“Gerimis
ini mengisahkan tentang kita, ia menceritakan masalalu yang membuat kita
sama-sama terlupakan. Aku memiliki dia dan kau memiliki yang lain. Seperti tak
pernah ada cerita cinta saat kita saling bertatap muka, kita berpaling, padahal
aku sering rindu, aku selalu menelan perih dan pilu saat harus mendengar cerita
tentangmu dan dia dari sahabat-sahabatku yang mereka tak pernah tahu, bahwa kau
dan aku pernah punya masalalu, maka ingin sekali kali ini aku mengabari banyak
orang, bahwa saat ini kau kembali menjadi milikku sayang, hanya aku yang
memiliki kamu” ungkapku pada Jingga kala Saga tiba di langit sore kota panas
itu.
“Gerimis ini juga pernah kau
kisahkan bersama orang lain yang kau sebut Rain. Aku cemburu, orang itu
berhasil membuatmu menyebut ia Rain. Dan saat itu pun aku merasa aku
benar-benar hilang dari hatimu. Kau selalu bahagia bersama dia, mungkin dia pun
tak pernah menyakitimu. Jingga, aku tak punya banyak cara untuk membuatmu
nyaman disampingku, aku hanya sedang ingin belajar melukis warna jingga pada
langit kita. Bukan kau sama dia, tapi denganku. Aku memintamu, lupakan dia atau
tentang semua masalalumu yang sudah membuat kau lupa aku” mataku menerawang
kelangit, ada setitik air yang tumpah dari mataku, Jingga masih menyandar
dibahuku.
Jinggga mendekapku erat, air matanya
menetes, jatuh kedasar pipinya. Aku mencium keningnya, aku bisikkan dengan
lirih “Sayang, aku tak mau kita berdebat masalah masalalu, maka sudahlah. Cukup
ada cerita aku dan kamu. Aku terlalu takut badai itu tiba-tiba akan mencekamku
lagi, dekap aku lebih erat agar petir pun enggan untuk memisahkan kita” air
mataku mengalir deras, perihku terbayar. Jingga mencium keningku, hangat.
“Apa kau bisa mempertahankanku? Sedang jarak kita jauh? Apa kau berani
untuk kembali mengambil resiko berkorban untukku? Aku sayang sama kamu, Ar...
tapi apa kau mau memaafkanku yang telah membuatmu memilih jalan mempermainkan hati
banyak orang karena kau membalas hati padaku? Aku salah besar. Aku pun menyesal
kenapa saat itu aku tidak terus terang padamu, aku pikir kau yang
meninggalkanku” Jingga menunduk, tangisnya pecah, aku hanya mampu mendongakkan
kepalanya, sekali lagi aku dekap dia. Aku tatap langit Surabaya yang masih
dalam gerimis. Gemuruh suara kereta api bahkan lalu-lalang kendaraan menjadi
saksi kisah kami kembali.
“Jingga, cintaku tak pernah punah,
ia selalu mengalir menjadi puisi yang seringkali kukidungkan saat aku harus
kembali lelah mempertahankan hatiku, aku cinta kamu, aku tak ingin melepasmu
lagi. Maka biarlah masalalu itu jauh, percayalah aku akan menjagamu lebih dari
yang kau inginkan”
Maka sore itu langit bergemuruh,
gerimis pun tiba menjadi hujan yang riuh membasahi tubuh kami yang saat itu
sedang dibawah pohon rindang tepi jalan. Pelukan hangat pun mengisahkan rindu
yang baru dibawah hujan. Kami saling mencintai, namun badai sempat menghantam
keadaan kami lalu kecamuk petir memisahkan, maka cerita tak berkelanjutan. Tapi
entah, apa rencana Tuhan, kali ini kami kembali dipertemukan di kota yang
katanya panas ini, rindu yang katanya biru itu menyatu mengalir menjadi syair
yang syahdu, dahsyat, sedahsyat badai saat aku sedang berada ditengah pantai.
041422
Bulan
Agustus, pertemuan kedua antara aku dan Jingga. Pertemuan yang kata banyak
temanku adalah penjelmaan rindu yang lama kami gadaikan pada waktu. Siang itu
aku mengatakan hal yang sama padanya, bahwa rindu dan cintaku tak berubah,
sedikitpun. Dia pun tersenyum, meyakinkan dirinya bahwa aku akan mempertahankan
semua ini, dengannya.
Hingga ditengah perjalanan, aku
harus berkenalan dengan sahabat dia, Nayna. Namanya indah seperti senyumnya
saat pertama kali mengulurkan tangan dan menyebut namanya didepan mataku. Tak
ada perasaan apapun waktu itu, hanya saja, melihat Nayna seperti aku melihat
masalaluku. Entah, aku rasakan ada detak yang aneh, jantungku seperti berbisik lirih,
tapi aku hempaskan perasaan tak menentu itu, aku pun tahu saat itu Jingga ada
didepan mataku. Aku tak mau apapun memisahkan aku dengannya lagi.
“Kau sudah kenal lama dengan Jingga, Ar?”
pertanyaan pertama yang Nayna suguhkan padaku, aku hanya bisa tersenyum.
“Loh kenapa, apa jawabanmu hanya
dengan senyuman?”
“Sudah sangat lama” jawabku singkat
“Ada hubungan apa dengan Jingga?”
“Aku sahabatnya yang pernah hilang,
aku mencintainya”
Dialog
kami pun terputus disitu, Jingga lebih dulu mengajakku pergi. Dan aku harus
meninggalkan sedikit kisah dengan orang yang baru aku kenal itu, Nayna, yah
nama yang bagiku seperti tak asing ditelinga.
“Ngapain tadi sama Nayna?” Jingga
melempar pertanyaan dengan sinis padaku
“Kami hanya kenalan”
“Kenapa kau seperti akrab dengannya?”
“Biasa saja kok sayang, tak usah
khawatir begitu”
“Aku cemburu, jangan dekat-dekat
sama orang lain”
“Ia, aku tak akan melakukan kesalahan lagi,
dia temanmu. Jadi tak mungkin aku nakal sama dia” jawabku lalu aku yakinkan dia
dengan kecupan dikeningnya.
041422
Musim
sudah kemarau, tak akan ada lagi kisah hujan atau mendung dipelepas senja.
Seperti puisi-puisiku yang serasa pasi. Ia tertelan musim, tak seindah dahulu.
Namun cerita tak akan pernah berhenti sampai disini.
Entah, mengapa kisahku seperti
kembali rumit, perkenalan antara aku dan Nayna tak hanya berhenti sampai di tempat
pertama kami berjumpa. Kami kembali saling menghubungi via sms dan telpon. Ada
banyak cerita yang kami alirkan pada masing-masing diri kami. Kisahnya, kisahku
seperti seirama pada degup jantung yang sama. Dia menyukai apa yang aku suka,
dia pun lebih punya waktu untukku. Mendengar kisah-kisahku, mempertanyaan
keadaanku. Dia pula yang akhir-akhir ini sering hadir saat aku dalam kesulitan.
Aku merasa hampir terjebak dalam keadaan yang menghimpitku ini. Entah, akan aku
namakan apa perasaan dan degup juantungku yang lebih cepat ini, karena Nayna
masih baru aku kenal.
“Ar, suaramu serak. Kau tak sedang
sakit kan?” membaca pesannya membuatku terharu, aku merasa kembali dihidupkan.
Ya, sakitku sudah parah, meski tak banyak orang tahu bahkan keluargaku sendiri.
Jingga pun seperti terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, dia tak punya
banyak waktu untukku. Meski hakikatnya, aku ingin yang menanyakan semua itu Jingga,
hanya dia.
“Iya, aku sakit Nay, sudah sejak dua
hari yang lalu”
“Sakit apa? Sudah ke dokter?”
“Sakit biasa, tapi cukup membuatku
seperti mati rasa saat sakit itu menyerangku, perlu apa ke dokter? Mereka juga
tak akan menjamin aku sembuh. Aku percaya pada pradigmaku, bahwa aku tak
apa-apa. Aku hanya sedang kelelahan saja, jangan khawatir”
“Ar, kau harus berobat. Sudah makan?”
“Sudah kuobati dengan istirahat. Aku
sudah makan, kamu?”
“Sudah, jika aku boleh tahu. Kamu
sakit apa?”
“Gejala kanker otak, sudah 3 tahun
lalu dokter mengatakan itu, tapi aku sudah tak peduli. Sudah lelah minum obat
yang membuatku merasa lebih takut menghadapi kematian yang didepanku”
“Apa? Jingga tahu tentang ini?”
“Dia tidak pernah tahu apa-apa
tentangku. Setiap kali kami berjumpa atau setiap kali kami menghubungi via sms
atau telpon yang ada kami hanya bertengkar. Dia hanya peduli pada alur cerita
kami. Tapi aku tak mempermasalahkan semuanya, karena aku pun tahu, aku tak mau
dia tahu apa-apa tentang penyakitku ini. Aku tak mau dia merasa kasihan dan
khawatir padaku. Sudah, cukupkan cerita ini padamu”
“Baiklah, penghuni sungai. Penghuni
sawah janji akan merahasiakan semua tentang kamu” Nayna pun pamit untuk tidur
lebih dulu, sedang aku sudah terbiasa tertidur pukul 02.00 dini hari.
Aku seperti merasakan ada malaikat
kecil menjumpaiku, mencoba hadir menawarkan obat baru padaku, Nayna. Entah siapapun
dia aku merasa dia sudah lama bersamaku dan mau ada untukku. Maafkan aku
Jingga, sungguh cintaku padamu tak akan pernah tertukar, namun entah ada rasa
baru yang hadir untuk orang baru dihatiku.
“Kau menghubungi Nayna lagi? Kenapa kamu nggak hubungi aku? Kenapa kamu
diam?” tiba-tiba pesan melayang dari nomer Jingga.
“Iya, aku menghubunginya. Apakah iya harus aku yang selalu menghubungi
kamu duluan? Apa harus aku yang selalu menanyakan apakabar dan bagaimana
keadaanmu? Kemana kau dari kemarin? Kau hanya sibuk dengan asmaramu sendiri dan
kau tak peduli aku cemburu, aku lelah selalu mempertahankan sakitku hanya untuk
memberimu waktu menenangkan dirimu”
“Apa kau bosan denganku? Apa kau akan meninggalkanku lagi?”
“Aku lelah, kita selalu bertengkar begini. Kau selalu mencari alasan
untuk menyalahkanku. Sedang Nayna selalu mampu membuat aku tertawa lepas. Sudahlah,
sudah larut, sebaiknya kau istirahat” aku selesaikan perdebatan kami sampai
disana. Smsnya pun tak lagi aku balas malam itu. Aku hanya ingin tenang.
041422
Ceritaku
dan Nayna mengalir, hingga akhirnya tanpa aku suruh pun ungkapan rindu dan
sayang dari Nayna untukku hadir, aku benar-benar sudah terjebak dalam keadaan
yang baru ini. “Aku akan menghubungimu, selalu. Kau sudah membuat aku
tersenyum. Kau sudah membuatku berhasil merindukanmu” ungkapnya beberapa bulan
lalu via sms. Aku pun membalasnya “Aku juga akan merindukan cerita-ceritamu.
Terimakasih sudah sempat ada untukku. Jaga dirimu” dia pun pamit kembali ke
kota seberang untuk menimba ilmu.
Jingga, warnamu tiba-tiba memudar
dari mataku
Langit yang katamu akan menitipkan
sinopsis cerita kita nyatanya selalu bergemuruh
Padahal hujan tak pernah datang
Jingga, apa harus aku belah awan itu agar ia
mencair dan gerimis akan menyaksikan keutuhan kisah kita
Sedang aku hanya manusia yang terlampau tak punya daya
Jingga, maka jangan lagi tanyakan aku cinta
Karena ia hanya seperti musim, yang punya masa untuk berubah
Jingga, aku rindu, tapi kau berlalu
Maka sampai kapan akan aku tukar jantungku bersama detak waktu?
