Sunday, April 6, 2014

Cerita I "Sebaiknya Memang Harus Tidak Menuduh"


“Aku hanya merasa sudah menyakiti hati bu kostku” ucapku dengan wajah yang tampak menyesal.
Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Hanya tiba-tiba sore tadi kostanku riuh.
 “Tadi diletakkan dimana? Padahal waktu kita sahur masih ada di sini, di dekat tembok ini kalau begini jadinya ya kita gak nikmat yang mau buka puasa! Padahal sudah mateng-mateng kita rencanakan menu buka puasa kita sejak tadi pagi” ujar si “A” sambil menunjuk ke ember kecil tempat bumbu-bumbu masakan itu pada kami.
Cerita Awal
Sambal kacang yang kubawa dari desa hilang tiba-tiba. Kami sangat ingat bahwa sambal itu kami letakkan di samping tempat bumbu-bumbu masakan yang lain, dekat tembok kamarku. Kami berempat sejak beberapa hari lalu berpuasa, untuk hari ini sudah ada rencana sejak pagi apa sih yang akan kami makan untuk buka puasa nanti; salah satunya adalah tahu sambal kacang kecap. Kami suka itu.
Tapi sayang, setelah sore tiba, sekitar pukul lima lewat, saat kami harus mempersiapkan segala macam menu buka puasa di depan kamar kami, tempat makan bnersama kami, ada sesuatu yang hilang.
“Ini pasti bu kost tadi. Soalnya dia yang ambil plastik di sini. Siapa lagi coba?” ujar si “M”
“Iya, kan memang biasa begitu” tambah si “S”
“Yasudahlah, pakek kecab sama lombok aja ya. Enak gak enak makan saja” ujarku. Padahal aku juga sangat eman sama sambal kacangku.
“Ibu gak ngambil apa-apa disitu, ibu kan sudah bilang nak. Bahwa ibu memang pengen sambal kacangmu itu, tapi tidak dengan cara ngambil. Ibu masih paham hukum agama nak!” kami kaget, ternyata bu kost mendengarkan semua percakapan kami. Lalu beliau pergi ke kamarnya.
......
Kami sama-sama bungkam.
“Andaikan tak ada yang menuduhnya, mungkin semua tak akan jadi begini. Bu kost jarang lagi masuk ke kost ini” gumamku.

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates