ADA TUHAN DALAM DIRIMU, CINTA...
Sudah terhitung empat tahun aku ada dibangku kuliah. Sekarang aku menginjak semeser delapan, semester akhir yang akan melangkah pada wisuda dengan penyetoran skripsi sebagai syaratnya. Aku merasa berat dengan syarat itu, karena selama ini yang mengerjakan semua tugas-tugas kuliahku adalah Ema, sahabatku yang beda fakultas tapi sangat ahli di bidang hukum. Tapi, sayangnya untuk kali ini dia tidak bisa membantu karena dia harus bertugas ke rumah sakit jiwa di Jakarta atas penelitian di fakultas psikologinya. Andaikan dulu aku tidak malas karena alasan aku ingin nahfidz dan nerjemah, mungkin aku tidak akan sebingung ini sekarang.
###
Aku lihat semua teman-teman sudah mulai sibuk menggarap skripsinya dan mulai menemui pembimbing mereka. Aku hanya merasa semakin bingung saja. Aku tidak tahu harus memulai dari apa untuk membuat skripsiku.
Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi pembimbingku meski aku tak punya bekal.
Aku menemui ibu Rahmaningsih di ruangannya. Al-hamdulillah, ruang sepi dari teman-teman yang ingin menyetorkan judul atau berkonsultasi pada ibu. Jadi aku punya kesempatan terbuka untuk mengadu bahwa aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk menggarap skripsiku.
“as-salamualaikum bu,...” aku tidak tahu harus bagaimana dihadapannya. “maaf dik. Jika saya tidak bisa menjawab salammu itu. Soalnya saya tidak begitu tahu untuk menjawab salammu itu” aku tidak mengerti. Memangnya tetamn-teman kalau kesini menyapa ibu dengan sapaan apa? “ maksud ibu, gimana ya?” dengan lancang kutanyakan ketidak mengertianku itu pada ibu Rahma. “agama saya dan adik beda. Adik muslim sedang saya non muslim. Saya beragama kristen dik” ooo,.. jadi ibu Rahma bukan perempuan muslim. Sayang, padahal dia masih sangat muda dan sudah terpandang hebat, hm... tidak cocok saja dengan namanya yang Rahmah. “maaf bu. Saya tidak bermaksud untuk...” . “sudah lah tidak usah mempermasalahkan itu. Dalam agama kita harus saling menghargai setiap orang meski tak seagama dengan kita. Jadi salam adik tidak menjadi salah atas kehadiran adik kesini” ow, cara bicaranya sangat bijak. Beliau sepertinya sangat tekun dalam agamanya. Beliau sangat pandai menghargai. Kenapa yang kutemui kebanyakan orang muslim tidak seperti beliau? Malah banyak muslim yang sukanya mencela, memfitnah dan banyak hal lainnya. Beliau yang non muslim mampu merealisasikan ajaran dalam agamanya. Meskipun kenyataannya di hadapan Allah semua itu tetaplah tak ada artinya. “oiya bu. Nama saya M. Fadhil Ilham, anak hukum. Kedatangan saya kesini kepada ibu ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa saya belum sama sekali menggarap skripsi, bahkan untuk judul pun saya masih belum punya” ada perasaan takut untuk mengatakan hal itu. Aku harap ibu Rahma tidak akan memarahiku karena kebodohanku ini. “memangnya apa kesibukanmu selama ini sehingga kamu tidak sempat memikirkan hal yang sangat penting untuk masa depanmu ini?” ibu Rahma memandangku penuh dengan tanda tanya. “saya orang biasa yang tidak punya kesibukan bu dan jujur bu, saya tidak bisa membuat karya tulis ilmiyah. Termasuk skripsi ini. Jadi saya merasa kerepotan untuk memulai dati mana dan dengan bahan apa.” Mataku sepertinya mulai berlinang. Aku harus bertahan, aku tidak boleh menangis di depannya karena hal ini. Sangat memalukan jika hal itu terjadi “kamu sudah pernah membuat makalah, bahkan di fakultas hukum sudah terbiasa dengan menyusun dan latihan membuat point-point dalam pasal-pasal kenegaraan.. kenapa untuk skripsi ini kamu malah merasa kesulitan. Ini merupakan hal yang tidak rasional, kan?” ibu Rahma sepertinya marah besar padaku. Tolol!!! Kenapa hidupku jadi seperti ini “jujur bu. Sejak saya masuk kuliah, keinginan saya hanyalah untuk menghafal al-Qur’an dan menerjemah buku. Jadi untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah baik makalah dan semacamnya saya tidak suka. Jadi terpaksa saya menyuruh teman saya untuk mengerjakan setiap tugas-tugas saya itu. Mungkin ini memang hal yang bodoh dan merugikan saya.
“yaudah, sekarang suruh saja temanmu untuk mengerjakan tugasmu lagi. Mudahkan?” sepertinya ibu Rahma mengejekku. “dia sedang bertugas bu. Jadi tidak punya waktu untyu membantu saya. Saya mohon bu jangan gagalkan saya untuk wisuda tahun ini karena tak mampu membuat skripsi. Karena saya harus kembali tepat waktu untuk mengganti abah mengelola pesantren di rumah” aku mencoba memohon agar ibu Rahma memberiku waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan skripsiku. “jadi kamu anak seorang kiai? Apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas dan memalukan” “bagi saya ini bukan hal yang memalukan. Hanya sebuah kesalahan. Baru jika saya tidak bisa baca al-Qur’an, tidak bisa baca kitab, tidak bisa menerjemah bahkan tidak hafal al-Qur’an itu yang membuat saya malu di depan santri-sntri bahkan di tengah-tengah masyarakat nanti.”akupun merasa dilecehkan. Aku memilih beranjak dari hadapan ibu “ saya tak mau berdebat denganmu. saya punya buku panduan untuk pembuatan skripsi. Kamu bisa datang ke rumah ibu nanti sore. Di sana kamu juga bisa baca kripsi ibu dulu. Ibu harap kau tidak main-main lagi” Aku terkejut melihat kebaikannya. Aku mengangguk dan berucap akan datangi rumahn ya nanti sore.
###
Berkat bantuan ibu Rahma, aku pun berhasil menyelesaikan skripsiku dalam jangka waktu lima bulan. Ya, aku adalah orang pertama yang menyetorkan skripsiku pada bu Rahma dan ter-acc. Aku beruntung memeliki pembimbing seperti beliau. Meskipun aku tahu, beliau berbeda agama denganku. Tapi kebajikan dan kebijakannya membuat aku jatuh hati padanya yang memang kebetulan dia masih tidak memilki pendamping hidup. Tapi, hal itu tidak mungkin terjadi padaku. kami tak seagama. Itu yang tidak mungkin menjadikan kami bersatu. Ah... mikir apa aku ini, kok malah ngelantur kemana-mana. Sudahlah, yang penting aku sudah menyelesaikan persyaratanku untuk mengikuti wisuda tahun ini.
###
Ternyata aku menjadi peraih skripsi terbaik. Setelah acara wisuda usai, aku bergagas mengajak keluargaku untuk mendatangi rumah ibu Rahma. Aku ingin memperkenalkan mereka pada ibu Rahma yang telah membantuku dalam penggarapan skripsiku ini. Sehingga skripsiku menjadi yang terbaik untuk tahun ini.
Setelah kami bertemu dan berkata panjang lebar, tiba-tiba abah menarik tangan kananku. Tiba-tiba aku ditampar, bahkan aku dikatakan apalah,... dan mungkin ibu Rahma mendengarkan apa yang abahku katakan padaku. Beliau hanya menunduk. Kusadari, perkataan abah memang terlalu menyakitakan. Bilang bu Rahma itu menyesatkan, bahkan parahnya abah bilang kalau ibu Rahma lambat laun akan menjerumeskanku kedalam agamanya.
Akhirnya ku jelaskan semua pada abah. Aku semakin menentang perkataan beliau. Aku memilih untuk jujur atas perasaan ku pada ibu Rahma dihadapan abah. Abah tak merestuiku, tapi aku berjanji dihadapan beliau bahwa aku tidak akan pulang ke Madura sebelum aku berhasil mengajak ibu Rahma masuk islam dan bersedia menjadi pendamping hidupku. Setelah mendengarkan perkataanku, abah pun menyetujui bahkan beliau semakin menantangku. Jika aku tak berhasil mengajak ibu Rahma sebagaimana rencanaku, maka aku akan dinikahkan dengan Faiza. Setelah itu, abah dan kleluarga pulang ke Madura.
Karena merasa sangat bersalah, aku kembali menghampiri ibu Rahma. Akupun minta maaf padanya. Ibu Rahma menangis, entahlah apa yang terjadi padanya aku tidak tahu. Aku mencoba membuat dia tenang. aku berusaha membuatnya tersenyum. Kurasa suasana sudah memungkinkan, aku sengaja menceritakan bagaimana diutusnya seorang nabi, bahkan sampai pada inti-intinya. Tangisnya semakin menjadi. Aku semakin tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ibu Rahma melihatku. “saya merasa tersentuh dengan agama yang kau anut. Selama aku mengenalmu, aku merasa ada hal yang beda pada dirimu. Beda dari kebanyakan laki-laki yang ku kenal selama ini. Agamamu sangat berbeda dengan agamaku. Dan aku merasakan kesejukan berada disisimu. Mungkin karena kamu sudah menguasai al-Qur’an atau, entah aku tak tahu...” hatiku terasa tergoncang. Aku tak percaya kenapa secepat ini beliau serasa terpengaruh dan tertarik pada agama islam. Kupikir, dengan keadaan yang seperti ini aku semakin punya jalan untuk mengajarinya tentang islam.
Kami memperdebatkan semua itu panjang lebar. Dari agama yang satu ke agama yang lain. Sungguh, sebuah perbedaan yang sangat indah apabila kami mmpu mengambil hikmahnya. tiba-tiba ibu Rahma memintaku untuk mengajarinya tentang islam. Aku sangat terklejut mendengarkan semua itu. Sekalian berbarengan dengan pintanya itu, aku mengatakan banyak hal tentangku juga masalah yang sedang kualami dengan abah. Termasuk aku katakan padanya tentang perasaanku. Biarlah semua itu ternilai norak, terpenting aku sudah menyatakan hatiku. Dan dengan itupun aku bersedia mengajarinya tentang islam. Ibu Rahma hanyatersenyum dan mengiyakan apa yang dari tadi aku katakan.
Setelah semua terungkap, aku pun mulai mengajari ibu Rahma dengan membaca syahadat terlebih dahulu. Lalu kuajari ia bagaimana menjadi perempuan muslimah. Seperti bagaimana dia harus memakai pakaian yang menutup aurat termasuk berjilbab. Setelah itu aku ajari ia bagaimana cara berudlu, cara membaca alQur’an juga tak lupa mengajarinya cara bersholat lima waktu yang merupakan hal yang wajib dilaksanakan oleh umat islam. . Ya, setiap hari aku mendatangi rumahnya, mengajarinya banyak hal tentang islam sebagaimana yang ku ketahui. Aku sangat kagum dengan semangatnya. Aku berharap Allah akan memberi kemudahan padanya untuk cepat memahami tentang islam. Aku juga berharap dialah perempuan yang memang Allah ciptakan untukku.
###
Sampailah pada tanggal yang ditentukan abah padaku. Hari ini aku harus pulang ke Madura, membuktikan janji-janjiku pada abah kalau aku akan membawa ibu Rahma dalam keadaan muslimah. Aku memberitahukan hal itu pada ibu Rahma. Dia kembali menangis, dia merasa masih sangat tak pantas untuk bersanding denganku yang berstatus lora di sebuah pesantren. “Fadhil, sebaiknya kamu pulang tanpa membawa saya. Saya masih tak tahu apa tentang islam. Abahmu tidak mungikin menerima saya sebagai menantunya. Menantu seorang kiai alim. Sedang saya hanyalah seorang perempuan muallaf. Saya tak ingin mengecewakanmu. Pulanglah Dhil, biarkan saya mendalami islam dulu.” Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan. “saya akan lebih kecewa jika ibu tidak ikut dengan saya ke Madura”. “tapi Dil,...” “jika saya pulang tidak membawa ibu, maka saya akan dinikahkan dengan orang yang tidak saya cintai. Dan saya tak mau hidup dengan orang yang asing dihati saya bu. Tapi itu terserah ibu, saya tak mau memaksa” akupun mulai beranjak dari hadapannya. “saya ikut denganmu”. Aku kembali menoleh, setelah itu kamipun dengan cepat menyiapkan segala hal untuk bekal ke Madura.
###
Madura, 27 Juni 2010. Aku dan ibu Rahma sampai di halaman rumah. Kulihat abah di dalam mushallah. Aku pun langsung menghampiri abah. Abahpun memintaku meninggalkan abah dan ibu Rahma berdua di dalam Mushallah. Abah ingin menguji pengetahuan ibu Rahma tentang islam. Termasuk menyuruhnya mengaji dan lainnya. Sambil menunggu, aku pun meminta pada Allah, agar semuanya berjalan dengan lancar. Dan abah merestui hubungan yang akan kami jalani. Satu setengah jam berlalu, abah keluar dari mushallah lalu menghampiriku, “pengetahuannya tentang islam masihlah sangat belia. Abah masih tidak yakin dia mampu membantumu mengelola pesantren ini Fadhil. Hari ini juga, kamu antarkan dia pulang ke rumahnya. Abah tidak mau mengundang fitnah para tetangga karena kehadirannya” hatiku merasa teriris mendengar perkataan abah. Aku sangat kecewa, kenapa abah tidak bisa memberi waktu pada ibu Rahma untuk lebih mendalami islam di sini denganku. ‘’abah, aku sudah berhasil mengajaknya untuk seagama denganku. Dia pun juga sudah berusaha belajar lebih dalam tentang islam. Tolonglah bah, beri aku waktu untuk mengajarinya kembali mengenal Allah lebih jauh. Aku yakin bah, dalam dirinya ada cinta untuk mulai mencintai Allah sebagai tuhannya” abah hanya menggelengkan kepalanya. Aku menunduk. Air mataku mengalir. Sungguh, atas nama Allah aku mencintai ibu Rahma. Dia perempuan yang memilki semangat yang luar biasa, baik bahkan dia juga sangat pandai menghargai. “Fadhil, dalam pernikahan itu, kita harus mengutamakan nashabnya, kecantikannya, hartanya. Dan satu hal yang terpenting Dhil, karena agamanya. Apa yang akan kamu dapatkan dari perempuan seperti dia. Baru hanya dua bulan dia belajar tentang islam. Sedangkan kamu harus cepat menikah untuk mengelola pesantren ini. Dhil, abah tidak mungkin memberikan pesantren ini pada seorang menantu yang masih muallaf”. Abah beranjak dari hadapanku. “abah, ibu Rahma sudah memilki empat unsur itu. Permasalahannya sekarang hanya terletak pada agamanya. Dia masih dalam tahap belajar bah. aku ingin menjadi imam yang baik bagi istri ku. Jadi aku janji akan selalu menemaninya dan mengajarinya lebih jauh tentang agama islam yang baru dia kenal. aku tidak akan memilih perempuan yang salah untukku dan aku yakin bah, lambat laun ibu Rahma pasti mampu menjadi menantu seperti yang abah harapkan” aku mencoba memohon pada abah untuk mempertahankan perjuanganku dengan ibu Rahma. Tiba-tiba ibu Rahma keluar dari mushallah, abah hanya melirik kami berdua. “cobalah istikharah Dhil. Mintalah jawaban pada Allah. Abah akan setuju dengan hasil istikharahmu. Tapi untuk sementara sebelum kamu mendapat jawaban atas istikarahmu, antarkanlah Rahma pulang ke rumahnya saat ini juga” abah pergi dari depanku. Aku menunduk. Aku tak ingin melihat ibu Rahma dengan keadaan mata merah.aku pun mencoba menjelaskan semua yang tadi abah bicarakan padaku. Dia mengerti. Dan aku mengajaknya kembali pulang ke rumahnya.
###
Empat hari setelah aku meminta jaweaban pada Allah dengan istikharahku atas keinginanku. Perempuan yang datang sebagai jawaban adalah Rahmaningsih Andriyani. Ya, ibu Rahmalah yang menjadi bunga mimpiku selama tiga hari tiga malam. Pula diperkuat dengan jawaban istikharahku melalui al-Qur’an.aku yakini semua itu memang sebuah jawaban yang datang dari Allah. Akupun meminta pada Allah agar semua ini adalah jawaban yang memang akan membawaku pada kebaikan, dan mampu dipercaya oleh abah.
Secepatnya aku mendatangi abah, dan kukatakan semua hal yang kudapat selama perjalanan istikharahku. Abah tersenyum melihatku yang begitu semangat menceritakan mimpi-mimpiku juga hal lainnya. Abah mengangguk, ternyata diam-diam abah juga melakukan istikharah untukku dengan ibu Rahma. Dan hasilnya bagus. Hatiku berbunga, secepatnya pula aku minta izin pada abah untuk kembali menjemput ibu Rahma untukku pinang didepan abah dan umi juga didepan santri-santri abah. Aku menciumn tangan abah dan umi sebagai doa restu untuk ku jemput calon pendamping hidupku.
Satu hari dalam perjalanan. Akupun sampai di rumah ibu Rahma. Aku mengajaknya kembali ikut denganku ke Madura. Beliau sepertinya trauma. Tapi ku jelaskan panjanglebar semua yang telah terjadi. Bahkan aku yakinkan ibu Rahma, bahwa dalam dirinya ada keistimewaan yang tak pernah ia sadari. Ya, dia punya cinta yang dahsyat untuk belajar menjadi muslimah sejati. Selang beberapa jam setelah itu, ibu Rahmapun berusaha yakin dan mau ikut denganku lagi. Kami pun segera berangkat ke Madura.
###
Aku dan ibu Rahma sampai dihalaman rumah. Dengan cepat aku langsung membawa ibu Rahma ke mushallah. Aku panggil abah dan umi, juga beberapa santri untuk menyaksikan pertunangan aku dan ibu Rahma. Tapi sayang, abah tiba-tiba tidak menyetujui pertunangan yang akan kami laksanakan hari ini. Kecuali kami langsung melaksanakan pernikahan. Dengan hati bahagia dan penuh yakin aku katakan itu pada ibu Rahma, dan al-hamdulillah beliau mengiyakan. Karena kebetulan beliau sudah tidak punya keluarga, jadi kami panggil hakim untuk menjadi wali ibu Rahma, dan malam itupun acara berlangsung sesuai harapan kami. Meski tidak begitu mewah, tapi kami sangat bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah pada kami.
Semua terlihat bahagia, apalagi ibu Rahma yang malam ini tampil sangat cantik dengan memakai gaun yang umi berikan. Kami pun saling melempar senyum. Akhirnya acara selesai, abah dan umi mengajak para santri untuk meninggalkan kami. Lalu aku dan ibu Rahma saling memandang, setelah itu aku mengajaknya untuk istirahat.
2011
0 comments:
Post a Comment