Sejak saya kelas
4 SD dulu, saya berpikir bahwa selama saya masih belajar atau menuntut ilmu
saya tidak akan pernah menyentuh yang namanya cinta (Pacaran dll), karena
menurut saya perihal itu akan sangat mengganggu pada proses belajar saya, dan
saat itu hingga saya melalui bangku SMP, SMA, bahkan saat sudah di bangku
kuliah saya mampu tetap mempertahankan prinsip saya itu. Ya, meski memang
didalam hati pasti ada rasa yang sudah bisa dikatakan cinta. Namun saya tetap
bertahan agar tidak tergoda.
Hingga akhirnya saya
tiba di kota dingin, Malang. Saya mulai punya banyak teman, perempuan,
laki-laki sekampus bahkan diluar kampus. Ada banyak cerita yang asyik untuk di
dengarkan dari teman-teman saya, tentang asmara mereka pastinya; bertengkar
karena tak ada waktu satu dengan pasangan lainnya, karena cemburu, dll.
Di sisi lain ada
juga yang bercerita pada saya, bahwa memang menjalin hubungan katanya sangat
menyita waktunya, teman saya pernah sampai tidak masuk kuliah, bolos kerja,
karena pacarnya kadang ngajk dia jalan. Atau kalau tidak saat teman saya stress
gara-gara disakitin oleh pacarnya malah membuat dia bolos kuliah selama
semingguan. Nyaris, membuat saya “Kadang” merasa bersyukur masih belum berada
dilingkaran itu. Masih mulus kuliah dan tak merasa terganggu karena jalinan
asmara.
Meski kata
banyak orang, sudah lumrah orang seusia saya sudah punya pasangan untuk nanti
persiapan di masadepan, karena sudah semester 6 dan sebentar lagi wisuda. Tapi saya
selalu percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan saya jodoh. Tanpa harus saya ikat
sekarang dengan status pacaran, dll.
Dan kali ini,
kali pertama saya merasa hati saya bergemuruh. Setelah sekian lama, sekian
tahun saya mempertahankan idealisme pemikiran saya tentang konsep cinta dan
cita-cita, tentang kemulusan belajar hingga lulus S1, hari ini saya merasa
dilumpuhkan total. Perasaan yang seperti tak bisa saya simpan lagi, rasa yang
sudah beku di hati saya mulai menyentuh logika saya dan mengatakan bahwa cinta
itu butuh untuk keseimbangan proses cita-cita. “Hah? Apakah iya harus dengan
jalan berpacaran? No!” gumam saya.
Ya, beberapa
hari ini, sampai malam ini saya merasa sudah terganggu dengan asmara yang
tiba-tiba menggelitik hati saya. Jika dibilang jatuh cinta iya. Tapi entah saya
harus bagaimana, karena saya masih harus fokus pada kelanjutan kuliah saya yang
saat ini semakin harus disereusi. PKL, Ujian< KKN, Skripsi. Hah... ya. Saya harus
melewati itu dulu dan harus fokus agar hasilnya maksimal. Karena saya tidak mau
jika saya nanti memutuskan untuk menjalani asmara saya, ternyata malah saya
tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan orang yang menjadi kekasih saya.
Tekad saya mulai
malam ini, berusaha tetap tenang, meluruskan kembali arah hati yang mulai
terganggu. Harus tetap semangat, melanjutkan prinsip yang lahir saat saya
berumur 7 tahunan itu.
0 comments:
Post a Comment