malam ini rembulan di kotaku indah komandan
gigil yang membuat rinduku membeku akhirnya riuh, ramai dari ketakutan yang menduga komandan akan melupakan prajurit sederhana sepertiku
komandan, aku rindu pada hujan...
kata temanku "Hujan tidak pernah menciptakan kisah tentang kita, tapi kita punya kisah dalam hujan"
aku ingat betul, saat pertama aku berani berbicara dengan komandan, gerimis itu turun perlahan, menetes kedasar pipiku: seperti air mata, tapi ia indah
dan saat itu pula aku dan komandan tertawa bersama: kita lupa status: tak ada prajurit dan tak ada komandan
kita adalah sepasang merpati yang sedang berburu rindu pada lelehan awan, maka disanalah cerita tentang kita berawal
kali ini komandan jauh: malam yang kian mengutukku menjadi prajurit yang jatuh hati pada komandannya sendiri kini membuat degup jantungku tak senormal kemarin
ia selalu berlari lebih cepat, hingga ilusi-ilusi yang seharusnya aku abadikan menjadi puisi hilang, hanya ada bayanganmu komandan
maka beritahu aku bagaimana caranya aku tangguh
ajari aku untuk setia meski semak belukar itu harus aku lalui
ajari aku menjadi prajurit yang membanggakan, meski akhirnya aku jatuh cinta padamu komandan...
komandan,...
aku tak pandai menulis kata-kata
atau mungkin aku tak selihai prajuritmu yang lain dalam menyusun bahasa
aku hanya megatakan yang sederhana, bahwa aku sudah jatuh cinta
maka jangan tanyakan aku apa-apa lagi, jika suatu saat nanti purnama itu kembali mempertemukan kita dalam lipatan cerita yang baru meski sudah berbasis lama
komandan...
jika dalam hal ini aku salah: maka datanglah kehadapanku lebih cepat, hukum aku dengan caramu menghukum prajurit yang nakal sepertiku
agar aku tak terlampau menjadikan perasaan ini dasar dari makna hidupku
jangan terlambat untuk datang dan menghukumku, jika aku salah karena jatuh cinta
sebelum akhirnya aku yang akan menuntut keadilan dan memilih undur diri dari hadapan komandan. dan saat itu aku akan gagal menjadi prajuritmu.
gigil yang membuat rinduku membeku akhirnya riuh, ramai dari ketakutan yang menduga komandan akan melupakan prajurit sederhana sepertiku
komandan, aku rindu pada hujan...
kata temanku "Hujan tidak pernah menciptakan kisah tentang kita, tapi kita punya kisah dalam hujan"
aku ingat betul, saat pertama aku berani berbicara dengan komandan, gerimis itu turun perlahan, menetes kedasar pipiku: seperti air mata, tapi ia indah
dan saat itu pula aku dan komandan tertawa bersama: kita lupa status: tak ada prajurit dan tak ada komandan
kita adalah sepasang merpati yang sedang berburu rindu pada lelehan awan, maka disanalah cerita tentang kita berawal
kali ini komandan jauh: malam yang kian mengutukku menjadi prajurit yang jatuh hati pada komandannya sendiri kini membuat degup jantungku tak senormal kemarin
ia selalu berlari lebih cepat, hingga ilusi-ilusi yang seharusnya aku abadikan menjadi puisi hilang, hanya ada bayanganmu komandan
maka beritahu aku bagaimana caranya aku tangguh
ajari aku untuk setia meski semak belukar itu harus aku lalui
ajari aku menjadi prajurit yang membanggakan, meski akhirnya aku jatuh cinta padamu komandan...
komandan,...
aku tak pandai menulis kata-kata
atau mungkin aku tak selihai prajuritmu yang lain dalam menyusun bahasa
aku hanya megatakan yang sederhana, bahwa aku sudah jatuh cinta
maka jangan tanyakan aku apa-apa lagi, jika suatu saat nanti purnama itu kembali mempertemukan kita dalam lipatan cerita yang baru meski sudah berbasis lama
komandan...
jika dalam hal ini aku salah: maka datanglah kehadapanku lebih cepat, hukum aku dengan caramu menghukum prajurit yang nakal sepertiku
agar aku tak terlampau menjadikan perasaan ini dasar dari makna hidupku
jangan terlambat untuk datang dan menghukumku, jika aku salah karena jatuh cinta
sebelum akhirnya aku yang akan menuntut keadilan dan memilih undur diri dari hadapan komandan. dan saat itu aku akan gagal menjadi prajuritmu.
0 comments:
Post a Comment