Thursday, October 6, 2011


PEREMPUAN DALAM KHAYAL
Bidadari surga. Malam itu seakan benar-benar menghampiri dunia nyataku, bidadari yang Sempat membelai lembut rambut hitamku dengan jemari lentiknya. Pula senyum terindah yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun. Bidadari yang tiba-tiba pula mengintip pesona hatiku yang dalam keadaan bergemuruh. Entah kenapa harus aku yang rasakan itu, Padahal aku bukanlah laki-laki sempurna yang pantas dihampiri para perempuan yang tak cukup dikatakan sederhana. Bidadari itu… sampai saat ini tergiang jelas di otak kananku. Wajahnya yang bak rembulan seakan ingin menjatuhkan aku dari setiap mimpi-mimpi malamku. bidadari itu, benarkah kau memang ada dan hadir untuk seorang aku?
@@@
Aku, seorang laki-laki berusia sembilan belas tahun. Pemilik hati yang tak pernah tersapa oleh lembutnya salam ibu. Sebab aku ditinggalnya sebelum aku tahu bagaimana kabar dunia. Dia memang tak meninggal, pun bukan tak sadarkan diri dari koma. dia hanya berkehendak sendiri untuk meninggalkanku setelah aku terlahir, lalu ia menitipkanku pada ayah. Satu-satunya hati yang kupunya. Kabarnya, ibu lebih memilih untuk bersama Adam lain selain ayah. Entahlah, apa yang menjadi sebab ia begitu tega menelantarkan aku. Sampai saat ini akupun tak pernah tahu seperti apa wajah cantik yang ia miliki.. Mungkin dia alpa, kalau di sini ada sepotong jiwa yang merindu hangat belaian seorang ibu. yang kata banyak orang kasih terhebat adalah miliknya. yang kata banyak orang pemilik cinta tertulus di dunia. Lalu bagaimana dengai ibuku? Bukankah dia juga bagian dari perempuan indah itu?
Sebab itu sampai saat ini aku tak pernah menyentuh sapa para perempuan sebagaimana laki-laki wajarnya. Aku hanya tak ingin bayang ibuku menghantuiku kembali, aku tak ingin membencinya dengan segala kenangan yang selama ini aku punya. sebab aku tahu, ibu dan segala yang telah dia korbankan selama aku di rahimnya, takkan pernah mampu menjadi alasan yang akurat untuk aku jatuh benci padanya. bagaimanapun dia, akupun tetap terlahir karenanya.
Aku menjalani hidup seperti biasa. berdua dengan ayah yang setiap hari menghabiskan waktunya di kantor. yah, dia terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar hati yang aku punya. tapi sudahlah, aku cukup memahaminya, bekerja adalah alasannya untuk terus menghidupiku.
@@@
Hingga tiba saat itu, saat semua yang mengakar di jiwaku tentang perempuan tertelan sudah. Sebab dia. Rikza Amalia. perempuan yang menyediakan jiwanya untuk teduhku, perempuan yang mematahkan segala kecewaku tentang wanita. Status kakak tingkat serta usia lebih tua yang ia sandang tak mampu menyurutkan segala yang terlanjur ada. Aku telah jatuh terlalu dalam, pada jiwanya yang terlampau indah untuk kuacuhkan. meski aku masihlah ragu, itu jugakah yang ia rasa? tiba-tiba rasa takut untuk mencintai dan mengenal perempuan menghilang begitu saja dari hatiku. Tak ada ragu sedikitpun. aku berani katakana ini adalah cinta, sebab aku tak pernah rasakan ini sebelumnya.
Maka tak ragu, kubuang segala kenangan pahitku tentang perempuan. Sebagai laki-laki aku harus  berani menyatakan rasaku. Porsi kebersamaan yang kami punya membuatku akan lebih mudah menyatakan semua. hah, menyesal mengapa rasa ini baru hadir? Mengapa tak dulu, sebelum trauma ini berkepanjangan? Hmh, Rabb...diakah bidadari yang sempat hadir dalam mayaku beberapa waktu lalu? bidadari yang seakan-akan nyata?
@@@
Kami pun dekat, ada rasa yang semakin meyakinkanku. Di sini, di hati terdalamku. dan aku pun yakin dia juga memilki perasaan itu.
“Alif, bagaimana dengan semester yang akan kamu hadapi minggu depan? sudah ada planning untuk belajar?” Rikza merealkan perhatian itu padaku.
“Hm… sebagai seorang pelajar, belajar bukanlah sekedar planning. tapi kewajiban” aku menjawabnya datar.
“Aku suka dengan cara bicaramu yang bijak itu, ajari aku memilki sikap itu, Alif” aku tersentak mendengarnya. akupun membalas perkataannya dengan senyum. senyum harapan yang tak pernah aku tawarkan pada yang lainnya. dia membalas senyum ku saat itu mata kami bertemu. Tatapan itu, menyiratkan harapan yang teramat dalam..
@@@
Setelah semua hampir menginjak sempurna, aku pun yakinkan hati untuk menyatakan semua pada ayah, agar dia bersedia memintanya untukku.
“Alif, ada yang ingin Ayah bicarakan” ayah tiba-tiba muncul dari ruang depan lalu duduk tenang di sampingku. Ada yang berbeda dengan sinar di wajahnya sore ini. Cerah dan terlampau tenang. Sedikit merasa aneh, sebab nyaris tak pernah Ayah membicarakan sesuatu yang serius denganku. Bahkan aku sempat berpikir aku tak cukup dewasa untuk mengetahui apapun tentang Ayah. Sebab ia terbiasa menyimpan semua sendiri. Entah ada apa sore ini,.
 “ada apa yah?” tanyaku tak sabar
“ayah igin tau pendapatmu, bagaimana kalau..” ayah terlihat ragu “ayah memberimu Ibu baru” mendengar hal itu, tiba-tiba hatiku bergidik. Siapa perempuan yang berhasil menggantikan posisi ibu di hati ayah? Bukankah ibu terlalu berarti? Hingga Ayah memilih  tetap sendiri selama Sembilan belas tahun? Kalau begitu, perempuan pilihan Ayah tentu istimewa atau mungkin ayah  telah terlalu capek dengan kehidupannya yang sendiri. Bagaimanapun ayah selalu butuh tempat untuk berbagi, mencinta dan dicintai. Jadi,  tak ada alasan aku merlarangnya.
“Itu terserah ayah. yang penting perempuan itu mampu menyayangi ayah dan merawat ayah dengan baik. Alif mendukung. siapa perempuan itu yah?”Ayah tersenyum hangat mendapati respon positifku. Hm, lama tak kudapati senyummu, yah…
“sebentar lagi dia datang, ayah sudah janji untuk mempertemukan kamu dengannya” aku mengangguk yakin. Akan ada jiwa baru yang mungkin akan menjadi pelangi di rumah ini.
 “hm, yah..apa dia sudah tau tentang keadaan ayah dan aku ?“
”ayah sudah menceritakan semua. dan dia bersedia menerima ayah apa adanya” jawab ayah tanpa ragu sedikitpun.
tiba-tiba  bel  pintu berbunyi, pasti perempuan itu !. Calon ibuku !. Aku melirik wajah ayah, ia memberi isyarat agar aku bergegas membukakan pintu. Lekas kulangkahkan kaki menuju pintu dan betapa kagetnya aku mendapati wajah bidadariku berdiri mematung di depan pintu. Rikza Amalia, perempuan yang menjadi bunga dalam setiap waktuku bersama malam.        “Hei, k-kau..ada perlu? atau ada tugasmu yang perlu kita diskusikan?” oh, aku terlalu surprise melihatnya menemuiku. Hingga lupa mempersilakannya masuk. Tunggu. Aku menangkap perubahan seketika di wajahnya. Wajahnya tiba-tiba pucat dan tegang.
 “Ternyata  kamu sudah mengenal calon ibumu, Alif” ucap ayah seperti petir menyambar sekujur tubuhku. aku harap aku hanya salah mendengar.
“maksud ayah?”.
“Yah, ini dia perempuan yang ayah pilih untuk kau jadikan ibu. Gimana, cocok kan dengan ayah?” ayah tersenyum bahagia. Seluruh tubuhku tiba-tiba kelu. Senyum hangat ayah tiba-tiba seperti seringai yang menertawai ketololanku. Langit yang bersinar cerah tiba-tiba kelam, sekelam mimpi yang selama ini berani kurajut sendiri. Bagaimana mungkin? Ahh…Aku menatap wajah Rikza. Mencoba mencari kesungguhan di bola matanya. dia berpaling dari tatapanku. Tega kau, za !! Jadi, kedekatannya denganku selama ini hanyalah karena ia menginginkan ayahku ? ayahku ? bukan aku !. Aku benar-benar seperti terlempar. Terlempar ke jurang gelap yang teramat terjal. ternyata benar. Tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan mereka. Tak kuhiraukan panggilan bingung ayah yang berusaha menahan langkahku. Aku harus berlalu dari semua ini. Tak pernah sekalipun terbayang, cintaku terbalas atas nama cinta seorang ibu. Ibu yang mencintai Ayahku. Aku akan terus berlari, entah akan berujung kapan dan di mana…
@@@
Dan sampai saat ini, aku masih tak ingin kembali. Biarlah mereka tenang tanpaku. Biarlah sakit ini aku yang tau. Aku telah terlalu biasa. Akupun tak lagi tahu kabar ayah, begitupun kabar Rikza. perempuan yang sempat kucinta. Ternyata mimpi itu benar-benar sekedar mimpi. dia bukanlah bidadari yang nyata untukku..Hm, tak semua perempuan begitu kan Rabb ? kalau begitu, mohon, pertemukan aku dengan bagian dari keindahan mereka..
                                 Istana Cinta Lingkar pena

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates