Musim telah berganti, gerimis. Setiap hari Malang
gelap dengan gumpalan awan yang mungkin akan beralih pada
hujan hingga akhirnya bumi akan basah. Sebasah hatiku yang baru
beranjak dari kemarau rasa. Dan hari ini, aku menemukanmu. Menemukan senyummu
sebagai penghangat hatiku yang kedinginan. Menemukanmu yang terlampau menjadi mimpi panjangku selama ini. Karena hanya kali ini, aku berani mencintai seorang
perempuan. Dan itu kamu, meski aku tahu kamu tidak akan memiliki perasaan ini
bahkan juga tak mau tahu dengan perasaan ini. Meski dengan perasaan ini aku tak
yakin kau akan menerimaku sebagai orang yang memiliki rasa padamu. Karena
agamaku. Agama yang sangat bertentangan dengan agama yang kau anut. Tapi inilah
rasa, Najma. Rasa yang tak mampu aku halangi bahkan aku hapus dengan alasan
agama. Tidak, aku tidak bisa.
“Ar, kok sendiri?” Tiba-tiba Badu
mengagetkanku dengan sapanya. “Heh.. bukannya memang biasa aku sendiri Du?” jawabku
sambil menepuk pundaknya. “Di mana si Najma? Bukankah
biasanya kamu sering bersama dia?” ujarnya lalu dia duduk disampingku. “Tidak sering kok. Cuma ketika ada tugas kimia, kami
bareng. Dia belajar ke aku. Kalau nggak, ya nggak bareng lah. Mungkin kau sering lihat ketika ada
tugas itu, jadi kau menyimpulkan kami sering bareng, hahaha” Jawabku sambil menertawakan
Badu yang salah meletakkan rokoknya pada hidungnya “Oh... jadi kamu hanya jadi budak tugasnya?” ujar
Badu sambil mengubah
posisi rokoknya itu. “aku tidak merasa
jadi budaknya kok. Wajar ada teman yang mau belajar pada kita” Tanggapku seraya memasukkan
lubang sepatu ke kaki kananku
“Ya, tapi kan” “Ah udahlah, ngomong
denganmu kayak ngomong dengan ponaanku yang masih balita tuh. Oya, sekarang
kamu kuliah apa?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin dengan
apa yang tadi Badu katakan, membuat hatiku ragu untuk berharap memiliki Najma.
“Pengantar Sosiologi
bagian Pak Afan. Kamu?” tanyanya balik.
Berarti dia tidak curiga kalau sebenarnya aku hanya mengalihkan pembicaraan. “Kimia.
Bu Retno” jawabku sambil melangkah lebih cepat dari arah Badu. Lima menit lagi,
kelas masuk. “Wow, bakal bareng dengan Najma lagi dong?”
Aku terkejut mendengarnya meneriakkan nama Najma. Hah, tapi sudahlah. Aku
acuhkan. Aku harus cepat-cepat sampai ke kampus. Karena kebetulan kostku lulmayan dekat
dengan kampus, jadi aku tak perlu membawa motor. Cukup dengan jalan kaki, lima
menit akan sampai.
@@@
Mataku seperti menerobos dinding kelas. Aku
melihat Najma bercanda dengan teman-temannya. Ada keceriaan, ada cinta disetiap
matanya. Meski aku tahu, pesona cinta yang ada dimatanya itu bukan untukku. “Hei
Ar,.. kapan kamu nyampek kesini? Kok tiba-tiba udah duduk?” Najma tiba-tiba berbalik arah dari
temannya lalu berdiri dihadapanku dan aku sangat tak menyadari itu. “Baru saja kok. Kau lagi asyik ngobrol dengan
teman-temanmu. Jadi aku tidak ingin mengganggu” ujarku. “Oh... oya Ar, ntar pastinya aku bareng kamu lagi ya, hehe… takut ada tugas lagi dari dosen” ucapnya sambil
menawarkan senyum untukku. Aku hanya mengangguk. Entahlah, kenapa tiba-tiba aku
merasa tak yakin dengan harapanku. Aku tak yakin dengan cinta ini. Apa mungkin
ini hanya sebatas rasa hawatirku atas apa yang mulai tadi Badu katakan? Yah, benar. Aku terperangkap atas ucapannya tadi. Tapi sudahlah, aku akan
tetap yakin pada hatiku. Termasuk apa yang hatiku rasakan. “Ada dosen, aku
ketempatku dulu” bisik Najma. Lalu dia pindah tempat.
Satu
setengah jam berlalu, dosen keluar. Seperti biasa, setiap pertemuan dosen pasti
memberikan oleh-oleh pada kami. Tugas. Tapi bedanya sekarang tugas itu untuk
berkelompok, dan sayang, Najma bukan bagian dari kelompokku. Dia dengan Alfan,
anak Probolinggo, pastinya dia adalah laki-laki beragama Islam, dia juga lumayan jago dalam materi Kimia. Kenapa aku kepikiran tentang hal ini, keterlaluan. Tak seharusnya aku
berlebihan seperti ini. Aku tak ingin menyiksa diriku dengan rasa yang belum
pasti dia memilikinya juga. “Ar, aku pulang duluan ya” Pamit Ningsih yang
kebetulan duduk disamping kananku. “Ar, nanti sore aja ya kelompoknya. Soalnya
habis ini aku langsung kerja. Ntar aku hubungi kamu” ucap Siska, satu-satunya
perempuan yang ada dikelompokku, dia super sibuk. Selain aktif di organisasi, dia juga kerja di perusahaan laptop, itu untuk membuat dirinya mampu
membiayai kuliah sendiri. “Oke, nggak
apa-apa kok. Aku mengerti” Jawabku. Diapun langsung keluar kelas. Aku lihat
Najma masih ada dikursi belakang dengan Alfan dan Maysa. Mungkin mereka masih
membahas tugas tadi. Aku tak mau berlama-lama disini. Aku mau pulang saja. Aku jadi ngerasa lapar. “Ar,....” sepertinya ada suara yang memanggilku.
Najma. Iya, itu suaranya. Aku menghentikan langkahku. Aku menoleh. Najma
menghampiriku. “Kau langsung pulang Ar?” tanyanya didepanku. Aku
mengangguk. “Gimana kalau ngobrol-ngobrol dulu dengan kami? Ngopi di kantin dari pada pulang, sepi
nggak ada temennya” ujarnya sambil
tersenyum dan melirik kearah dua temannya yang kebetulan sudah ada disampingnya. “Oke, ayo” jawabku singkat, lalu kami berempat keluar dari ruang perkuliahan. Kami mencari tempat duduk di kantin. Maysa
memesan kopi dan makanan ringan. Pembicaraan kami berlanjut. Tiba-tiba Najma mempertanyakan
keadaan shalat teman-temannya semenjak ada di kota Malang ini. “Oh, kalau aku
ngerasa gimana ya, kayaknya
makin alim deh.
Hehehe” Jawab Alfan sambil menerina kopi dari pelayan kantin. “Bagaimana denganmu Sa?” Najma melemparkan pertanyaannya pada Maysa. “Duh, ini nih gawatnya. Aku makin nakal!” jawab Maysa sambil membuka bungkusan
kecil warna merah ditangannya. “Waduh,
nakalnya gimana tuh Sa. Ninggalin shalat maksudnya? Gawat kalo gitu Sa” Najma
melirik kearahku. “kamu Ar?” aku terkejut. Apa yang harus aku jawab? Sedangkan
aku tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan. “Ar,...” Najma kembali
memanggil namaku. “Hm,.. aku merasa lebih senang saja untuk melaksanakan kewajiban
itu” jawabku yang agak
kaku. “Wow,.. hebat dong, kalau udah
senang berarti akan selalu istiqamah”. Najma belum tahu, kalau aku beragama
Kristen. Bahkan semua teman-teman kelasku. Karena memang sebelumnya tak ada
yang mengenaliku di kampus ini. Kecuali Badu, yang memang temanku dari daerahku
dan kebetulan seagama denganku. Jadi hanya dia yang tahu. “Sudah waktunya
beribadah, sebaiknya kita pulang” ujarku pada mereka saat aku mendengar suara
yang biasa disebut adzan oleh mereka. “Duh, nih anak benar-benar alim. Pengen
deh punya cowok kayak dia. Alim banget” ucap Najma. Aku tersentak, kopi yang tadinya ingin aku hirup
nyatanya tumpah mendengarkan ucapan Najma tadi, ucapan cinta yang ternyata akan ia bagi pada seseorang
yang sangat taat dalam menjalankan perintah agamanya. Sedang aku? “Cie.....cie...
ayo Ar, jadiin dia pacarmu” ejek si Maysa. Aku hanya tersenyum. “Apaan sih,
aku bercanda kok Ar. Jangan dengerin dia” jawab Najma sambil tersipu malu. “Yaudah kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai
jumpa besok” aku langkahkan kakiku dari tempat duduk. “Ar, sekalian aku minta
tolong anterin Najma ke kostnya. Soalnya aku dengan Alfan mau langsung ke toko
buku dulu. Nggak apa-apa kan Ar?” aku mengangguk. “Nggak usah Ar” ucap
Najma. “Ayo, gak apa-apa kok. Aku temani kamu, yah tapi dengan jalan kaki. Aku lagi nggak bawa motor” ujarku lalu kembali mendekati
tempat duduk Najma. Najma pun berdiri dan melangkah kearahku sambil tersenyum. Kami pulang.
“Kau diam Ar?” tanya Najma sambil melangkahkan kakiknya di trotoar jalan belakang kampus. “Aku merasa tidak ada yang harus dibicarakan
Naj. Yaudah kamu aja yang ngomong, entar aku nyambung” jawabku yang masih dalam posisi menundukkan
kepala, aku benar-benar takut salah tingkah. “Kau tidak suka bareng denganku ya?” aku menoleh kearah Najma. Aku
menatap wajahnya “Kenapa kamu tanya
itu?” “Ya soalnya
ketika kau bersamaku kamu tidak ceria seperti saat dengan para perempuan yang
lain” ucapnya sambil
memainkan daun yang baru saja ia petik dari tanaman yang tumbuh dipinggir
jalan. “Ar, sangat beruntung ya cewek
yang bakal ada disampingmu. Kau baik, perhatian, pinter, alim, hm… yah meskipun baru 2 tahun ini
aku kenal kamu” aku berhenti
melangkah. Hatiku teriris mendengarkan ucapan Najma tadi. Aku
benar-benar merasa tak akan mendapatkan cintanya. “Ar kenapa diam?
Apa aku salah ngomong kayak gitu?” “Tidak. Aku belum kepikiran memiliki
pendamping Najma. Aku belum menemukan perempuan itu. Perempuan yang akan
menerima keadaanku” akupun
kembali angkat mulut lalu melangkahkan kakiku lagi. ”Sampai saat ini?” tanya Najma dan aku mengangguk. “Atau kamu mau untuk menjadi perempuan itu?” spontan aku katakan seperti itu pada
Najma. “Maksudmu?” Najma menghentikan langkahnya. “Oh, nggak. Aku bercanda kok. Tenang, aku nggak
mungkin mengganggu kamu. Lagian mana mungkin kau mau sama laki-laki sepertiku”.
“Andaikan kamu yakin dengan apa yang tadi kamu katakan. Aku akan menjawabnya.
Tapi sayang, kamu hanya sebatas bercanda Ar, hah lupakan masalah itu” ucapnya dan tersenyum padaku.
“Sudah sampai Naj. Sebaiknya kamu masuk ke kostmu, istirahatlah. Aku pamit pulang
dulu” aku meninggalkan Najma. Aku tak mau melanjutkan percakapan yang tak
mungkin membuat jawaban iya pada hatiku. Najma takkan mencintaiku jika dia tahu
aku bukan orang muslim. Jadi aku tak mau mencoba mengatakan hal
ini padanya, biarlah cinta ini bersemi mengikuti musim yang sebentar lagi akan
meninggalkan gerimisnya.
Lalu kering bersamaan dengan kemarau.
@@@
“Kalau kau memang suka sama dia, katakan Ar.
Jangan pedulikan apa agamamu dan apa agamanya. Lagian dia tidak tahu kan kalau
kamu non muslim. Apalagi dia memang udah nganggap kamu muslim juga” saran Badu
ketika aku selesai bercerita padanya tentang keadaan hatiku. “Sama saja aku
membohonginya Du, dan aku tak mau dia mencintaiku atas dasar cinta yang tumbuh
karena salah paham. Aku tak ingin membuatnya membenci aku ketika
nanti dia tahu
kalau aku bukan orang muslim seperti apa yang dia anggap” cakapku yang masih dalam keadaan duduk dikursi
ruang tamu di kostku. “Yah kalau memang
begitu, lupakanlah Najma. Tidak ada gunanya kau memendam
perasaan yang kau yakin tak akan menemukan ujungnya Ar. Itu Cuma saranku.
Terserah apa yang akan kau lakukan. Ingat dia sudah memberimu peluang untuk kau benar-benar memilikinya, itu terserah bagaimana tindakanmu
selanjutnya. Dan satu hal, dia tidak akan pernah tahu agamamu yang sebenarnya
kalau kamu tidak memberi tahunya. Makanya jangan takut karena
itu”. Aku diam. Sejenak aku memikirkan apa yang Badu katakan. Pikiranku membenarkan apa yang tadi Badu katakan, Najma tidak akan pernah tahu agamaku jika aku tidak mengatakan padanya.
Jadi... “Oke Du. Aku akan mencoba mengungkapkan hal ini padanya, sekarang.” Aku
putuskan hal itu pada Badu, sebelum berubah pikiran lagi. “Gitu dong, baru itu Ariyan sahabatku” ujarnya seraya menepuk bahu kananku dengan
sangat keras, mungkin dia sangat bahagia mendapati aku yang mampu mengambil
keputusan untuk hidupku sendiri. “Yaudah
aku ke kost dia sekarang” pamitku pada Badu. Aku berlari, aku lihat sepertinya
langit akan merubah mendungnya menjadi hujan, jadi aku pun lebih cepat menyusuru jalan
menuju kost Najma. “Ar, ngapain
disini?” kudapati tubuh
Najma di depan pintu gerbang kostnya. “Kamu mau kemana Naj?” aku pun menghentikan langkahku dan meletakkan
tubuhku untuk berdiri di samping Najma. “Ke kost Maysa. Ada perlu sama dia, kenapa?” jawabnya sangat
datar. “Boleh aku bicara sebentar?”
“Tentu. ada apa Ar?
Serius banget kau” ujarnya “Ucapanku yang kemarin siang ingin aku benarkan Naj. Aku ingin permpuan yang menemaniku itu kamu” akupun mulai mengangkat topik pembicaraanku “Bisa aja kamu
Ar, udahlah jangan bahas itu. Ayo kalo mau ikut ke kost Maysa” Najma sibuk memainkan handphonenya. “Dengan cara apa aku harus meyakinkanmu untuk
menyatakan itu kembali Naj? Aku tahu Naj kamu tidak akan mempercayai
semua ini. Karena kau pun tidak akan pernah berharap kata-kata ini keluar dari
mulut seorang Ariyan. Laki-laki yang belum begitu kamu kenal, laki-laki yang
belum mampu memberikan apa-apa kepadamu. Tidak seperti yang lain, bukankah begitu? Aku memberimu waktu untuk memikirkan perkataanku
tadi. Itu saja, mungkin aku langsung pulang saja. Takut
senbetar lagi hujan. Sampai jumpa besok” aku
langkahkan kakiku. Aku berharap membawa cinta dengan kepulanganku. Tapi sayang,
itu tidak terjadi. Najma belum bisa menerima ini dan aku tak mungkin memaksanya “Ar, kamu takut hujan atau kamu takut tidak
menerima jawaban dariku?” aku menoleh, Najma sepertinya menangkap apa yang barusan aku katakan dihadapannya “Kenapa? Apakah kalau aku bilang takut hujan kau
akan memberikan payung untukku? Atau jika aku bilang takut tidak menerima jawaban darimu kau akan memberikan jawaban itu untukku?” Najma tersenyum
“Yaudah, sekarang kau minta payung apa jawaban?” jawabnya sambil mendekatkan dirinya
kesampingku. “Aku minta jawaban. Karena jawaban itu adalah payung bagiku” semakin aku rasakan
betapa bahagianya berada disampingnya. Sangat dekat. “Oke. Aku akan mencoba untuk menjadi perempuan itu. Aku akan mencintaimu. Sudah, sekarang pulang. Aku sudah memberikan jawaban yang akan kau jadikan
payung untukmu pulang” dia
pun tersenyum, aku spontan memeluk tubuhnya. “Kau serius akan menjadi yang ku katakan tadi?” tanyaku
dalam pelukannya dan Najma mengangguk, aku pun melepaskan pelukanku “Aku juga berharap akan mendapatkan orang
sepertimu Ar, yang
suatu saat mampu menjadi imam shalatku” mataku terhenti
menatapnya. Hatiku bergetar mendapatkan bahasa itu dari Nama, tapi sudahlah aku
tak mau memikirkan hal itu. Toh nanti Najma juga akan menerimaku, seiring
dengan waktu.
@@@
Sudah lima bulan aku menjalani hubungan dengan
Najma. Kurasa dia sudah benar-benar mampu mencintaiku seperti bagaimana aku
mencintainya. Badu benar, sampai kapanpun Najma tidak akan tahu tentang
agamaku. Sampai sekarang dia masih menganggapku
muslim. “Ar, sudah adzan kita shalat berjemaah di masjid yuk” “Aku
ke Lab dulu Naj, tadi bu Retno manggil aku. Mungkin nitip tugas, aku kesana
dulu nggak enak kalau terlambat datengnya. Yaudah kamu shalat duluan. Ntar aku
kesini lagi” aku balikkan tubuhku. Aku melangkah kearah kampus yang kebetulan
disebelah kanannya masjid itu. Aku duduk dikursi kantin. Aku menunggu sekiranya
Najma turun dari masjid. “Maaf Najma, terpaksa aku bohong. Tidak ada panggilan
dari bu Retno untukku. Aku hanya tak ingin memberikan jawaban yang akan
membuatmu mulai curiga terhadap aku. Karena untuk berpura-pura menjawab iya, aku pun tak tahu bagaimana
bentuknya shalat. Apalagi untuk menjadi imammu? Mustahil!” gumamku.
Sepuluh
menit berlalu, aku menghampiri Najma. Diapun telah menungguku
disamping masjid. “Maaf jika membuatmu menunggu lama. Ayo pulang, sudah siang”
“Kau shalat saja dulu. Aku tunggu di sini” “Nggak. Aku shalat di kost saja.
Lagian setelah ini aku langsung ke tempat kerja Badu” jawabku kembali berbohong. “Oh gitu. Yaudah ayo pulang. Oya Ar, besok hari
minggu, temani aku ke toko buku ya” pinta Najma padaku. “Duh, aku
nggak bisa Naj” “Kenapa Ar?” “Aku punya janji dengan Badu untuk nganter dia ke
tempat service printer, kapan-kapan ajalah” “Yaudah. Aku tunggu kamu
bisanya kapan” tak terasa
kost Najma sudah ada di depan mata kami. “Aku masuk dulu. Hati-hati” Najmapun masuk ke kostnya. Lagi-lagi aku membohonginya.
“Maafkan aku Najma, hari Minggu aku harus ke gereja dan maaf, jika aku tidak
seperti mereka yang lain, yang biasanya hari minggu adalah hari buat mereka
jalan dengan pacarnya, maaf. Aku tidak akan bisa untuk itu” gumam yang menemani
perjalananku.
@@@
Sebulan setelah Najma mengajakku ke toko buku. Aku
merasa kasian padanya. Sampai saat inipun aku belum sempat mengantarkannya
kesana. Sedang hanya hari minggulah hari libur kuliah. Setiap hari aku ada di
kampus, membantu ibu Retno menjaga Lab kimia.
“Kau belum pernah pernah menikmati hari Minggu
dengan Ariyan Naj?” ucap Maysa pada Najma. “Belum. Kenapa May?” “Ya nggak asyik aja.
Coba deh kamu ajak dia” “Udah aku ajak May. Tapi dia selalu nggak bisa. Sibuk
katanya” “Kamu nggak pernah datengi kostnya langsung?” “Belum pernah” “Coba deh
besok kamu langsung aja ke kostnya. Terus ajak dia jalan, pasti bisa kok. Nggak
mungkin dia bilang nggak bisa kalau kamu udah nyampek ke kostnya” “Boleh juga,
aku coba besok”.
Kesokan hari setelah Najma membeli
buku di daerah Landungsari bersama Maysa. Dia tak lagi mengabariku, ntahlah.
Apa mungkin dia kecapean di kostnya. Aku tak mau mengganggunya dulu. Lagian
sekarang aku harus ke gereja. Miungkin nanti aku datangi dia langsung ke
kostnya.
“Ar,.....” Najma memanggilku tepat di pintu gerbang
kostku “Cari siapa mbak?” ucap Rino teman kostku. “Ariayan
mas, dia kemana ya mas?” “Oh, biasa mbak hari Minggu” “Emangnya kemana mas?” “Ke
gereja mbak” “Gereja? Ngapain mas?” Najma mulai meninggikan suaranya yang tetap tak mengerti
maksud Rino. “Masak
sih mbak nggak ngerti. Yah kalo ke gereja berarti beribadah. Masak mau jualan. Nggak lah. Yaudah aku ke kost temen dulu mbak.
Tungguin aja mas Ariyan disitu, ntar lagi pasti dateng kok” Najma mengangguk “Tidak
mungkin, Ariyan tidak mungin ke gereja. Aku tidak percaya itu” gumam Najma
sambil duduk tersungkur di depan pintu kamarku. “Najma, ngapain disini?” tanyaku yang tiba-tiba mendapati
Najma duduk depan pintu kostku. “Dateng dari mana Ar?” dia balik bertanya padaku seraya bangun dari
duduknya. Matanya seperti habis menangis, merah. “Aku...” “Mau bilang kalau habis nganterin Badu? Atau
apalagi alasanmu Ar?” aku diam. Sepertinya Najma sudah tahu aku dari gereja.
Tuhan hanya sampai disinikah kesempatan bagiku untuk memilikinya? Aku tidak
rela jika hari ini dia meninggalkanku. “Kenapa kau tidak jawab Ar?” Najma mendekatiku. “Apa yang harus aku jawab lagi Naj? Bukankah kamu
sudah tahu aku datang dari mana? Jadi tidak ada yang perlu diperjelas lagi kan? Karena semuanya sudah cukup jelas. Jadi akan percuma jika aku
jelaskan lagi dari awal” aku
menunduk. Aku tak ingin melihat wajah Najma. “Jadi ini alasanmu kenapa selalu
menolak ketika hari minggu aku ajak pergi? Kau ke gereja? Kenapa kau harus
bohong dengan berbagai alasan?” Najma marah besar, aku terima. Semua ini
salahku. “Karena aku tahu Najma. Aku takkan bisa mengatakan hal itu padamu” aku mulai mengangkat wajahku dan
menatap wajahnya. “Lalu dari dulu
kenapa kamu pura-pura muslim Ar? Menampakkan dirimu yang sok alim, sok mengenal islam!” suara Najma meninggi. Dia menangis dan menghempaskan tubuhnya ke teras
kostku. Dia duduk dalam gamang. “Aku
tidak pernah pura-pura muslim Najma. Ketika di kantin kau menanyakan tentang
iman kita sejak ada di Malang. Aku jawab aku semakin merasa senang melaksanakan
kewajibanku. Yah, aku senang pergi ke gereja! Apa
itu salah Najma? Sama seperti kamu senang mendatangi masjid. Aku terima bahkan
aku antar kamu kesana. Ketika aku pamit pulang dengan alasan mau ibadah, itu
semata-mata ingin menghargai waktu shalatmu. Apa itu salah Najma? Sedangkan aku
tak pernah mempermasalahkan tentang kamu dan agamamu” Najma menangis. Ntah, aku
tak tahu apa yang dia rasakan sekarang. “Tapi itu masalah dalam agamaku Ar, agamaku
tidak memperbolehkan terjalinnya hubungan seseorang yang berbeda agama. Sedang
aku dan kamu beda Ar” aku menunduk. Sesekali aku tatap mata Najma, Najma berdiri lagi. “Aku mengerti Najma. Maaf jika aku telah
membuatmu begini. Mulai sekarang, aku akan meninggalkanmu. Aku akan menghapus
segala harapan tentangmu dan aku janji Najma, aku
tidak akan mengganggumu lagi. Sudah siang lebih baik kamu pulang. Aku antar ya”
Najma menatapku “Sebegitu mudah kah hal itu bagimu Ar?” Ada air mata yang jatuh di pipinya. “Tidak. Aku tidak akan memintamu untuk
lagi menemaniku Ar, kau penghianat, pembohong!” Najma berlari cepat dari
hadapanku. Ada sedu yang terdengar darinya. Dia merasakan
sakit, mungkin. Sama sepertiku juga merasakan itu. Aku juga sangat sakit
menerima semua ini Najma. Sampai sekarang, aku masih berharap kau masih
denganku, tapi aku tidak mungkin meninggalkan Yesusku karena cintaku padamu. Karena bagiku Yesus adalah MATAHARIku. Matahari
yang akan memberi kecerahan dalam hidupku. Maafkan aku jika aku tak bisa
mempertahankan cinta ini untukmu. Cukup kau tahu, bahwa aku mencintaimu dan Matahari,
Yesusku. Karena tanpa Matahari itu, aku tak kan mungkin mampu mencintaimu. Andaikan masih ada waktu untuk
menjelaskan isi hatiku padamu, tapi agh! Kau sudah
terlanjur marah dan aku tak mungkin mengejarmu lagi. Biar aku pasung hatiku di tempat lain.
0 comments:
Post a Comment