“Aku
hanya merasa sudah menyakiti hati bu kostku” ucapku dengan wajah yang tampak
menyesal.
Aku tidak tahu
sebenarnya apa yang terjadi. Hanya tiba-tiba sore tadi kostanku riuh.
“Tadi diletakkan dimana? Padahal waktu kita
sahur masih ada di sini, di dekat tembok ini kalau begini jadinya ya kita gak
nikmat yang mau buka puasa! Padahal sudah mateng-mateng kita rencanakan menu
buka puasa kita sejak tadi pagi” ujar si “A” sambil menunjuk ke ember kecil
tempat bumbu-bumbu masakan itu pada kami.
Cerita
Awal
Sambal kacang
yang kubawa dari desa hilang tiba-tiba. Kami sangat ingat bahwa sambal itu kami
letakkan di samping tempat bumbu-bumbu masakan yang lain, dekat tembok kamarku.
Kami berempat sejak beberapa hari lalu berpuasa, untuk hari ini sudah ada
rencana sejak pagi apa sih yang akan kami makan untuk buka puasa nanti; salah
satunya adalah tahu sambal kacang kecap. Kami suka itu.
Tapi sayang,
setelah sore tiba, sekitar pukul lima lewat, saat kami harus mempersiapkan
segala macam menu buka puasa di depan kamar kami, tempat makan bnersama kami,
ada sesuatu yang hilang.
“Ini pasti bu
kost tadi. Soalnya dia yang ambil plastik di sini. Siapa lagi coba?” ujar si
“M”
“Iya, kan memang
biasa begitu” tambah si “S”
“Yasudahlah,
pakek kecab sama lombok aja ya. Enak gak enak makan saja” ujarku. Padahal aku
juga sangat eman sama sambal kacangku.
“Ibu gak ngambil
apa-apa disitu, ibu kan sudah bilang nak. Bahwa ibu memang pengen sambal
kacangmu itu, tapi tidak dengan cara ngambil. Ibu masih paham hukum agama nak!”
kami kaget, ternyata bu kost mendengarkan semua percakapan kami. Lalu beliau
pergi ke kamarnya.
......
Kami sama-sama
bungkam.
“Andaikan tak
ada yang menuduhnya, mungkin semua tak akan jadi begini. Bu kost jarang lagi
masuk ke kost ini” gumamku.
0 comments:
Post a Comment