Aku
mencintai yang satu, Jingga. Sampai kapanpun. Meski terkadang rasaku riuh
dengan gelombang yang lain. Aku tak mau terjebak di kisah antara penghuni sawah
dan penghuni sungai. Aku yakin, itu hanya perasaan wajarku menyayanginya yang
sempat ada untukku. Nayna, akan ada cerita lebih baru yang biru untukmu, maka
sampaikan kisah sepotong senja yang baru padanya, dan itu bukan aku.
041422
“Ar, aku menyayangimu. Jangan pergi
lagi. Lupakan Nayna, masih ada aku yang bisa disampingmu. Masih ada aku yang
bisa berkorban untukmu. Aku mohon Ar, jangan buat aku lebih cemburu. Aku sayang
kamu” Jingga memelukku erat. Aku tak tahu harus bagaimana, tapi aku memang
cinta, jadi tak mungkin kutinggalkan Jingga lagi.
Aku pun meyakinkan Jingga bahwa aku
tak akan kemana-mana. Meski seringkali rasa cemburu itu akan datang menghampiri
hati Jingga saat Nayna akan datang padaku lagi. Tapi aku biarkan, aku
membiarkan kisah ini berjalan sesuai alurnya. Karena aku pun yakin, aku tak
akan jatuh hati pada siapapun, sudah kupasung matahari dan kutidurkan
puisi-puisiku di dada Jingga, maka tak mungkin aku muntahkan kembali. Cukup Jingga,
ceritaku sempurna.
Maka...
Untuk sepotong senja di langit
Surabaya
Soreku sudah meleppuhkan rindu pada
Jingga
Ia menyusup ke ruang-ruang jiwaku
Melebur bersama puisi-puisiku yang
tak mati
Jangan ragukan aku
Sudah milikmu, hati ini
Mari berlarilah...
Kita tangkap merah saga itu tepat saat matahari sejengkal
dari pelipismu
Taruh cerita disana
Lalu lupakanlah dia dan mereka
Hanya hidup, dikisah kita. Aku dan
kamu
“Jingga,
cerita kita indah. Jangan pernah menangis lagi. Jangan merasa cemburu lagi. Aku
mencintaimu, sangat cinta. Bukankah pernah kubilang, aku melihat diriku pada
dirimu, maka tak mungkin jika aku akan meninggalkan diriku sendiri. Jingga,
sesampainya nanti, jika Nayna kembali datang untukku, maka jangan marahi dia
lagi dan jangan membenci dia. Dia tak pernah punya niat mengalihkan
perhatianku, hanya saja salahnya dia, dia selalu datang tepat waktu hingga
datanglah pula peluang kami bersama. Jangan marahi dia, jika suatu saat waktu
akan memihak padanya, dia orang yang baik, jangan cemburui dia, karena kau dan
dia jelas berbeda. Sudah tak bisa kutukar tempatmu dihatiku dengan siapapun.
Maka diamlah, tetap cintai aku, jangan ragu. Jingga, posisi Nayna dihidupku
sama seperti posisi Rainmu dihidupmu. Maka sudahlah, jangan perdebatkan ini
lagi, karena sejujurnya aku pun terlanjur menyayangi keberadaan dia. Meski dia
tak akan pernah menjadi seistimewa kamu. Tapi aku tak punya alasan untuk
menghempaskan dia dari alur cerita hidupmu. Semasih Rain juga hidup diceritamu.
Maka suatu saat, kemungkinan akan hidup cerita masing-masing kita dengan
mereka. Jika kau memang tak mau, maka yakinkan aku, Rain sudah benar-benar
punah dari hidupmu, tak ada nama Rain selain aku, tak ada nama Senja selain
kita. Jika masih ada, maka jangan salahkan aku lagi jika aku berpaling memutar
balikkan kisah-kisah biruku yang baru. Semuanya karena aku mencintaimu. Alasan
itu cukup untukku merasa hidup lebih berarti dari cekaman sakit yang selama ini
aku derita” secarik catatan yang aku kirimkan pada Jingga.
18 September 2013 21.58 kota yang Gigil
0 comments:
Post a Comment