat makalah,  bahkan di fakultas hukum sudah terbiasa dengan menyusun dan latihan membuat point-point dalam pasal-pasal kenegaraan.. kenapa untuk skripsi ini kamu malah merasa kesulitan. Ini merupakan hal yang tidak rasional, kan?”  ibu Rahma sepertinya marah besar padaku. Tolol!!! Kenapa hidupku jadi seperti ini “jujur bu. Sejak saya masuk kuliah, keinginan saya hanyalah untuk menghafal al-Qur’an dan menerjemah buku. Jadi untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah baik makalah dan semacamnya saya tidak suka. Jadi terpaksa saya menyuruh teman saya untuk mengerjakan setiap tugas-tugas saya itu. Mungkin ini memang hal yang bodoh dan merugikan saya.
“yaudah, sekarang suruh saja temanmu untuk mengerjakan tugasmu lagi. Mudahkan?” sepertinya ibu Rahma mengejekku. “dia sedang bertugas bu. Jadi tidak punya waktu untyu membantu saya. Saya mohon bu jangan gagalkan saya untuk wisuda tahun ini karena tak mampu membuat skripsi. Karena saya harus kembali tepat waktu untuk mengganti abah mengelola pesantren di rumah” aku mencoba memohon agar ibu Rahma memberiku waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan skripsiku. “jadi kamu anak seorang kiai? Apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas dan memalukan” “bagi saya ini bukan hal yang memalukan. Hanya sebuah kesalahan. Baru jika saya tidak bisa baca al-Qur’an, tidak bisa baca kitab, tidak bisa menerjemah bahkan tidak hafal al-Qur’an itu yang membuat saya malu di depan santri-sntri bahkan di tengah-tengah masyarakat nanti.”akupun merasa dilecehkan. Aku memilih beranjak dari hadapan ibu “ saya tak mau berdebat denganmu. saya punya buku panduan untuk pembuatan skripsi. Kamu bisa datang ke rumah ibu nanti sore. Di sana kamu juga bisa baca kripsi ibu dulu. Ibu harap kau tidak main-main  lagi” Aku terkejut melihat kebaikannya. Aku mengangguk dan berucap akan datangi rumahn ya nanti sore.
###
            Berkat bantuan ibu Rahma, aku pun berhasil menyelesaikan skripsiku dalam jangka waktu lima bulan. Ya, aku adalah orang pertama yang menyetorkan skripsiku pada bu Rahma dan ter-acc. Aku beruntung memeliki pembimbing seperti beliau. Meskipun aku tahu, beliau berbeda agama denganku. Tapi kebajikan dan kebijakannya membuat aku jatuh hati padanya yang memang kebetulan dia masih tidak memilki pendamping hidup. Tapi, hal itu tidak mungkin terjadi padaku. kami tak seagama. Itu yang tidak mungkin menjadikan kami bersatu. Ah... mikir apa aku ini, kok malah ngelantur kemana-mana. Sudahlah, yang penting aku sudah menyelesaikan  persyaratanku untuk mengikuti wisuda tahun ini.
###
Ternyata aku menjadi peraih skripsi terbaik. Setelah acara wisuda usai, aku  bergagas mengajak keluargaku untuk mendatangi rumah ibu Rahma. Aku ingin memperkenalkan mereka pada ibu Rahma yang telah membantuku dalam penggarapan skripsiku ini. Sehingga skripsiku menjadi yang terbaik untuk tahun ini.
Setelah kami bertemu dan berkata panjang lebar, tiba-tiba abah menarik tangan kananku. Tiba-tiba aku ditampar, bahkan aku dikatakan apalah,... dan mungkin ibu Rahma mendengarkan apa yang abahku katakan padaku. Beliau hanya menunduk. Kusadari, perkataan abah memang terlalu menyakitakan. Bilang bu Rahma itu menyesatkan, bahkan parahnya abah bilang kalau ibu Rahma lambat laun akan menjerumeskanku kedalam agamanya.
Akhirnya ku jelaskan semua pada abah. Aku semakin menentang perkataan beliau. Aku memilih untuk jujur atas perasaan ku pada ibu Rahma dihadapan abah. Abah tak merestuiku, tapi aku berjanji dihadapan beliau bahwa aku tidak akan pulang ke Madura sebelum aku berhasil mengajak ibu Rahma masuk islam dan bersedia menjadi pendamping hidupku. Setelah mendengarkan perkataanku, abah pun menyetujui bahkan beliau semakin menantangku. Jika aku tak berhasil mengajak ibu Rahma sebagaimana rencanaku, maka aku akan dinikahkan dengan Faiza. Setelah itu, abah dan kleluarga pulang ke Madura.
Karena merasa sangat bersalah, aku kembali menghampiri ibu Rahma. Akupun minta maaf padanya. Ibu Rahma menangis, entahlah apa yang terjadi padanya aku tidak tahu. Aku mencoba membuat dia tenang. aku berusaha membuatnya tersenyum. Kurasa suasana sudah memungkinkan, aku sengaja menceritakan bagaimana diutusnya seorang nabi, bahkan sampai pada inti-intinya. Tangisnya semakin menjadi. Aku semakin tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ibu Rahma melihatku. “saya merasa tersentuh dengan agama yang kau anut. Selama aku mengenalmu, aku merasa ada hal yang beda pada dirimu. Beda dari kebanyakan laki-laki yang ku kenal selama ini. Agamamu sangat berbeda dengan agamaku. Dan aku merasakan kesejukan berada disisimu. Mungkin karena kamu sudah menguasai al-Qur’an atau, entah aku tak tahu...” hatiku terasa tergoncang. Aku tak percaya kenapa secepat ini beliau serasa terpengaruh dan tertarik pada agama islam. Kupikir, dengan keadaan yang seperti ini aku semakin punya jalan  untuk  mengajarinya tentang islam.
Kami memperdebatkan semua itu panjang lebar. Dari agama yang satu ke agama yang lain. Sungguh, sebuah perbedaan yang sangat indah apabila kami mmpu mengambil hikmahnya. tiba-tiba ibu Rahma memintaku untuk mengajarinya tentang islam. Aku sangat terklejut mendengarkan semua itu. Sekalian berbarengan dengan pintanya itu, aku mengatakan banyak hal tentangku juga masalah yang sedang kualami dengan abah. Termasuk aku katakan padanya tentang perasaanku. Biarlah semua itu ternilai norak, terpenting aku sudah menyatakan hatiku. Dan dengan itupun aku bersedia mengajarinya tentang islam. Ibu Rahma hanyatersenyum dan mengiyakan apa yang dari tadi aku katakan.
Setelah semua terungkap, aku pun mulai mengajari ibu Rahma dengan membaca syahadat terlebih dahulu. Lalu kuajari ia bagaimana menjadi perempuan muslimah. Seperti bagaimana dia harus memakai pakaian yang menutup aurat termasuk berjilbab. Setelah itu aku ajari ia bagaimana cara berudlu, cara membaca alQur’an juga tak lupa mengajarinya cara bersholat lima waktu yang merupakan hal yang wajib dilaksanakan oleh umat islam. . Ya, setiap hari aku mendatangi rumahnya, mengajarinya banyak hal tentang islam sebagaimana yang ku ketahui. Aku sangat kagum dengan semangatnya. Aku berharap Allah akan memberi kemudahan padanya untuk cepat memahami tentang islam. Aku juga berharap dialah perempuan yang memang Allah ciptakan untukku.
###
Sampailah pada tanggal yang ditentukan abah padaku. Hari ini aku harus pulang ke Madura, membuktikan janji-janjiku pada abah kalau aku akan membawa ibu Rahma dalam keadaan muslimah. Aku memberitahukan hal itu pada ibu Rahma. Dia kembali menangis, dia merasa  masih sangat tak pantas untuk bersanding denganku yang berstatus lora  di sebuah pesantren. “Fadhil, sebaiknya kamu pulang tanpa membawa saya. Saya masih tak tahu apa tentang islam. Abahmu tidak mungikin menerima saya sebagai menantunya. Menantu seorang kiai alim. Sedang saya hanyalah seorang perempuan muallaf. Saya tak ingin mengecewakanmu. Pulanglah Dhil, biarkan saya mendalami islam dulu.” Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan. “saya akan  lebih kecewa jika ibu tidak ikut dengan saya ke Madura”. “tapi Dil,...” “jika saya pulang tidak membawa ibu, maka saya akan dinikahkan dengan orang yang tidak saya cintai. Dan saya tak mau hidup dengan orang yang asing dihati saya bu. Tapi itu terserah ibu, saya tak mau memaksa” akupun mulai beranjak dari hadapannya. “saya ikut denganmu”. Aku kembali menoleh, setelah itu  kamipun dengan cepat  menyiapkan segala hal untuk bekal ke Madura.
###
Madura, 27 Juni 2010. Aku dan ibu Rahma sampai di halaman rumah. Kulihat abah  di dalam  mushallah. Aku pun langsung menghampiri abah. Abahpun memintaku meninggalkan abah dan ibu Rahma berdua di dalam Mushallah. Abah ingin menguji pengetahuan ibu Rahma tentang islam. Termasuk menyuruhnya mengaji dan lainnya.  Sambil menunggu, aku pun meminta pada Allah, agar semuanya berjalan dengan lancar. Dan abah merestui hubungan yang akan kami jalani. Satu setengah  jam berlalu, abah keluar dari mushallah lalu menghampiriku, “pengetahuannya tentang islam masihlah sangat belia. Abah masih tidak yakin dia mampu membantumu mengelola pesantren ini Fadhil. Hari ini juga, kamu antarkan dia pulang ke rumahnya. Abah tidak mau mengundang fitnah para tetangga karena kehadirannya” hatiku merasa teriris mendengar perkataan abah. Aku sangat kecewa, kenapa abah tidak bisa  memberi waktu pada ibu Rahma untuk lebih mendalami islam di sini denganku. ‘’abah, aku sudah berhasil mengajaknya untuk seagama denganku. Dia pun juga sudah berusaha belajar lebih dalam tentang islam. Tolonglah bah, beri aku waktu untuk mengajarinya kembali mengenal Allah lebih jauh. Aku yakin bah, dalam dirinya ada cinta untuk mulai mencintai Allah sebagai tuhannya” abah hanya menggelengkan kepalanya. Aku menunduk. Air mataku mengalir. Sungguh, atas nama Allah aku mencintai ibu Rahma. Dia perempuan yang memilki semangat yang luar biasa, baik bahkan dia juga sangat pandai menghargai. “Fadhil, dalam pernikahan itu, kita harus mengutamakan nashabnya, kecantikannya, hartanya. Dan satu hal yang terpenting Dhil, karena agamanya. Apa yang akan kamu dapatkan dari perempuan seperti dia. Baru hanya dua bulan dia belajar tentang islam. Sedangkan kamu harus cepat menikah untuk mengelola pesantren ini. Dhil, abah tidak mungkin memberikan pesantren ini pada seorang menantu yang masih muallaf”. Abah beranjak dari hadapanku. “abah, ibu Rahma sudah memilki empat unsur itu. Permasalahannya sekarang hanya terletak pada agamanya. Dia masih dalam tahap belajar bah. aku ingin menjadi imam yang baik bagi istri ku. Jadi aku janji akan selalu menemaninya dan mengajarinya lebih jauh tentang agama islam yang baru dia kenal. aku tidak akan memilih perempuan yang salah untukku dan aku yakin bah, lambat laun ibu Rahma pasti mampu menjadi menantu seperti yang abah harapkan” aku mencoba memohon pada abah untuk mempertahankan perjuanganku dengan ibu Rahma. Tiba-tiba ibu Rahma keluar dari mushallah, abah hanya melirik kami berdua. “cobalah istikharah Dhil. Mintalah jawaban pada Allah. Abah akan setuju dengan hasil istikharahmu. Tapi untuk sementara sebelum kamu mendapat jawaban atas istikarahmu, antarkanlah Rahma pulang ke rumahnya saat ini juga” abah pergi dari depanku. Aku menunduk. Aku tak ingin melihat ibu Rahma dengan keadaan mata merah.aku pun mencoba menjelaskan semua yang tadi abah bicarakan padaku. Dia mengerti. Dan aku mengajaknya kembali pulang ke rumahnya.
###
Empat hari setelah aku meminta jaweaban pada Allah dengan istikharahku atas keinginanku. Perempuan yang datang sebagai jawaban adalah Rahmaningsih Andriyani. Ya, ibu Rahmalah yang menjadi bunga mimpiku selama tiga hari tiga malam. Pula diperkuat dengan jawaban istikharahku melalui al-Qur’an.aku yakini semua itu memang sebuah jawaban yang datang dari Allah. Akupun meminta pada Allah agar semua ini adalah jawaban yang memang akan membawaku pada kebaikan, dan mampu dipercaya oleh abah.
Secepatnya aku mendatangi abah, dan kukatakan semua hal yang kudapat selama perjalanan istikharahku. Abah tersenyum melihatku yang begitu semangat menceritakan mimpi-mimpiku juga hal lainnya. Abah mengangguk, ternyata diam-diam abah juga melakukan istikharah untukku dengan ibu Rahma. Dan hasilnya bagus. Hatiku berbunga, secepatnya pula aku minta izin pada abah untuk kembali menjemput ibu Rahma untukku pinang didepan abah dan umi juga didepan santri-santri abah. Aku menciumn tangan abah dan umi sebagai doa  restu untuk ku jemput calon pendamping hidupku.
Satu hari dalam perjalanan. Akupun sampai di rumah ibu Rahma. Aku mengajaknya kembali ikut denganku ke Madura. Beliau sepertinya trauma. Tapi ku jelaskan panjanglebar semua yang telah terjadi. Bahkan aku yakinkan ibu Rahma, bahwa dalam dirinya ada keistimewaan yang tak pernah ia sadari. Ya, dia punya cinta yang dahsyat untuk belajar menjadi muslimah sejati. Selang beberapa jam setelah itu, ibu Rahmapun berusaha yakin dan mau ikut denganku lagi. Kami pun segera berangkat ke Madura.
###
Aku dan ibu Rahma sampai dihalaman rumah. Dengan cepat aku langsung membawa ibu Rahma ke mushallah. Aku panggil abah dan umi, juga beberapa santri untuk menyaksikan pertunangan aku dan ibu Rahma. Tapi sayang, abah tiba-tiba tidak menyetujui pertunangan yang akan kami laksanakan hari ini. Kecuali kami langsung melaksanakan pernikahan. Dengan hati bahagia dan penuh yakin aku katakan itu pada ibu Rahma, dan al-hamdulillah beliau mengiyakan. Karena kebetulan beliau sudah tidak punya keluarga, jadi kami panggil hakim untuk menjadi wali ibu Rahma, dan  malam itupun acara berlangsung sesuai harapan kami. Meski tidak begitu mewah, tapi kami sangat bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah pada kami.
Semua terlihat bahagia, apalagi ibu Rahma yang malam ini tampil sangat cantik dengan memakai gaun yang umi berikan. Kami pun saling melempar senyum. Akhirnya acara selesai, abah dan umi mengajak para santri untuk meninggalkan kami. Lalu aku dan ibu Rahma saling memandang, setelah itu aku mengajaknya untuk istirahat.
 

2011
                                              


Sore, Dalam Penantianku

Sore itu, akupun datangkan setangkai puisi untukmu lewat tiupan senja
Aku menunggumu diatas loteng yang biasa menjadi tempat kita memadukan cinta
Bersama persaksian burung-burung dan lembutnya awan yang bersahaja
Namun, hanya desiran angin dahsyat dan tetesan air langit yang ku punya
Dan kau tak kunjung datang
Meski sekedar layangkan sapa pada penantian panjang ini
Padahal ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu Sa,
Tentang sejatinya kata yang pernah terlontar sekaligus peralatan kata yang jua ingin aku sampaikan
Karena aku tak ingin kau tahu dengan acting takjubmu yang berlebihan itu
Bahwa kau dan aku pun ternyata harus mengakhiri rangkaian bahasa cinta ini
Kemarilah, masih ada waktu untukmu mendengarkan semua ini
Mendengar kata yang akan kusabdakan dari lubuk hatiku Sa,
Agar tak tersisa sakit ataupun penghianatan atas cinta ini
Karena ini bukan mauku
Tapi mreka,
Yang tak begitu paham bagaimana kuatnya hati mengikatmu
Marilah ke sini, hadirilah loteng indah ini sebagai persaksian terakhir tentang kita
Dan mari kita sampaikan pada loteng ini bahwa tak aka nada kita lagi untuk esok
Dan semuanya setelah ini akan usai, berakhir jelas takkan ada lagi cerita yang perlu dituliskan
Sa, kemarilah,… aku menunggumu
Datangi loteng ini
Biarlah hujan ada, jangan kau ragu untuk temui aku
Agar semua jelas dan tak ada sesal hati Sa, kemarilah…




Sepiring puisi

Bangunku siang hari
Ngantuk, semalam larut mata tak ditutup
Kira-kira jam sepuluh, bangunku
Sekolah sudah ditutup
Aku tak boleh masuk
Satpam seperti burung perkutut
Memandang ku
Aku jadi takut
Pulang saja aku
Biar ku buat alasan kegiatan belajar ditutup
Pada ibu atau yang lain
Biar tak ada marah
Dan luka memerah karna pukulan amarah.
Lalu tidurku akan diperpanjang, ideku
Nyatanya kabar mendahuluiku, pada ibu
Sampainya di pintu rumah, aku disambut
Terlontar sepiring puisi dari ibu,
”Pergi, buatku berwajah malu”
Aku terkejut
Lari ku jadi, berpuisi juga
”Aku tak sengaja ibu’
Tak bermaksud aku mencipta puisi itu,
Aku tak lapar
Jika ternyata sepiring puisi mu
Menjadikanku pergiku,
Dari sisimu
Sekali lagi aku tak bermaksud...


SENANDUNG HATIKU

Berikan aku sedikit jawaban
Agar pasti adamu atau tidak
Karena aku tak mampu tuk selalu berhadap
Dengan waktu yang terus menggelisahkan ku
Cukup! Kau buat aku bingung!!
“Sebagai seorang perempuan, seharusnya engkau menjagaku. Kenapa malah sebaliknya, engkau akan menghilang?” 
“ aku tak kan menghilang sayang... aku hanya butuh waktu untuk mendapat pekerjaan yang lebih menjamin akan kehidupan keluarga kita nanti. Untuk membiayai sekolah Raffi juga Ega. Dua atau tiga tahun aku pasti kembali”.
“ pekerjaan mas yang disini sudah cukup kok mas kalau hanya untuk membiayai mereka!”
“ Dek, marilah kau mengerti. Semakin hari kebutuhan kita akan bertambah, dan kita tidak bisa selalu bergantung pada pekerjaan mas yang hanya jadi sopir taxi ini...”
“ yasudah, itu terserah padamu. Aku tak memaksamu untuk ada disini bersama keluarga!”
“ kalau begitu, kenapa kau masih terlihat marah sayang...?”
“ mas, anak-anak butuh kamu. Jadi...”
“ ok! Baiklah. Aku hanya setahun disana. Gimana?”
Terpaksa aku mengangguk secara perlahan, sesungguhnya aku tak pernah rela atas keputusannya untuk pergi. Tapi mau bagaimana lagi, alasan ku tak mampu membuat ia tetap bertahan disini.
“ terimakasih sayang,... aku pasti selalu merindukanmu dan anak-anak. Dan mas janji akan datang tepat waktu. Mas berangkat, jaga dirimu baik-baik. Cintaku untukmu”ucapnya, lalu ia pun pergi meninggalkan segala yang ada.     
Itulah percakapan ku denga mas Ridwan sembilan bulan lalu... percakapan orang tua yang mempermasalahkan hidup anak-anaknya di masa depan nanti. Sungguh aku merindukan Mas Ridwan.
                                                                ΩΩΩ
Aku hanyalah ibu rumah tangga yang kebetulan di karuniai dua orang anak yang harus ku pertaruhkan masa depan mereka. Karena itu amanah, dan aku harus bertanggung jawab atas semua itu.
Raffi, anak lelaki pertamaku yang sudah duduk di bangku VII smp, dan Ega yang masih ada di bangku enam SD. Mereka yang begitu patuh membuat aku tak susah jalani hidup meski tanpa hadirnya mas Ridwan disisiku untuk mereka.
Seakan hari aku jalani tanpa rasa khawatir pada keadaan kami yang hidup tanpa seorang imam keluarga. Terikasih Allah, karena Engkau telah menjadikan indah hari-hariku dengan anak-anak. Indahkan lah pula hari-hari mas Ridwan disana, aku tidak ingin dia melarat karena mempertaruhkan hidup kami ini.
                                                                  ΩΩΩ
Sekian lama dari kepergian mas Ridwan keluar kota, membuat anak-anak bertanya-tanya karena ketidak datangannya yang sudah tiba pada waktunya.
“ ya, mama juga ingat itu Raffi. Entah mama juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini hand phone bapak mu tidak aktiv. Atau mungkin bapak mu masih belum bisa di ganggu karena kesibukannya”  jelasku pada Raffi
“ setidaknya bapak ngasih kabar ma ke kita. Agar kita tahu bagaimana keadaannya di sana. Atau mungkin bapak memang sudah melupakan kita?” aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Raffi.
“ hush... tidak boleh ngomong begitu! Bapak sangat menyayangi kita semua, jadi tidak mungkin dia mengabaikan adanya kita. Percayalah Raf, jangan berpikiran kayak gitu lagi ya...biar nanti mama cari kabar ke tetangga yang lain, yang juga kerja ditemapat bapakmu”
“ bukan gitu ma, Raffi hanya tidak mau aja mama kelamaan nunggu hadirnya bapak. Yaudah kalau gitu semoga mama cepat dapat kabar tentang bapak” tegasnya. Lalu ia pergi dari hadapanku.
Aku berpikir sejenak, ku rasa apa yang dikatakan Raffi ada benarnya juga. Tapi tidaklah, mas Ridwan tidak kan setega itu padaku. Karena aku tahu, kami saling mencintai. Dan itupun sudah kudengar sendii dari mas Ridwan.
                                                                   ΩΩΩ
Aku akan mencoba datangi Rendi, teman mas Ridwan yang baru saja datang dari luar kota tempat ia bekerja. “assalmulikum…” suara dari luar pintu. “waalaikum salam warahmah” jawabku smbil membuka pintu itu. Rendi. Ternyata dialah pemilik suara diluar pintu itu. “kebetulan Ren, aku memang berencana untuk ke runahmu. Memang ada apa Ren kok jadi kamu yang kesini?”. “aku hanya ingin menyampaikan pesan Ridwan kepadamu”. “kebetulan, aku mau  ke rumah mu untuk menanyakan kapan mas Ridwan akan pulang Ren…” ada yang terlihat beda dari sikap Rendi melihat ku saat itu, atau adakah sesuatu yng dirahasiakan dariku tentang mas Ridwan?”. “ Ratna,.. aku tidak tahu soal itu. Aku hanya disuruh untuk sampikan bungkusan ini kepadamu. Yasudah kalau begitu aku pulang  dulu. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan”. “terimakasih Ren..” setelah kuterima bungkusan titipan dari mas Ridwan, aku pun masuk rumah dan tak lupa ku tutup pintu. Aku coba duduk di ruang tamu sambil membuka bungkusan dari mas Ridwan. Hahm… mas Ridwn sangat menyayangi kami. Buktinya meski ia hampir pulang masih saja menitip oleh-oleh pada kami.
                                                                    ΩΩΩ
Inikah alasan dia tak ingin pulang tepat waktunya
Tak mengabariku yang telah lama berselimut sepi tanpanya?
Allah… aku tidak percaya jika hal ini benar-benar terjadi pada keluarga kami. Karena kami tahu kami saling percaya dan mencintai… sungguh kurasa sangat mustahil jika mas Ridwan setega ini padaku, memaduku. Apa salahku hingga membuat dia berpaling dari apa yang sudah Ia punya, mungkinkah karena adaku yang serba sederhana ini, membuat ia lebih memilih untuk berpaling pada keadaan perempuan yang lebih  sempurna?
Air mataku mengalir deras setelah suratnya ku baca berulang kali. Tetapi, secepatnya aku hapus air mataku agar anak-anak tidak mengetahui semua kejadian ini. Aku hanya tak ingin mereka merasakan  sakit yang telah aku rasa ini. Cukup aku yang menanggung, tersiksa dengan sendiriku…
Hmm… sungguh maafkan aku Allah jika apa yang terjadi ini hanyalah merupakan  kesalahan ku yang tak mampu memberikan yang tebaik pada mas Ridwan. Tapi cukup Allah, kurasa aku sudah benar-benar berusaha untuk menjadi perempuan yang sempurna bagi dia, suamiku.
“ ma…” suara Raffi terdengar dari kamar sebelah. “gimana ma, udah dapat kabar tentang keadaan bapak?”. Se cepatnya aku simpan surat dari mas Ridwan itu. “ udah syang… mama dapat kabar dari istrinya om Rendi, kalau bapakmu baik-baik saja. Dia tidak dapat pulang cepat karena banyak kerjaan, eman-eman Raf…” ku palingkan alasan yang sebenarnya dari Raffi. “tapi kenapa mama seperti habis nangis?”Tanya Raffi sambil menatap wajah ku yang sudah memerah ini. “ mama hanya menghawatirkan keadaan  bapak sayang, merindukan hadirnya dengan kita di sini. Cuma itu kok ”. “mama yakin tidak kenapa –napa?” Raffi memelukku, “ma, Raffi selalu ada kok untuk mama, jadi mama tidak usah merasa sendiri. Apalagi kan ada adek yang selalu meramaikan suasna, jadi mama jangan sedih lagi ya…” aku tatap wajah Raffi yang masih terlihat polos itu. Ada kesedihan yang tersirat disana. “yaudah, mama istirhat dulu, Raffi masih mau ngelanjutin tugas untuk besok ya ma,..”  lalu dia pun beranjak dari hadapanku. “ ma,…” tak lama dari kepergian Raffi, Ega datang menghampiriku. “ada apa sayang?” aku memeluknya dengan hangat kasih ini. Lagi-lagi aku menangis dipelukannya, sungguh aku terjerat dalam paksa rindu ini… hah, aku rapuh! “ lho… kok mama nangis?” aku cepat hapus air mataku. Sungguh aku tak ada maksud untuk enjadi ibu yang lemah bagi mereka. Karena dengan menangis akan membuat mereka pun rapuh.  “mama hanya ingin menangis sayang, tidak ada keinginan lain kok. Yaudah sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar, istirahat sayang. Mama juga akan istirahat”. Ega pun menuruti pintaku, aku pun memilih untuk beranjak untuk rebahkan tubuh di kamar. Meski pada kenyataannya aku tak kan mudah bisa tutup mata ini.
                                                                 ΩΩΩ
Sebulan setelah aku coba hidup lagi dengan hatiku yang dulu, mencoba kembali pada bahagiaku yang damaikan banyak orang. Nyatanya gagal total! Ironisnya semakin parah,  aku lebih suka marah-marah pada anak-anak, bahkan mereka sering nangis karena merasa tersakiti dengan kata-kataku yang menurut mereka sudah keterlaluan. Aku jadi bingung dengan apa yang seharusnya aku bersikap sekarang.
Allah, tolong tunjukkan padaku jalan Mu, agar aku bisa kembali menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Karena aku mencintai mereka Allah,... aku tak ingin dengan kejadian kurang ajar ini ngebuat mereka frustasi. Karena kekanakan mereka yang masih membuat aku ragu tuk katakan hal yang sebenarnya terjadi ini.  
Aku lebih memilih diam untuk menanggap setiap tanya yang kan terlontar dari anak-anakku nanti, tak lain tanya tentang bapaknya yang sudah memalingkan hati dari kami.
Cukuplah ini sebagai ujian bagi seorang aku ynag masih kurang paham menghidupi keluarga tanpa seorang imam. Aku yakin dibalik dukaku ini, ada bahagia yang melambaikan tangan. Dan aku pasti akan merasakan itu, meski masih aku tak tahu kapan akan kurasakan itu, bahkan mungkin sesampainya ajalku nanti. Agar sekalian luka ini aku bawa kubur saja dengan jasad dan bathinku yang telah terkoyakkan oleh perasaan yang terlalu sempurna aku punya.
Perempuan yang seharusnya dijaga, nyatanya dengan gampag dilontarkan dijalan yang meng-ambigukan hati,..
Mencoba aku buktikan pada setiap yang punya hati
Bahwa masih ada perempuan yang ingin menguatkan diri
meski hati dan perasan yang telah dirapukkan oleh lelaki tak berhati
karena tak semua perempuan mengalah dengan sendiri tanpa suruh hati
Allah, izinkan aku untuk menjadi perempuan yang kuat. Perempuan yang mampu menyongsong masa depan anak-anakku meski tanpa seorang lelaki yang dulu mengaku mencintaiku. Suamiku.
Izinkan aku tetap dalam jalan kesabaran dari-Mu ini Allah, agar aku tetap mampu menyatukan hati untuk mencintai-Mu. Mencintai Engkau yang senantiasa akan kembalikan hati suamiku pada hati kami lagi, bukan niatku untuk menagih Engkau agar di Engkau kembalikan ke pelukannku. Tapi satu hal, demi ank-anak agar tidak selalu mempertanyakn adanya. Karena sampai kapanpun mereka akan tetap menunggu bapaknya yang sudah terlanjur mereka cintai. Meski nyatanya sakit adalah sebagai makanan setiap hari-hariku. Aku akan siap menerima resiko itu, demi yang tercinta, Raffi dan Ega. Amanah yang Engkau titip padaku dan pada suamiku, beberapa tahun setelah cinta kami kau Ridlai ini.
Dn aku putuskan untuk tetap bertahan di sini, di keluarga Ridwa Gunawan. Sampai kapanpun itu, kecuali jika nanti mas Ridwan datang dan mengusirku dengan tangannya sendiri. Maka aku akan pergi, tapi aku tidak yakin dengan itu. Karena sampai saat ini, hatiku berkata mas Ridwan tetap mencintaiku, juga pada anak-anak.
Aku menungumu, mas Ridwan. Suamiku... cepatlah kasih kabar dengan hatimu yang mencintaiku, dan kembalilah...

* perempuan yang terlanjur tulus mencintai adamu





Maafkan Aku Cinta
“ Seandainya dari dulu kau katakan itu padaku, maka sakit ini tidak akan terasa sedalam mungkin “
            Itu ucapan terakhir dari Aura setalah aku menceritakan semua yang sebenarnya telah terjadi diantara kami. Bahwa aku mencintai dan mengakuinya sebagai kekasih hanya sebagai  alasan agar bapak tidak menjodohkanku dengan Reina, sepupuku sendiri. Aku sadar aku telah menyakitinya, aku telah memberi ia harapan yang kosong. Ya, aku lelaki pecundanng, tapi aku rasa semua itu bukan sepenuhnya inginku, aku lakukan itu juga karena perintah Raihan, mantan tunangan Aura yang igin membalas sakit hatinya melewatiku, orang yang kebetulan dekat dengan Aura.
            Aku tahu tindakanku sangat bodoh, aku sesali semua itu. Tapi sayang untuk menyesali dengan memohon maaf pada Aura sudah terlanjur lambat, Aura keburu pergi, dia sudah tidak tinggal di sini. Entah, akupun tak tahu lagi kemana perginya. Untuk menanyakan hal itu pada omnya aku merasa tak enak, karna aku tahu omnya sudah membenciku gara-gara aku menyakiti Aura. Ah! Semua ini salahku…
@@@@@
Setelah beberapa bulan dari kepergian Aura, bapak kembali memaksaku untuk bertunangan, tapi bukan lagi dengan sepupuku. Melainkan dengan anak sahabatnya di kantornya. Hufh… lagi-lagi aku kebingungan mencari akal apalagi, aku jadi ingat pada Aura. “ Zi, sepertinya kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak permintaan bapakmu ini “ bapak menyadarkanku atas kebingunganku. “ Ehm,.. Zi.. “ tiba-tiba aku tak bisa ngomong apa-apa. “ Sudahlah kamu harus menerima pertunangan ini “. “ Tapi pak,”. “ Zi, Aura sudah putus denganmu, jadi apalagi alasanmu untuk menolak permintaan ini? “ Entahlah sudah tak ada alasan lagi untuk menolak apa yang bapak perintahkan. “ Ingat Zi, orang tua itu mau yang terbaik buat anaknya, bapak yakin setelah nanti kamu tahu sama wanita pilihan bapak kamu akan berterimakasih pada bapak “ Bapak berusaha meyakinkan atas apa yang ia katakan. Dan aku hanya bisa menundukkan kepala. Ku tk cukup betrani untuk membantahnya, hah... padahal ini sudah zaman modern. Masih saja ada perjodohan kayak gini. “ Yasudah kalau gitu besok kamu ikut bapak ke kantor, karna bapak sudah atur pertemuannya. Bapak harap kamu tidak akan mempermalukan bapakmu ini “ setelah itu bapak pergi, aku tak bisa mencegahnya.
Aku merasa ada yang menghantamku. Aku serasa sangat sakit atas permintaaan bapak ini. Tiba-tiba kurasa ada yang aneh dengan hatiku, banyangan Aura tiba-tiba hadir. Jujur aku ngerasa ada sesuatu menguasai hatiku. Aku ingin Aura kembali hadir  disisiku, menemani segala apa yang kurasa. Tidak sebagai pacar bohongan, tapi seseorang yang benar-benar akan aku cintai. Agh,... tidak. Aku yakin semua ini hanya kebetulan saja! Aku tidak mungkin bisa mencintainya, ini hanya perasaan yang salah, mana mungkin aku mencintai orang seperti dia. yang masih sangat kanak dan manja. Dan  aku tidak suka dengan itu.
@@@@@
Aku kembali membuka agenda kecilku yang sempat dilukis oleh oretan tinta Aura, entahlah! Tiba-tiba aku begitu ingin membaca bahasa yang pernah sempat tercipta saat kami lalui hari bersama.
            Aku tau malam hanya sementara
            Sebentar lagi fajar akan menhapus semua
            Termasuk para bintang dan rembulan
            Dan di situ pagi akan tiba.
            Lalu di sana kita tebangun kembali
            Berdzikir saat subuh hadir sebagai tanda akhir malam
   Dan tanda atas cinta kita
            Cintaku, dan cintamu Ziad. Cinta yang takkan pernah ada penghujungnya...
Tanpa kusadari  air mataku berlinang, aku baru menyadari cintanya yang tulus. Maafkan aku Aura. Sungguh, seandainya perasaan ini hadir dari dulu untukmu, maka aku akan sepertimu. Mencintai dengan tulus dan berusaha mempertahankan kamu dalam hatiku. Tapi sayang semua itu nyaris tidak ada, perasaan ini terlambat...
            Aku bangkit dari tangisku, aku baru ingat kalau hari ini aku harus ikut bapak ke kantornya. Yah, saatnya aku menemui wanita pilihan bapak. Mungkin dengan cara ini aku akan lebih mudah menghapus bayangan Aura.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya aku sampai di kantor bapak. Aku lihat ada wanita berdiri di dekat ruang tamu, mungkinkah dia wanita pilihan bapak?
            Sepertinya kulihat ada bayangan Aura. Tapi tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja yang masih tidak bisa melupakan Aura. Yah, wanita yang akan ku temui ini bukan Aura, tapi Auril. Wanita pilihan bapak untuk menjadikan dia seorang perempuan yang senantiasa mendampingiku, juga hatiku nanti. Aku tahu, semua ini hanya terpaksa. Tapi sudahlah aku akan terima ini apa adanya. karena aku yakin, aku mampu belajar mencintainya. Menggantikan posisi Aura yang dengan tiba-tiba menempatinya terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit ku pikir semua itu, akhirnya akupun menerima pertunangan itu, aku coba menebar senyum meski rasa ini terlalu sakit. Tiada lain aku lakukan ini sebagai rasa pengabdian pada orang tuaku. Kapan lagi kalau bukan sekarang... karena aku memang tidak mempunyai apa-apa untuk bisa aku persembahkan lagi untuk beliau. Selain dengan cara seperti ini.
            Akupun diperintah mengajak Auril keluar oleh bapak. Dengan rasa patuh sebagai anak atas perintah bapak, aku mengajak Auril setelah perkenalan itu terjadi. “ ehm, ngomong-ngomong kamu udah semester berapa Zi?” tanya Auril menepis sunyi saat itu. “ aku semester tiga. Kamu ?’ aku mencoba membuka mulutku untuk menjawab tanyanya. “ kok sama? Oya, kamu kuliyahnya dimana dan fakultas apa ?” “ Universitas Unijoyo, aku ngambil jurusan Psikologi “ semua terasa tak berat kujalani dengan Auril, tidak seperti yang kubayangkan.yah, ternyata dia asyik juga sebagai teman bicara. Setelah beberapa jam dari kejadian itu, kami pun sudah terasa sangat akrab, kami bercanda layaknya kawan lama. Entahlah, aku pun kurang tahu kenapa dalam sekejap bayangan Aura ternyata tak lagi menghantui pikiranku. Aku harap semua ini akan menjadi awal yang indah... meski ternyata hal yang seperti ini tidak pernah ku inginkan sebelumnya. Yah, melupakan  Aura bukanlah keputusan yang membahagiakanku. Karena aku lama bersamanya, aku mencintainya. Dan aku ingin ia menjadi penghibur hatiku.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Auril mengagetkanku. “Aku tidak apa-apa“ aku jawab seadanya. Setelah itu aku memilih tuk berlalu... aku mengajaknya pulang, karna kurasa hari sudah cocok tuk istirahat.
@@@@@
Ada yang terasa perih disini, di tempat penyimpan rasa. Serasa aku tak lagi mampu memaknai kehidupanku sendiri. Atau aku yang tak mampu menjadi orang yang tegas pada diri ini. Termasuk  pada perasaanku.
       Satu minggu setelah ta’arufanku denganya. Tepatnya dari kejadian itu aku pun mencoba menerima Auril dalam hatiku, meski aku tahu semua itu sama sekali tak terlintas dalam benakku.  Sama sekali tidak aku inginkan. Tapi apalah daya semua harus tetap kujalani serbagaimana mestinya, aku sebagai lelaki harus tegas menghadapi kenyataan ini. Tepatnya akupun harus memenuhi pinta bapak, untuk menikahi Auril secepatnya. Sekali lagi menikahi Auril, bukan Aura seorang gadis yang baru ku sadari aku mencintainya.
@@@@@
Senin, 20 januari 2008
Aku dan keluarga siap-siap untuk ke rumah Auril. Aku akan mengikat ajab qabul pada nya. Aku akan menjadi suaminya.
Setelah sepuluh menit dalam perjalanan, aku dan keluarga sampai di depan rumah Auril. Banyak tamu di sana, aku jadi kembali gemetar. Hah, semua sudah sampai pada waktunya. Akupun sanggup untuk melupakan Aura, semua demi kebahagiaan keluarga ku nanti. Di persimpangan pikiranku yang bingung, tiaba-tiba kudengar ada yang memanggil namaku. Aku mencoba menoleh kebelakang, “Aura” tiba-tiba suaraku memecah... “ ya, ini aku Zi..” ucap Aura menyadarkan ku. Aku pamit pada bapak, aku suruh mereka untuk kedalam terlebih dahulu.
“ secepat itukah kau melupakanku Zi? Padahal...” aku cegat omongannya  “ aku tak pernah mau menjadi orang munafik Ra. Jujur, ku kira kau yang membuang aku begitu saja setelah kau tahu bahwa ternyata aku tak pernah berniat mencintaimu, bahkan sempat ku ucap bahwa kau hanya sebagai persandiwaraanku agar aku tak dijodohkan dengan sepupuku” jelasku pada Aura yang masih dalam keadaan berta-tanya atas apa yang terjadi padaku sekarang. Aku pun juga kurang tahu kenapa dia bisa ada di sini. Sungguh, aku btidak tahu harus bersikap bagaimana dengan keadaan ini. Aku tak mampu berpikir dan bertindak bijak dalam hal perasaan. “maafkan aku Zi, aku pergi bukan niat meninggalkanmu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku yang sempat kamu sakiti ini. Agar suatu saat nanti aku mampu menerimamu kembali sebagai teman baikku” jelas Aura. “tapi dengan tindakanmu itu membuat segalanya berantakan Ra’. Aku kembali dijodohkan dengan anak sahabat bapak di kantornya. Dan terpaksa aku harus menerima semua itu. Bdan hari ini mengikat ajab qabul padanya”. “dan perempuan itu adalah saudara kandungku sendiri. Kenapa harus dia? Tidak adakah orang lain yang lebih pantas untuk kau cintai selain dia?” memang aku lihat ada intik kasih yang biasa perempuan tumpahkan, yah... air matanya melebur sambil memandangku. Aku tak sampai hati, sungguh perasaan ini masih terlalu dalam ada dan terasa untuknya. Masih aku rasakan cinta untuk dia. Aura, perempuan yang dahulu sempat temani hari-hari yang memang salahku menjadikan semua itu hanya sebatas sandiwara.  Andai semua itu tak terlalu munafik tuk ku  balik arah, maka aku akan beranikan diri untuk kembali memintaya bersamaku. Tapi, hah... tak mungkin aku lakukan itu, aku tak mau kembali menyakiti hati perempuan. Auril akan sakit, jika aku kembali berpaling pada perempuan ku yang dahulu. Aku harus menjadi lelaki yang tegas, memilih salah satu dari mereka untuk aku cinta. Tidak dua-duanya, karena sampai kapanpun itu tidak akan bisa. Dengan separuh luka dihati, aku harus melepaskan cintaku. Melepaskan Aura demi segala hati yang telah terlanjur bahagia beberapa hari ini de ngan keputusan yng aku perbuat. Aku tak mau mengecewakan bapak juga Auril... “maafkan aku Ra’,..” aku langsung pergi dari hadapannya. Memalingkan hati agar tak punya kesempatan tuk kembali memberi harapan tuk mencipta kasih yang lebih dalam.
Maafkan aku cinta,... 
Memilih dia bukan berarti melupakan kamu, aku lebih mencintai adamu, sejujurnya...
Tapi hanya saja aku harus lebih mampu menjaga banyak hati...
Hati mereka yang telah bahagia dengan apa yang hendak terjadi hari ini, aku tak mau mengecewakan... hanya itu.. Ra,.. biarlah kau hadir dengan status cinta kita sebagai kakak adek ipar...



Guluk-guluk,09 Oktober 2010


Pengemis sejati

Cari makan tuk hidupi diri
Terlonta ke jurang, nasib sial. ada saja gangguan bagi yang usaha
Jatuh, terpeleset bahkan dipelesetkan dari ruang hidup
Itulah seorang diri yang masih tak menemui jati diri
Atau Ia hanyalah kebingungan dalam menafsiri kisah sejati
Merongronglah!
Celotehkan segala pinta pada mereka yang punya
Biar kau di beri bebas jalan untuk kau menuju jalanmu sendiri
meski tak dengan cinta kau kembali dari kelanamu itu…
karena kau memang sedang di bujuk mimpi

                                                 ANDAI

Abadinya Dia
Baharunya aku
Adalah tanda kuasa
Yang memang harus ditahu banyak manusia
Bahkan segala yang tentu harus binasa
Agar tak ada keterkejutan hati bila esok tiba ajal yang meminta
Andai, pantas aku meminta pada Nya pemilik segala
Ingin ku perpanjang hidup, menikmati dunia dengan sejatinya
Andai, aku tak jadi murtad meminta pada Nya
Ingin aku rubah jelang siang pada malam
Agar semakin aku punya waktu istijabah pertobatan…
Nyatanya sampai sekarang segala hanya tinggal andai
Karena aku tak pernah kata dan tak pernah ku minta itu padanya
Aku tak ingin bahasa jadi janggal…
Cukup aku mengerti bahwa Dia telah mencipta alur dari sepanjang hidup mahlukNya…

-        + kehidupan

Cerita hidup dengan vitamin A
Menyegarkan mata
Menyejukkan hati
Menyehatkan segala sendi
yang terkonteofeksi dengan vitamin adanya
menangis, dengan hadirnya sedih, merupakan partikel kekuatan bagi yang membutuhkan
keluarnya zat cair menjadi sebab mata terasa kembali bersih dengan cuciannya
hidup dengan cinta dan duka…
cinta dan duka menjadi sebab lahirnya rumus -+ kehidupan…

Template by:

Free Blog Templates