Maafkan Aku Cinta
“ Seandainya dari dulu kau katakan itu padaku, maka sakit ini tidak akan terasa sedalam mungkin “
Itu ucapan terakhir dari Aura setalah aku menceritakan semua yang sebenarnya telah terjadi diantara kami. Bahwa aku mencintai dan mengakuinya sebagai kekasih hanya sebagai alasan agar bapak tidak menjodohkanku dengan Reina, sepupuku sendiri. Aku sadar aku telah menyakitinya, aku telah memberi ia harapan yang kosong. Ya, aku lelaki pecundanng, tapi aku rasa semua itu bukan sepenuhnya inginku, aku lakukan itu juga karena perintah Raihan, mantan tunangan Aura yang igin membalas sakit hatinya melewatiku, orang yang kebetulan dekat dengan Aura.
Aku tahu tindakanku sangat bodoh, aku sesali semua itu. Tapi sayang untuk menyesali dengan memohon maaf pada Aura sudah terlanjur lambat, Aura keburu pergi, dia sudah tidak tinggal di sini. Entah, akupun tak tahu lagi kemana perginya. Untuk menanyakan hal itu pada omnya aku merasa tak enak, karna aku tahu omnya sudah membenciku gara-gara aku menyakiti Aura. Ah! Semua ini salahku…
@@@@@
Setelah beberapa bulan dari kepergian Aura, bapak kembali memaksaku untuk bertunangan, tapi bukan lagi dengan sepupuku. Melainkan dengan anak sahabatnya di kantornya. Hufh… lagi-lagi aku kebingungan mencari akal apalagi, aku jadi ingat pada Aura. “ Zi, sepertinya kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak permintaan bapakmu ini “ bapak menyadarkanku atas kebingunganku. “ Ehm,.. Zi.. “ tiba-tiba aku tak bisa ngomong apa-apa. “ Sudahlah kamu harus menerima pertunangan ini “. “ Tapi pak,”. “ Zi, Aura sudah putus denganmu, jadi apalagi alasanmu untuk menolak permintaan ini? “ Entahlah sudah tak ada alasan lagi untuk menolak apa yang bapak perintahkan. “ Ingat Zi, orang tua itu mau yang terbaik buat anaknya, bapak yakin setelah nanti kamu tahu sama wanita pilihan bapak kamu akan berterimakasih pada bapak “ Bapak berusaha meyakinkan atas apa yang ia katakan. Dan aku hanya bisa menundukkan kepala. Ku tk cukup betrani untuk membantahnya, hah... padahal ini sudah zaman modern. Masih saja ada perjodohan kayak gini. “ Yasudah kalau gitu besok kamu ikut bapak ke kantor, karna bapak sudah atur pertemuannya. Bapak harap kamu tidak akan mempermalukan bapakmu ini “ setelah itu bapak pergi, aku tak bisa mencegahnya.
Aku merasa ada yang menghantamku. Aku serasa sangat sakit atas permintaaan bapak ini. Tiba-tiba kurasa ada yang aneh dengan hatiku, banyangan Aura tiba-tiba hadir. Jujur aku ngerasa ada sesuatu menguasai hatiku. Aku ingin Aura kembali hadir disisiku, menemani segala apa yang kurasa. Tidak sebagai pacar bohongan, tapi seseorang yang benar-benar akan aku cintai. Agh,... tidak. Aku yakin semua ini hanya kebetulan saja! Aku tidak mungkin bisa mencintainya, ini hanya perasaan yang salah, mana mungkin aku mencintai orang seperti dia. yang masih sangat kanak dan manja. Dan aku tidak suka dengan itu.
@@@@@
Aku kembali membuka agenda kecilku yang sempat dilukis oleh oretan tinta Aura, entahlah! Tiba-tiba aku begitu ingin membaca bahasa yang pernah sempat tercipta saat kami lalui hari bersama.
Aku tau malam hanya sementara
Sebentar lagi fajar akan menhapus semua
Termasuk para bintang dan rembulan
Dan di situ pagi akan tiba.
Lalu di sana kita tebangun kembali
Berdzikir saat subuh hadir sebagai tanda akhir malam
Dan tanda atas cinta kita
Cintaku, dan cintamu Ziad. Cinta yang takkan pernah ada penghujungnya...
Tanpa kusadari air mataku berlinang, aku baru menyadari cintanya yang tulus. Maafkan aku Aura. Sungguh, seandainya perasaan ini hadir dari dulu untukmu, maka aku akan sepertimu. Mencintai dengan tulus dan berusaha mempertahankan kamu dalam hatiku. Tapi sayang semua itu nyaris tidak ada, perasaan ini terlambat...
Aku bangkit dari tangisku, aku baru ingat kalau hari ini aku harus ikut bapak ke kantornya. Yah, saatnya aku menemui wanita pilihan bapak. Mungkin dengan cara ini aku akan lebih mudah menghapus bayangan Aura.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya aku sampai di kantor bapak. Aku lihat ada wanita berdiri di dekat ruang tamu, mungkinkah dia wanita pilihan bapak?
Sepertinya kulihat ada bayangan Aura. Tapi tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja yang masih tidak bisa melupakan Aura. Yah, wanita yang akan ku temui ini bukan Aura, tapi Auril. Wanita pilihan bapak untuk menjadikan dia seorang perempuan yang senantiasa mendampingiku, juga hatiku nanti. Aku tahu, semua ini hanya terpaksa. Tapi sudahlah aku akan terima ini apa adanya. karena aku yakin, aku mampu belajar mencintainya. Menggantikan posisi Aura yang dengan tiba-tiba menempatinya terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit ku pikir semua itu, akhirnya akupun menerima pertunangan itu, aku coba menebar senyum meski rasa ini terlalu sakit. Tiada lain aku lakukan ini sebagai rasa pengabdian pada orang tuaku. Kapan lagi kalau bukan sekarang... karena aku memang tidak mempunyai apa-apa untuk bisa aku persembahkan lagi untuk beliau. Selain dengan cara seperti ini.
Akupun diperintah mengajak Auril keluar oleh bapak. Dengan rasa patuh sebagai anak atas perintah bapak, aku mengajak Auril setelah perkenalan itu terjadi. “ ehm, ngomong-ngomong kamu udah semester berapa Zi?” tanya Auril menepis sunyi saat itu. “ aku semester tiga. Kamu ?’ aku mencoba membuka mulutku untuk menjawab tanyanya. “ kok sama? Oya, kamu kuliyahnya dimana dan fakultas apa ?” “ Universitas Unijoyo, aku ngambil jurusan Psikologi “ semua terasa tak berat kujalani dengan Auril, tidak seperti yang kubayangkan.yah, ternyata dia asyik juga sebagai teman bicara. Setelah beberapa jam dari kejadian itu, kami pun sudah terasa sangat akrab, kami bercanda layaknya kawan lama. Entahlah, aku pun kurang tahu kenapa dalam sekejap bayangan Aura ternyata tak lagi menghantui pikiranku. Aku harap semua ini akan menjadi awal yang indah... meski ternyata hal yang seperti ini tidak pernah ku inginkan sebelumnya. Yah, melupakan Aura bukanlah keputusan yang membahagiakanku. Karena aku lama bersamanya, aku mencintainya. Dan aku ingin ia menjadi penghibur hatiku.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Auril mengagetkanku. “Aku tidak apa-apa“ aku jawab seadanya. Setelah itu aku memilih tuk berlalu... aku mengajaknya pulang, karna kurasa hari sudah cocok tuk istirahat.
@@@@@
Ada yang terasa perih disini, di tempat penyimpan rasa. Serasa aku tak lagi mampu memaknai kehidupanku sendiri. Atau aku yang tak mampu menjadi orang yang tegas pada diri ini. Termasuk pada perasaanku.
Satu minggu setelah ta’arufanku denganya. Tepatnya dari kejadian itu aku pun mencoba menerima Auril dalam hatiku, meski aku tahu semua itu sama sekali tak terlintas dalam benakku. Sama sekali tidak aku inginkan. Tapi apalah daya semua harus tetap kujalani serbagaimana mestinya, aku sebagai lelaki harus tegas menghadapi kenyataan ini. Tepatnya akupun harus memenuhi pinta bapak, untuk menikahi Auril secepatnya. Sekali lagi menikahi Auril, bukan Aura seorang gadis yang baru ku sadari aku mencintainya.
@@@@@
Senin, 20 januari 2008
Aku dan keluarga siap-siap untuk ke rumah Auril. Aku akan mengikat ajab qabul pada nya. Aku akan menjadi suaminya.
Setelah sepuluh menit dalam perjalanan, aku dan keluarga sampai di depan rumah Auril. Banyak tamu di sana, aku jadi kembali gemetar. Hah, semua sudah sampai pada waktunya. Akupun sanggup untuk melupakan Aura, semua demi kebahagiaan keluarga ku nanti. Di persimpangan pikiranku yang bingung, tiaba-tiba kudengar ada yang memanggil namaku. Aku mencoba menoleh kebelakang, “Aura” tiba-tiba suaraku memecah... “ ya, ini aku Zi..” ucap Aura menyadarkan ku. Aku pamit pada bapak, aku suruh mereka untuk kedalam terlebih dahulu.
“ secepat itukah kau melupakanku Zi? Padahal...” aku cegat omongannya “ aku tak pernah mau menjadi orang munafik Ra. Jujur, ku kira kau yang membuang aku begitu saja setelah kau tahu bahwa ternyata aku tak pernah berniat mencintaimu, bahkan sempat ku ucap bahwa kau hanya sebagai persandiwaraanku agar aku tak dijodohkan dengan sepupuku” jelasku pada Aura yang masih dalam keadaan berta-tanya atas apa yang terjadi padaku sekarang. Aku pun juga kurang tahu kenapa dia bisa ada di sini. Sungguh, aku btidak tahu harus bersikap bagaimana dengan keadaan ini. Aku tak mampu berpikir dan bertindak bijak dalam hal perasaan. “maafkan aku Zi, aku pergi bukan niat meninggalkanmu. Aku hanya ingin meminta waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku yang sempat kamu sakiti ini. Agar suatu saat nanti aku mampu menerimamu kembali sebagai teman baikku” jelas Aura. “tapi dengan tindakanmu itu membuat segalanya berantakan Ra’. Aku kembali dijodohkan dengan anak sahabat bapak di kantornya. Dan terpaksa aku harus menerima semua itu. Bdan hari ini mengikat ajab qabul padanya”. “dan perempuan itu adalah saudara kandungku sendiri. Kenapa harus dia? Tidak adakah orang lain yang lebih pantas untuk kau cintai selain dia?” memang aku lihat ada intik kasih yang biasa perempuan tumpahkan, yah... air matanya melebur sambil memandangku. Aku tak sampai hati, sungguh perasaan ini masih terlalu dalam ada dan terasa untuknya. Masih aku rasakan cinta untuk dia. Aura, perempuan yang dahulu sempat temani hari-hari yang memang salahku menjadikan semua itu hanya sebatas sandiwara. Andai semua itu tak terlalu munafik tuk ku balik arah, maka aku akan beranikan diri untuk kembali memintaya bersamaku. Tapi, hah... tak mungkin aku lakukan itu, aku tak mau kembali menyakiti hati perempuan. Auril akan sakit, jika aku kembali berpaling pada perempuan ku yang dahulu. Aku harus menjadi lelaki yang tegas, memilih salah satu dari mereka untuk aku cinta. Tidak dua-duanya, karena sampai kapanpun itu tidak akan bisa. Dengan separuh luka dihati, aku harus melepaskan cintaku. Melepaskan Aura demi segala hati yang telah terlanjur bahagia beberapa hari ini de ngan keputusan yng aku perbuat. Aku tak mau mengecewakan bapak juga Auril... “maafkan aku Ra’,..” aku langsung pergi dari hadapannya. Memalingkan hati agar tak punya kesempatan tuk kembali memberi harapan tuk mencipta kasih yang lebih dalam.
Maafkan aku cinta,...
Memilih dia bukan berarti melupakan kamu, aku lebih mencintai adamu, sejujurnya...
Tapi hanya saja aku harus lebih mampu menjaga banyak hati...
Hati mereka yang telah bahagia dengan apa yang hendak terjadi hari ini, aku tak mau mengecewakan... hanya itu.. Ra,.. biarlah kau hadir dengan status cinta kita sebagai kakak adek ipar...
Guluk-guluk,09 Oktober 2010
0 comments:
Post a Comment