Monday, April 7, 2014

Story VI "ASMARA PUN KADANG JADI PENCURI WAKTU" ; maka biarkan saya tetap memegang prinsip yang dulu


Sejak saya kelas 4 SD dulu, saya berpikir bahwa selama saya masih belajar atau menuntut ilmu saya tidak akan pernah menyentuh yang namanya cinta (Pacaran dll), karena menurut saya perihal itu akan sangat mengganggu pada proses belajar saya, dan saat itu hingga saya melalui bangku SMP, SMA, bahkan saat sudah di bangku kuliah saya mampu tetap mempertahankan prinsip saya itu. Ya, meski memang didalam hati pasti ada rasa yang sudah bisa dikatakan cinta. Namun saya tetap bertahan agar tidak tergoda.
Hingga akhirnya saya tiba di kota dingin, Malang. Saya mulai punya banyak teman, perempuan, laki-laki sekampus bahkan diluar kampus. Ada banyak cerita yang asyik untuk di dengarkan dari teman-teman saya, tentang asmara mereka pastinya; bertengkar karena tak ada waktu satu dengan pasangan lainnya, karena cemburu, dll.
Di sisi lain ada juga yang bercerita pada saya, bahwa memang menjalin hubungan katanya sangat menyita waktunya, teman saya pernah sampai tidak masuk kuliah, bolos kerja, karena pacarnya kadang ngajk dia jalan. Atau kalau tidak saat teman saya stress gara-gara disakitin oleh pacarnya malah membuat dia bolos kuliah selama semingguan. Nyaris, membuat saya “Kadang” merasa bersyukur masih belum berada dilingkaran itu. Masih mulus kuliah dan tak merasa terganggu karena jalinan asmara.
Meski kata banyak orang, sudah lumrah orang seusia saya sudah punya pasangan untuk nanti persiapan di masadepan, karena sudah semester 6 dan sebentar lagi wisuda. Tapi saya selalu percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan saya jodoh. Tanpa harus saya ikat sekarang dengan status pacaran, dll.
Dan kali ini, kali pertama saya merasa hati saya bergemuruh. Setelah sekian lama, sekian tahun saya mempertahankan idealisme pemikiran saya tentang konsep cinta dan cita-cita, tentang kemulusan belajar hingga lulus S1, hari ini saya merasa dilumpuhkan total. Perasaan yang seperti tak bisa saya simpan lagi, rasa yang sudah beku di hati saya mulai menyentuh logika saya dan mengatakan bahwa cinta itu butuh untuk keseimbangan proses cita-cita. “Hah? Apakah iya harus dengan jalan berpacaran? No!” gumam saya.
Ya, beberapa hari ini, sampai malam ini saya merasa sudah terganggu dengan asmara yang tiba-tiba menggelitik hati saya. Jika dibilang jatuh cinta iya. Tapi entah saya harus bagaimana, karena saya masih harus fokus pada kelanjutan kuliah saya yang saat ini semakin harus disereusi. PKL, Ujian< KKN, Skripsi. Hah... ya. Saya harus melewati itu dulu dan harus fokus agar hasilnya maksimal. Karena saya tidak mau jika saya nanti memutuskan untuk menjalani asmara saya, ternyata malah saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan orang yang menjadi kekasih saya.
Tekad saya mulai malam ini, berusaha tetap tenang, meluruskan kembali arah hati yang mulai terganggu. Harus tetap semangat, melanjutkan prinsip yang lahir saat saya berumur 7 tahunan itu.

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates