Wednesday, April 24, 2013

PRANCIS GANDENG BEBERAPA NEGARA PEKA GENDER



Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender).
Senada dengan Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dalam mana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu (Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define).
Seirama dengan pernyataan tersebut, maka Negara yang dikenal dengan Jejak Kopi di Negeri Caffe ini merupakan kategori negara yang mampu mengusung “Masalah Gender” salah satunya: hak-hak perempuan ke daratan yang lebih menjanjikan. Baik itu dari segi jabatan diranah publik: perwakilan, perkantoran, upah/gaji atau bahkan di ranah domistik: yang dahulunya masih dianggap sebagai “Second Creature” alias makhluk kelas dua, maka saat ini perempuan dianggap setara dengan kaum lelaki (dalam hal ini merupakan pembahasan secara Gender, bukan Sex).
            Selain diraihnya pengakuan positif oleh dari negara Prancis tentang kepekaan terhadap masalah Gender, Prancis ternyata juga berusaha merambatkan aktifitas dan sikap positif ini terhadap negara-negara lainnya, contohnya yaitu pada dua negara: Indonesia dan Timur Leste.
            Uniknya, negara kopi ini mampu mengajak atau melibatkan negara lain untuk benar-benar mampu merealisasikan masalah gender ini dengan baik melalui cara yang mudah yaitu mengadakan suatu acara yang didalamnya itu ada aktifitas penyerahan piagam penghargaan terhadap perempuan aktifis di negara kita Indonesia. Hal tersebut secara tersirat, negara Prancis sebenarnya menyuntik kita untuk mampu peka terhadap kinerja para politisi/aktifis perempuan yang patut dihargai, dan diberi pengakuan atas keberadaannya. Bukan malah kita mencemooh, mencela atau bahkan mengkerdilkan jiwa pejuang perempuan dengan cara yang tidak etis, seperti halnya yang masih banyak terjadi di negara kita khususnya yaitu: perempuan sudah diberi lebel penjaga rumah, penjaga kasur, atau penjaga cermin.
            Seperti halnya apa yang telah disampaikan oleh Dirjen UNIESCO dalam Chaidar (2013), bahwa “Tidak akan ada pembangunan manusia jika tidak ada pembangunan terhadap perempuan. Usaha mereka harus dihargai, didukung dan didorong” sebaris kalimat tersebut sudah membuktikan bahwasanya kita seharusnya mampu lebih memahami makna seorang perempuan itu sendiri. karena pada khakikatnya seorang laiki-laki itu juga akan berhasil jika perempuannya (istri:dalam rumahtangga) mampu mendorong kinerja suami.
Maka karena hal tersebut, sangatlah baik jika sosialisasi serta realisasi masalah Gender di Indonesia, Timur Leste, bahkan seluruh dunia pun akan dilaksanakan dan dapat perhatian dengan baik. Dengan hal ini pulalah suatu saat nanti akan terjadi suatu kesejahteraan masyarakat, warga dunia.

Tulisan ini bersumber dari tulisan

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates