Tuesday, April 16, 2013

DETIK

selayaknya aku tumpahkan air diatas tanganku
serasa menerka pada lubuk hatiku
sakit hanya sendiri

jika dahulu kau katakan cinta itu semanis kopi
maka kali ini kau mendustakannya sepahit ampas kopi

aku masih belajar bagaimana cara menyanjungmu
aku baru memulai tingkah bagaimana agar kau mampu menerimaku

dari hitungan awal bulan kemari, hingga purnama menenggelamkan ceritanya.

aku masih duduk memaku hujan dipelepas embun tanpa awan. pagi itu. 



0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates