Kira-kira pukul
05 pagi, saya merasa sekujur tubuh sakit. Gigil, rasa panas, juga mual
bercampur aduk. Saya pikir itu hanya pusing biasa, hingga akhirnya saya
memutuskan untuk segera mandi karena beberapa menit lagi harus berangkat ke
kampus untuk kuliah. Semua sudah siap, softcopy tugas yang akan disetor pada
jam kedua matakuliah juga rentetan pertanyaan yang sudah saya susun dari
kemarin malam karena ketidak mengertian saya pada tugas yang diperintahkan oleh
dosen terkait.
Setelah selesai
mandi, badan saya merasa semakin gemetar, akhirnya saya minta tolong teman kost
agar mendidihkan air untuk saya, rencana membuat teh hangat untuk saya minum
sebelum berangkat ke kampus. Melihat kondisi saya yang seperti lunglai, teman
saya bilang “Sudahlah Ra, tidak usah dipaksakan untuk kuliah jika memang sakit.
Orang puasa saja tidak boleh memaksakan dan menyiksa diri, ijin saja kuliahnya”
saya hanya tersenyum. Dalam hati saya bergumam “Tidak, saya harus tetap kuliah.
Saya tidak boleh kalah pada perjuangan ibu. Meski pun dia sakit, bahkan lebih
parah dari sakitku hari ini, dia tetap berangkat jualan ke pasar. Tempatnya sangat
jauh dari rumah. Mengingat juga setiap hari saya punya jatah uang 10ribu untuk
jajan dan makan, ya, jika saya tidak kuliah, maka uang itu beroperasi sia-sia. Karena
ibu mengirim aku uang saku, karena aku hendak kuliah di sini. Jadi semasih bisa
saya bertahan, saya tetap kuliah”.
Jam menunjukkan
pukul 10.15 WIB. 15 menit lagi jam pertama kuliah akan segera dimulai, saya pun
berangkat ke kampus sendirian, dengan nada jalan yang cukup gontai, lunglai,
seperti tak ada energi. Hingga akhirnya sampailah di kampus, ambil absen, lalu
naik ke lantai 3. Ke ruang kuliah. Dosen pun datang, “Rara, kenapa? Sakit yaa? Pulang
saja Ra, Ijin. Tidak apa-apa kok. Nanti materinya bisa kamu copy” ujar dosen
setelah melihat saya duduk di deretan kursi bagian belakang. Saya tersenyum
sambil menggelengkan kepala. Berharap semoga saya kuat hingga jam kuliah
selesai.
Ditengah perjalanan
menjelaskan tugas yang kami posting di kompasiana kemarin tentang artikel, rasa
sakit semakin membuat tubuh ngilu. Akhirnya saya meminta salah seorang teman
saya untuk antarkan saya ke kost. Benar-benar dipuncak sakit. Keringat sudah
mengucur keseluruh tubuh, gemetar, gigil dan semuanya sangat mengganggu
konsentrasi saya.
Maka untuk jam
kedua tepat jam 12.00 WIB. Saya tidak bisa ikut kuliah. Saya tidak bisa
mempertahankan diri saya di kampus. “Maaf bu, anakmu gagal kuliah hari ini”. Akhirnya
perlahan-lahan melangkah, sampailah di kost saya. Istirahat. Mencoba menutup
mata untuk sementara hingga sakit tak akan dirasakan lagi. namun hingga saya
terbangun pun, sakit itu masih terasa, bahkan sampai saat saya mengetik tulisan
ini. Saya masih dalam kesakitan.
“Maaf kan saya
bu, saya janji akan menjaga tubuh ini lagi. agar tak sakit lagi. saya janji
akan tetap bertahan, memperjuangkan niat saya yang kuat untuk kuliah dan cari
ilmu hingga akhirnya kau mengijinkan saya merantau ke kota yang cukup jauh ini”.
0 comments:
Post a Comment