Tuesday, April 8, 2014

Story 5 “Maaf Bu, Hari Ini Anakmu Gagal Kuliah”


Kira-kira pukul 05 pagi, saya merasa sekujur tubuh sakit. Gigil, rasa panas, juga mual bercampur aduk. Saya pikir itu hanya pusing biasa, hingga akhirnya saya memutuskan untuk segera mandi karena beberapa menit lagi harus berangkat ke kampus untuk kuliah. Semua sudah siap, softcopy tugas yang akan disetor pada jam kedua matakuliah juga rentetan pertanyaan yang sudah saya susun dari kemarin malam karena ketidak mengertian saya pada tugas yang diperintahkan oleh dosen terkait.
Setelah selesai mandi, badan saya merasa semakin gemetar, akhirnya saya minta tolong teman kost agar mendidihkan air untuk saya, rencana membuat teh hangat untuk saya minum sebelum berangkat ke kampus. Melihat kondisi saya yang seperti lunglai, teman saya bilang “Sudahlah Ra, tidak usah dipaksakan untuk kuliah jika memang sakit. Orang puasa saja tidak boleh memaksakan dan menyiksa diri, ijin saja kuliahnya” saya hanya tersenyum. Dalam hati saya bergumam “Tidak, saya harus tetap kuliah. Saya tidak boleh kalah pada perjuangan ibu. Meski pun dia sakit, bahkan lebih parah dari sakitku hari ini, dia tetap berangkat jualan ke pasar. Tempatnya sangat jauh dari rumah. Mengingat juga setiap hari saya punya jatah uang 10ribu untuk jajan dan makan, ya, jika saya tidak kuliah, maka uang itu beroperasi sia-sia. Karena ibu mengirim aku uang saku, karena aku hendak kuliah di sini. Jadi semasih bisa saya bertahan, saya tetap kuliah”.
Jam menunjukkan pukul 10.15 WIB. 15 menit lagi jam pertama kuliah akan segera dimulai, saya pun berangkat ke kampus sendirian, dengan nada jalan yang cukup gontai, lunglai, seperti tak ada energi. Hingga akhirnya sampailah di kampus, ambil absen, lalu naik ke lantai 3. Ke ruang kuliah. Dosen pun datang, “Rara, kenapa? Sakit yaa? Pulang saja Ra, Ijin. Tidak apa-apa kok. Nanti materinya bisa kamu copy” ujar dosen setelah melihat saya duduk di deretan kursi bagian belakang. Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Berharap semoga saya kuat hingga jam kuliah selesai.
Ditengah perjalanan menjelaskan tugas yang kami posting di kompasiana kemarin tentang artikel, rasa sakit semakin membuat tubuh ngilu. Akhirnya saya meminta salah seorang teman saya untuk antarkan saya ke kost. Benar-benar dipuncak sakit. Keringat sudah mengucur keseluruh tubuh, gemetar, gigil dan semuanya sangat mengganggu konsentrasi saya.
Maka untuk jam kedua tepat jam 12.00 WIB. Saya tidak bisa ikut kuliah. Saya tidak bisa mempertahankan diri saya di kampus. “Maaf bu, anakmu gagal kuliah hari ini”. Akhirnya perlahan-lahan melangkah, sampailah di kost saya. Istirahat. Mencoba menutup mata untuk sementara hingga sakit tak akan dirasakan lagi. namun hingga saya terbangun pun, sakit itu masih terasa, bahkan sampai saat saya mengetik tulisan ini. Saya masih dalam kesakitan.
“Maaf kan saya bu, saya janji akan menjaga tubuh ini lagi. agar tak sakit lagi. saya janji akan tetap bertahan, memperjuangkan niat saya yang kuat untuk kuliah dan cari ilmu hingga akhirnya kau mengijinkan saya merantau ke kota yang cukup jauh ini”.

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates