Sunday, April 6, 2014

Cerita II "Bermaksud melindunginya; malah Bertengkar"


Hari ini aku dan sahabatku bertengkar lagi, hanya karena salah paham. Masalah yang cukup spele.
Berawal dari sms “Kamu kenapa? Semalam kok smsnya cuek ke aku? Aku sms jawabnya pendek. Aku menyuruhmu agar menelponku, kau bilang lagi tidak bisa nelpon. Kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya sedang butuh istirahat, jadi tidak begitu bisa banyak bicara atau untuk sekadar banyak mengetik sms” jawabku lewat sms.
“Tapi kau tidak sedang punya masalah kan? Ayolah cerita”
“Tidak kok J aku baik-baik saja”
“Padahal aku akan membantumu jika kau punya masalah. Kau loh sering bantu aku, jadi jangan mikir itu membebankan atau tidak”
“Tidak. Aku baik-baik saja”
Air mataku mengalir sambil kuketik sms itu. Entah sejak beberapa hari lalu pikiranku sangat berat. Ada banyak hal yang membuat diriku merasa tak nyaman di sini. Di kota yang membuatku jauh dari orangtuaku.
Pertama, aku memikirkan masalah keuanganku. Selain uang saku yang sudah tidak ada, aku kepikiran ke uang pendaftaran ujian PKL ku, padahal pendaftarannya besok. Sedangkan saat aku nelpon ibuku, pasti beliau bilang “Nak, jangan boros-boros ya, disini juga lagi tidak ada uang. Kakak iparmu baru kemarin malam berangkat ke Jember, mau kerja disana. Mumpung lagi libur kerjaan yang di sini” padahal aku belum bilang bahwa aku butuh uang. Lalu apa yang harus aku katakan? Bilang tidak, sudah keduluan ibu yang bilang! Sedangkan aku juga ada hutang  pada teman kelasku beberapa ribu karena kemarin beli alat untuk printku.
Pokoknya banyak yang aku pikirkan, dan itu membuatku merasa sangat lelah.
Dan semua itu tidak mungkin aku bicarakan atau aku ceritakan pada sahabatku. Karena aku tahu, dia baru sembuh dari sakitnya. Apalagi dia sudah sangat sering membantuku dalam hal keuangan. Jadi aku sudah sungkan jika akan bercerita masalah keuangnku ini.
Aku hanya berniat agar dia tidak merasa terbebani dengan apa yang sedang menjadi masalahku beberapa hari ini.
“Yasudah kalau kamu gak percaya ke aku. Maaf tidak bisa menjadi pundakmu, dan sahabat yang baik untukmu, Ra”
Setelah itu dia gak sms lagi. aku sms juga gak dibalas. Ya, aku paham, mungkin dia merasa tidak berguna untukku. Padahal dia merasa aku selalu menolongnya saat dia dalam keadaan sulit.
Lagi-lagi aku berpikir, “Andaikan aku jujur saja, andaikan aku bercerita” hufh. Aku makin lelah. Ternyata semua yang kulakukan juga lebih membuat dia berpikir yang tidak-tidak. Memang jujur itu akan lebih sangat menguntungkan, apapun nati yang akan terjadi setelahnya. Dia bisa membantuku atau tidak. Dari pada keadaan jadi begini. Niatku agar dia tidak terbebani dengan masalahku ternyata membuat dia malah merasa tidak berguna menjadi sahabatku.

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates