Friday, November 1, 2013

SEPOTONG SENJA UNTUK JINGGA


“Gerimis ini mengisahkan tentang kita, ia menceritakan masalalu yang membuat kita sama-sama terlupakan. Aku memiliki dia dan kau memiliki yang lain. Seperti tak pernah ada cerita cinta saat kita saling bertatap muka, kita berpaling, padahal aku sering rindu, aku selalu menelan perih dan pilu saat harus mendengar cerita tentangmu dan dia dari sahabat-sahabatku yang mereka tak pernah tahu, bahwa kau dan aku pernah punya masalalu, maka ingin sekali kali ini aku mengabari banyak orang, bahwa saat ini kau kembali menjadi milikku sayang, hanya aku yang memiliki kamu” ungkapku pada Jingga kala Saga tiba di langit sore kota panas itu.
            “Gerimis ini juga pernah kau kisahkan bersama orang lain yang kau sebut Rain. Aku cemburu, orang itu berhasil membuatmu menyebut ia Rain. Dan saat itu pun aku merasa aku benar-benar hilang dari hatimu. Kau selalu bahagia bersama dia, mungkin dia pun tak pernah menyakitimu. Jingga, aku tak punya banyak cara untuk membuatmu nyaman disampingku, aku hanya sedang ingin belajar melukis warna jingga pada langit kita. Bukan kau sama dia, tapi denganku. Aku memintamu, lupakan dia atau tentang semua masalalumu yang sudah membuat kau lupa aku” mataku menerawang kelangit, ada setitik air yang tumpah dari mataku, Jingga masih menyandar dibahuku.
            Jinggga mendekapku erat, air matanya menetes, jatuh kedasar pipinya. Aku mencium keningnya, aku bisikkan dengan lirih “Sayang, aku tak mau kita berdebat masalah masalalu, maka sudahlah. Cukup ada cerita aku dan kamu. Aku terlalu takut badai itu tiba-tiba akan mencekamku lagi, dekap aku lebih erat agar petir pun enggan untuk memisahkan kita” air mataku mengalir deras, perihku terbayar. Jingga mencium keningku, hangat.
“Apa kau bisa mempertahankanku? Sedang jarak kita jauh? Apa kau berani untuk kembali mengambil resiko berkorban untukku? Aku sayang sama kamu, Ar... tapi apa kau mau memaafkanku yang telah membuatmu memilih jalan mempermainkan hati banyak orang karena kau membalas hati padaku? Aku salah besar. Aku pun menyesal kenapa saat itu aku tidak terus terang padamu, aku pikir kau yang meninggalkanku” Jingga menunduk, tangisnya pecah, aku hanya mampu mendongakkan kepalanya, sekali lagi aku dekap dia. Aku tatap langit Surabaya yang masih dalam gerimis. Gemuruh suara kereta api bahkan lalu-lalang kendaraan menjadi saksi kisah kami kembali.
            “Jingga, cintaku tak pernah punah, ia selalu mengalir menjadi puisi yang seringkali kukidungkan saat aku harus kembali lelah mempertahankan hatiku, aku cinta kamu, aku tak ingin melepasmu lagi. Maka biarlah masalalu itu jauh, percayalah aku akan menjagamu lebih dari yang kau inginkan”
            Maka sore itu langit bergemuruh, gerimis pun tiba menjadi hujan yang riuh membasahi tubuh kami yang saat itu sedang dibawah pohon rindang tepi jalan. Pelukan hangat pun mengisahkan rindu yang baru dibawah hujan. Kami saling mencintai, namun badai sempat menghantam keadaan kami lalu kecamuk petir memisahkan, maka cerita tak berkelanjutan. Tapi entah, apa rencana Tuhan, kali ini kami kembali dipertemukan di kota yang katanya panas ini, rindu yang katanya biru itu menyatu mengalir menjadi syair yang syahdu, dahsyat, sedahsyat badai saat aku sedang berada ditengah pantai.
041422
Bulan Agustus, pertemuan kedua antara aku dan Jingga. Pertemuan yang kata banyak temanku adalah penjelmaan rindu yang lama kami gadaikan pada waktu. Siang itu aku mengatakan hal yang sama padanya, bahwa rindu dan cintaku tak berubah, sedikitpun. Dia pun tersenyum, meyakinkan dirinya bahwa aku akan mempertahankan semua ini, dengannya.
            Hingga ditengah perjalanan, aku harus berkenalan dengan sahabat dia, Nayna. Namanya indah seperti senyumnya saat pertama kali mengulurkan tangan dan menyebut namanya didepan mataku. Tak ada perasaan apapun waktu itu, hanya saja, melihat Nayna seperti aku melihat masalaluku. Entah, aku rasakan ada detak yang aneh, jantungku seperti berbisik lirih, tapi aku hempaskan perasaan tak menentu itu, aku pun tahu saat itu Jingga ada didepan mataku. Aku tak mau apapun memisahkan aku dengannya lagi.
“Kau sudah kenal lama dengan Jingga, Ar?” pertanyaan pertama yang Nayna suguhkan padaku, aku hanya bisa tersenyum.
            “Loh kenapa, apa jawabanmu hanya dengan senyuman?”
            “Sudah sangat lama” jawabku singkat
            “Ada hubungan apa dengan Jingga?”
            “Aku sahabatnya yang pernah hilang, aku mencintainya”
Dialog kami pun terputus disitu, Jingga lebih dulu mengajakku pergi. Dan aku harus meninggalkan sedikit kisah dengan orang yang baru aku kenal itu, Nayna, yah nama yang bagiku seperti tak asing ditelinga.
            “Ngapain tadi sama Nayna?” Jingga melempar pertanyaan dengan sinis padaku
            “Kami hanya kenalan”
            “Kenapa kau seperti akrab dengannya?”
            “Biasa saja kok sayang, tak usah khawatir begitu”
            “Aku cemburu, jangan dekat-dekat sama orang lain”
“Ia, aku tak akan melakukan kesalahan lagi, dia temanmu. Jadi tak mungkin aku nakal sama dia” jawabku lalu aku yakinkan dia dengan kecupan dikeningnya.
041422
Musim sudah kemarau, tak akan ada lagi kisah hujan atau mendung dipelepas senja. Seperti puisi-puisiku yang serasa pasi. Ia tertelan musim, tak seindah dahulu. Namun cerita tak akan pernah berhenti sampai disini.
            Entah, mengapa kisahku seperti kembali rumit, perkenalan antara aku dan Nayna tak hanya berhenti sampai di tempat pertama kami berjumpa. Kami kembali saling menghubungi via sms dan telpon. Ada banyak cerita yang kami alirkan pada masing-masing diri kami. Kisahnya, kisahku seperti seirama pada degup jantung yang sama. Dia menyukai apa yang aku suka, dia pun lebih punya waktu untukku. Mendengar kisah-kisahku, mempertanyaan keadaanku. Dia pula yang akhir-akhir ini sering hadir saat aku dalam kesulitan. Aku merasa hampir terjebak dalam keadaan yang menghimpitku ini. Entah, akan aku namakan apa perasaan dan degup juantungku yang lebih cepat ini, karena Nayna masih baru aku kenal.
            “Ar, suaramu serak. Kau tak sedang sakit kan?” membaca pesannya membuatku terharu, aku merasa kembali dihidupkan. Ya, sakitku sudah parah, meski tak banyak orang tahu bahkan keluargaku sendiri. Jingga pun seperti terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, dia tak punya banyak waktu untukku. Meski hakikatnya, aku ingin yang menanyakan semua itu Jingga, hanya dia.
            “Iya, aku sakit Nay, sudah sejak dua hari yang lalu”
            “Sakit apa? Sudah ke dokter?”
            “Sakit biasa, tapi cukup membuatku seperti mati rasa saat sakit itu menyerangku, perlu apa ke dokter? Mereka juga tak akan menjamin aku sembuh. Aku percaya pada pradigmaku, bahwa aku tak apa-apa. Aku hanya sedang kelelahan saja, jangan khawatir”
            “Ar, kau harus berobat. Sudah makan?”
            “Sudah kuobati dengan istirahat. Aku sudah makan, kamu?”
            “Sudah, jika aku boleh tahu. Kamu sakit apa?”
            “Gejala kanker otak, sudah 3 tahun lalu dokter mengatakan itu, tapi aku sudah tak peduli. Sudah lelah minum obat yang membuatku merasa lebih takut menghadapi kematian yang didepanku”
            “Apa? Jingga tahu tentang ini?”
            “Dia tidak pernah tahu apa-apa tentangku. Setiap kali kami berjumpa atau setiap kali kami menghubungi via sms atau telpon yang ada kami hanya bertengkar. Dia hanya peduli pada alur cerita kami. Tapi aku tak mempermasalahkan semuanya, karena aku pun tahu, aku tak mau dia tahu apa-apa tentang penyakitku ini. Aku tak mau dia merasa kasihan dan khawatir padaku. Sudah, cukupkan cerita ini padamu”
            “Baiklah, penghuni sungai. Penghuni sawah janji akan merahasiakan semua tentang kamu” Nayna pun pamit untuk tidur lebih dulu, sedang aku sudah terbiasa tertidur pukul 02.00 dini hari.
            Aku seperti merasakan ada malaikat kecil menjumpaiku, mencoba hadir menawarkan obat baru padaku, Nayna. Entah siapapun dia aku merasa dia sudah lama bersamaku dan mau ada untukku. Maafkan aku Jingga, sungguh cintaku padamu tak akan pernah tertukar, namun entah ada rasa baru yang hadir untuk orang baru dihatiku.
“Kau menghubungi Nayna lagi? Kenapa kamu nggak hubungi aku? Kenapa kamu diam?” tiba-tiba pesan melayang dari nomer Jingga.
“Iya, aku menghubunginya. Apakah iya harus aku yang selalu menghubungi kamu duluan? Apa harus aku yang selalu menanyakan apakabar dan bagaimana keadaanmu? Kemana kau dari kemarin? Kau hanya sibuk dengan asmaramu sendiri dan kau tak peduli aku cemburu, aku lelah selalu mempertahankan sakitku hanya untuk memberimu waktu menenangkan dirimu”
“Apa kau bosan denganku? Apa kau akan meninggalkanku lagi?”
“Aku lelah, kita selalu bertengkar begini. Kau selalu mencari alasan untuk menyalahkanku. Sedang Nayna selalu mampu membuat aku tertawa lepas. Sudahlah, sudah larut, sebaiknya kau istirahat” aku selesaikan perdebatan kami sampai disana. Smsnya pun tak lagi aku balas malam itu. Aku hanya ingin tenang.
041422
Ceritaku dan Nayna mengalir, hingga akhirnya tanpa aku suruh pun ungkapan rindu dan sayang dari Nayna untukku hadir, aku benar-benar sudah terjebak dalam keadaan yang baru ini. “Aku akan menghubungimu, selalu. Kau sudah membuat aku tersenyum. Kau sudah membuatku berhasil merindukanmu” ungkapnya beberapa bulan lalu via sms. Aku pun membalasnya “Aku juga akan merindukan cerita-ceritamu. Terimakasih sudah sempat ada untukku. Jaga dirimu” dia pun pamit kembali ke kota seberang untuk menimba ilmu. 
            Jingga, warnamu tiba-tiba memudar dari mataku
            Langit yang katamu akan menitipkan sinopsis cerita kita nyatanya selalu bergemuruh
            Padahal hujan tak pernah datang
Jingga, apa harus aku belah awan itu agar ia mencair dan gerimis akan menyaksikan keutuhan kisah kita
Sedang aku hanya manusia yang terlampau tak punya daya
Jingga, maka jangan lagi tanyakan aku cinta
Karena ia hanya seperti musim, yang punya masa untuk berubah
Jingga, aku rindu, tapi kau berlalu
Maka sampai kapan akan aku tukar jantungku bersama detak waktu?
Aku mencintai yang satu, Jingga. Sampai kapanpun. Meski terkadang rasaku riuh dengan gelombang yang lain. Aku tak mau terjebak di kisah antara penghuni sawah dan penghuni sungai. Aku yakin, itu hanya perasaan wajarku menyayanginya yang sempat ada untukku. Nayna, akan ada cerita lebih baru yang biru untukmu, maka sampaikan kisah sepotong senja yang baru padanya, dan itu bukan aku.
041422
            “Ar, aku menyayangimu. Jangan pergi lagi. Lupakan Nayna, masih ada aku yang bisa disampingmu. Masih ada aku yang bisa berkorban untukmu. Aku mohon Ar, jangan buat aku lebih cemburu. Aku sayang kamu” Jingga memelukku erat. Aku tak tahu harus bagaimana, tapi aku memang cinta, jadi tak mungkin kutinggalkan Jingga lagi.
            Aku pun meyakinkan Jingga bahwa aku tak akan kemana-mana. Meski seringkali rasa cemburu itu akan datang menghampiri hati Jingga saat Nayna akan datang padaku lagi. Tapi aku biarkan, aku membiarkan kisah ini berjalan sesuai alurnya. Karena aku pun yakin, aku tak akan jatuh hati pada siapapun, sudah kupasung matahari dan kutidurkan puisi-puisiku di dada Jingga, maka tak mungkin aku muntahkan kembali. Cukup Jingga, ceritaku sempurna.
            Maka...
            Untuk sepotong senja di langit Surabaya
            Soreku sudah meleppuhkan rindu pada Jingga
            Ia menyusup ke ruang-ruang jiwaku
            Melebur bersama puisi-puisiku yang tak mati
            Jangan  ragukan aku
            Sudah milikmu, hati ini
            Mari berlarilah...
            Kita tangkap  merah saga itu tepat saat matahari sejengkal dari pelipismu
            Taruh cerita disana
            Lalu lupakanlah dia dan mereka
            Hanya hidup, dikisah kita. Aku dan kamu
“Jingga, cerita kita indah. Jangan pernah menangis lagi. Jangan merasa cemburu lagi. Aku mencintaimu, sangat cinta. Bukankah pernah kubilang, aku melihat diriku pada dirimu, maka tak mungkin jika aku akan meninggalkan diriku sendiri. Jingga, sesampainya nanti, jika Nayna kembali datang untukku, maka jangan marahi dia lagi dan jangan membenci dia. Dia tak pernah punya niat mengalihkan perhatianku, hanya saja salahnya dia, dia selalu datang tepat waktu hingga datanglah pula peluang kami bersama. Jangan marahi dia, jika suatu saat waktu akan memihak padanya, dia orang yang baik, jangan cemburui dia, karena kau dan dia jelas berbeda. Sudah tak bisa kutukar tempatmu dihatiku dengan siapapun. Maka diamlah, tetap cintai aku, jangan ragu. Jingga, posisi Nayna dihidupku sama seperti posisi Rainmu dihidupmu. Maka sudahlah, jangan perdebatkan ini lagi, karena sejujurnya aku pun terlanjur menyayangi keberadaan dia. Meski dia tak akan pernah menjadi seistimewa kamu. Tapi aku tak punya alasan untuk menghempaskan dia dari alur cerita hidupmu. Semasih Rain juga hidup diceritamu. Maka suatu saat, kemungkinan akan hidup cerita masing-masing kita dengan mereka. Jika kau memang tak mau, maka yakinkan aku, Rain sudah benar-benar punah dari hidupmu, tak ada nama Rain selain aku, tak ada nama Senja selain kita. Jika masih ada, maka jangan salahkan aku lagi jika aku berpaling memutar balikkan kisah-kisah biruku yang baru. Semuanya karena aku mencintaimu. Alasan itu cukup untukku merasa hidup lebih berarti dari cekaman sakit yang selama ini aku derita” secarik catatan yang aku kirimkan pada Jingga.

           
           


18 September 2013 21.58 kota yang Gigil




0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates