Wednesday, April 10, 2013

KAU DAN MATAHARI DI JANTUNGKU

 

Musim telah berganti, gerimis. Setiap hari Malang gelap dengan gumpalan awan yang mungkin akan beralih pada hujan hingga akhirnya bumi akan basah. Sebasah hatiku yang baru beranjak dari kemarau rasa. Dan hari ini, aku menemukanmu. Menemukan senyummu sebagai penghangat hatiku yang kedinginan. Menemukanmu yang terlampau menjadi mimpi panjangku selama ini. Karena hanya kali ini, aku berani mencintai seorang perempuan. Dan itu kamu, meski aku tahu kamu tidak akan memiliki perasaan ini bahkan juga tak mau tahu dengan perasaan ini. Meski dengan perasaan ini aku tak yakin kau akan menerimaku sebagai orang yang memiliki rasa padamu. Karena agamaku. Agama yang sangat bertentangan dengan agama yang kau anut. Tapi inilah rasa, Najma. Rasa yang tak mampu aku halangi bahkan aku hapus dengan alasan agama. Tidak, aku tidak bisa.
“Ar, kok sendiri?” Tiba-tiba Badu mengagetkanku dengan sapanya. “Heh.. bukannya memang biasa aku sendiri Du?” jawabku sambil menepuk pundaknya. “Di mana si Najma? Bukankah biasanya kamu sering bersama dia?” ujarnya lalu dia duduk disampingku. “Tidak sering kok. Cuma ketika ada tugas kimia, kami bareng. Dia belajar ke aku. Kalau nggak, ya nggak bareng lah. Mungkin kau sering lihat ketika ada tugas itu, jadi kau menyimpulkan kami sering bareng, hahahaJawabku sambil menertawakan Badu yang salah meletakkan rokoknya pada hidungnya “Oh... jadi kamu hanya jadi budak tugasnya?” ujar Badu sambil mengubah posisi rokoknya itu. “aku tidak merasa jadi budaknya kok. Wajar ada teman yang mau belajar pada kita” Tanggapku seraya memasukkan lubang sepatu ke kaki kananku “Ya, tapi kan” “Ah udahlah, ngomong denganmu kayak ngomong dengan ponaanku yang masih balita tuh. Oya, sekarang kamu kuliah apa?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin dengan apa yang tadi Badu katakan, membuat hatiku ragu untuk berharap memiliki Najma. “Pengantar Sosiologi bagian Pak Afan. Kamu?” tanyanya balik. Berarti dia tidak curiga kalau sebenarnya aku hanya mengalihkan pembicaraan. “Kimia. Bu Retno” jawabku sambil melangkah lebih cepat dari arah Badu. Lima menit lagi, kelas masuk. “Wow, bakal bareng dengan Najma lagi dong?” Aku terkejut mendengarnya meneriakkan nama Najma. Hah, tapi sudahlah. Aku acuhkan. Aku harus cepat-cepat sampai ke kampus. Karena kebetulan kostku lulmayan dekat dengan kampus, jadi aku tak perlu membawa motor. Cukup dengan jalan kaki, lima menit akan sampai.
@@@
Mataku seperti menerobos dinding kelas. Aku melihat Najma bercanda dengan teman-temannya. Ada keceriaan, ada cinta disetiap matanya. Meski aku tahu, pesona cinta yang ada dimatanya itu bukan untukku. “Hei Ar,.. kapan kamu nyampek kesini? Kok tiba-tiba udah duduk?” Najma tiba-tiba berbalik arah dari temannya lalu berdiri dihadapanku dan aku sangat tak menyadari itu. “Baru saja kok. Kau lagi asyik ngobrol dengan teman-temanmu. Jadi aku tidak ingin mengganggu” ujarku. “Oh... oya Ar, ntar pastinya aku bareng kamu lagi ya, hehe… takut ada tugas lagi dari dosen” ucapnya sambil menawarkan senyum untukku. Aku hanya mengangguk. Entahlah, kenapa tiba-tiba aku merasa tak yakin dengan harapanku. Aku tak yakin dengan cinta ini. Apa mungkin ini hanya sebatas rasa hawatirku atas apa yang mulai tadi Badu katakan? Yah, benar. Aku terperangkap atas ucapannya tadi. Tapi sudahlah, aku akan tetap yakin pada hatiku. Termasuk apa yang hatiku rasakan. “Ada dosen, aku ketempatku dulu” bisik Najma. Lalu dia pindah tempat.     
            Satu setengah jam berlalu, dosen keluar. Seperti biasa, setiap pertemuan dosen pasti memberikan oleh-oleh pada kami. Tugas. Tapi bedanya sekarang tugas itu untuk berkelompok, dan sayang, Najma bukan bagian dari kelompokku. Dia dengan Alfan, anak Probolinggo, pastinya dia adalah laki-laki beragama Islam, dia juga lumayan jago dalam materi Kimia. Kenapa aku kepikiran tentang hal ini, keterlaluan. Tak seharusnya aku berlebihan seperti ini. Aku tak ingin menyiksa diriku dengan rasa yang belum pasti dia memilikinya juga. “Ar, aku pulang duluan ya” Pamit Ningsih yang kebetulan duduk disamping kananku. “Ar, nanti sore aja ya kelompoknya. Soalnya habis ini aku langsung kerja. Ntar aku hubungi kamu” ucap Siska, satu-satunya perempuan yang ada dikelompokku, dia super sibuk. Selain aktif di organisasi, dia juga kerja di perusahaan laptop, itu untuk membuat dirinya mampu membiayai kuliah sendiri. “Oke, nggak apa-apa kok. Aku mengerti” Jawabku. Diapun langsung keluar kelas. Aku lihat Najma masih ada dikursi belakang dengan Alfan dan Maysa. Mungkin mereka masih membahas tugas tadi. Aku tak mau berlama-lama disini. Aku mau pulang saja. Aku jadi ngerasa lapar. “Ar,....” sepertinya ada suara yang memanggilku. Najma. Iya, itu suaranya. Aku menghentikan langkahku. Aku menoleh. Najma menghampiriku. “Kau langsung pulang Ar?” tanyanya didepanku. Aku mengangguk. “Gimana kalau ngobrol-ngobrol dulu dengan kami? Ngopi di kantin dari pada pulang, sepi nggak ada temennya” ujarnya sambil tersenyum dan melirik kearah dua temannya yang kebetulan sudah ada disampingnya. “Oke, ayo” jawabku singkat, lalu kami berempat keluar dari ruang perkuliahan. Kami mencari tempat duduk di kantin. Maysa memesan kopi dan makanan ringan. Pembicaraan kami berlanjut. Tiba-tiba Najma mempertanyakan keadaan shalat teman-temannya semenjak ada di kota Malang ini. “Oh, kalau aku ngerasa gimana ya, kayaknya makin alim deh. Hehehe” Jawab Alfan sambil menerina kopi dari pelayan kantin. “Bagaimana denganmu Sa?” Najma melemparkan pertanyaannya pada Maysa. “Duh, ini nih gawatnya. Aku makin nakal!” jawab Maysa sambil membuka bungkusan kecil warna merah ditangannya. “Waduh, nakalnya gimana tuh Sa. Ninggalin shalat maksudnya? Gawat kalo gitu Sa” Najma melirik kearahku. “kamu Ar?” aku terkejut. Apa yang harus aku jawab? Sedangkan aku tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan. “Ar,...” Najma kembali memanggil namaku. “Hm,.. aku merasa lebih senang saja untuk melaksanakan kewajiban itu” jawabku yang agak kaku. “Wow,.. hebat dong, kalau udah senang berarti akan selalu istiqamah”. Najma belum tahu, kalau aku beragama Kristen. Bahkan semua teman-teman kelasku. Karena memang sebelumnya tak ada yang mengenaliku di kampus ini. Kecuali Badu, yang memang temanku dari daerahku dan kebetulan seagama denganku. Jadi hanya dia yang tahu. “Sudah waktunya beribadah, sebaiknya kita pulang” ujarku pada mereka saat aku mendengar suara yang biasa disebut adzan oleh mereka. “Duh, nih anak benar-benar alim. Pengen deh punya cowok kayak dia. Alim banget” ucap Najma. Aku tersentak, kopi yang tadinya ingin aku hirup nyatanya tumpah mendengarkan ucapan Najma tadi, ucapan cinta yang ternyata akan ia bagi pada seseorang yang sangat taat dalam menjalankan perintah agamanya. Sedang aku? “Cie.....cie... ayo Ar, jadiin dia pacarmu” ejek si Maysa. Aku hanya tersenyum. “Apaan sih, aku bercanda kok Ar. Jangan dengerin dia” jawab Najma sambil tersipu malu. “Yaudah kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai jumpa besok” aku langkahkan kakiku dari tempat duduk. “Ar, sekalian aku minta tolong anterin Najma ke kostnya. Soalnya aku dengan Alfan mau langsung ke toko buku dulu. Nggak apa-apa kan Ar?” aku mengangguk. “Nggak usah Ar” ucap Najma. “Ayo, gak apa-apa kok. Aku temani kamu, yah tapi dengan jalan kaki. Aku lagi nggak bawa motor ujarku lalu kembali mendekati tempat duduk Najma. Najma pun berdiri dan melangkah kearahku sambil tersenyum. Kami pulang. “Kau diam Ar?” tanya Najma sambil melangkahkan kakiknya di trotoar jalan belakang kampus. “Aku merasa tidak ada yang harus dibicarakan Naj. Yaudah kamu aja yang ngomong, entar aku nyambung” jawabku yang masih dalam posisi menundukkan kepala, aku benar-benar takut salah tingkah. “Kau tidak suka bareng denganku ya?” aku menoleh kearah Najma. Aku menatap wajahnya “Kenapa kamu tanya itu?” “Ya soalnya ketika kau bersamaku kamu tidak ceria seperti saat dengan para perempuan yang lain” ucapnya sambil memainkan daun yang baru saja ia petik dari tanaman yang tumbuh dipinggir jalan. “Ar, sangat beruntung ya cewek yang bakal ada disampingmu. Kau baik, perhatian, pinter, alim, hm… yah meskipun baru 2 tahun ini aku kenal kamu” aku berhenti melangkah. Hatiku teriris mendengarkan ucapan Najma tadi. Aku benar-benar merasa tak akan mendapatkan cintanya. “Ar kenapa diam? Apa aku salah ngomong kayak gitu?” “Tidak. Aku belum kepikiran memiliki pendamping Najma. Aku belum menemukan perempuan itu. Perempuan yang akan menerima keadaanku” akupun kembali angkat mulut lalu melangkahkan kakiku lagi. ”Sampai saat ini?” tanya Najma dan aku mengangguk. “Atau kamu mau untuk menjadi perempuan itu?” spontan aku katakan seperti itu pada Najma. “Maksudmu?” Najma menghentikan langkahnya. “Oh, nggak. Aku bercanda kok. Tenang, aku nggak mungkin mengganggu kamu. Lagian mana mungkin kau mau sama laki-laki sepertiku”. “Andaikan kamu yakin dengan apa yang tadi kamu katakan. Aku akan menjawabnya. Tapi sayang, kamu hanya sebatas bercanda Ar, hah lupakan masalah ituucapnya dan tersenyum padaku. “Sudah sampai Naj. Sebaiknya kamu masuk ke kostmu, istirahatlah. Aku pamit pulang dulu” aku meninggalkan Najma. Aku tak mau melanjutkan percakapan yang tak mungkin membuat jawaban iya pada hatiku. Najma takkan mencintaiku jika dia tahu aku bukan orang muslim. Jadi aku tak mau mencoba mengatakan hal ini padanya, biarlah cinta ini bersemi mengikuti musim yang sebentar lagi akan meninggalkan gerimisnya. Lalu kering bersamaan dengan kemarau.
@@@
“Kalau kau memang suka sama dia, katakan Ar. Jangan pedulikan apa agamamu dan apa agamanya. Lagian dia tidak tahu kan kalau kamu non muslim. Apalagi dia memang udah nganggap kamu muslim juga” saran Badu ketika aku selesai bercerita padanya tentang keadaan hatiku. “Sama saja aku membohonginya Du, dan aku tak mau dia mencintaiku atas dasar cinta yang tumbuh karena salah paham. Aku tak ingin membuatnya membenci aku ketika nanti dia tahu kalau aku bukan orang muslim seperti apa yang dia anggap” cakapku yang masih dalam keadaan duduk dikursi ruang tamu di kostku. “Yah kalau memang begitu, lupakanlah Najma. Tidak ada gunanya kau memendam perasaan yang kau yakin tak akan menemukan ujungnya Ar. Itu Cuma saranku. Terserah apa yang akan kau lakukan. Ingat dia sudah memberimu peluang untuk kau benar-benar memilikinya, itu terserah bagaimana tindakanmu selanjutnya. Dan satu hal, dia tidak akan pernah tahu agamamu yang sebenarnya kalau kamu tidak memberi tahunya. Makanya jangan takut karena itu”. Aku diam. Sejenak aku memikirkan apa yang Badu katakan. Pikiranku membenarkan apa yang tadi Badu katakan, Najma tidak akan pernah tahu agamaku jika aku tidak mengatakan padanya. Jadi... “Oke Du. Aku akan mencoba mengungkapkan hal ini padanya, sekarang.” Aku putuskan hal itu pada Badu, sebelum berubah pikiran lagi. “Gitu dong, baru itu Ariyan sahabatku” ujarnya seraya menepuk bahu kananku dengan sangat keras, mungkin dia sangat bahagia mendapati aku yang mampu mengambil keputusan untuk hidupku sendiri. “Yaudah aku ke kost dia sekarang” pamitku pada Badu. Aku berlari, aku lihat sepertinya langit akan merubah mendungnya menjadi hujan, jadi aku pun lebih cepat menyusuru jalan menuju kost Najma. “Ar, ngapain disini?” kudapati tubuh Najma di depan pintu gerbang kostnya. “Kamu mau kemana Naj?” aku pun menghentikan langkahku dan meletakkan tubuhku untuk berdiri di samping Najma. “Ke kost Maysa. Ada perlu sama dia, kenapa?jawabnya sangat datar. “Boleh aku bicara sebentar?” “Tentu. ada apa Ar? Serius banget kauujarnya “Ucapanku yang kemarin siang ingin aku benarkan Naj. Aku ingin permpuan yang menemaniku itu kamu” akupun mulai mengangkat topik pembicaraanku “Bisa aja kamu Ar, udahlah jangan bahas itu. Ayo kalo mau ikut ke kost Maysa” Najma sibuk memainkan handphonenya. “Dengan cara apa aku harus meyakinkanmu untuk menyatakan itu kembali Naj? Aku tahu Naj kamu tidak akan mempercayai semua ini. Karena kau pun tidak akan pernah berharap kata-kata ini keluar dari mulut seorang Ariyan. Laki-laki yang belum begitu kamu kenal, laki-laki yang belum mampu memberikan apa-apa kepadamu. Tidak seperti yang lain, bukankah begitu? Aku memberimu waktu untuk memikirkan perkataanku tadi. Itu saja, mungkin aku langsung pulang saja. Takut senbetar lagi hujan. Sampai jumpa besokaku langkahkan kakiku. Aku berharap membawa cinta dengan kepulanganku. Tapi sayang, itu tidak terjadi. Najma belum bisa menerima ini dan aku tak mungkin memaksanya “Ar, kamu takut hujan atau kamu takut tidak menerima jawaban dariku?” aku menoleh, Najma sepertinya menangkap apa yang barusan aku katakan dihadapannya “Kenapa? Apakah kalau aku bilang takut hujan kau akan memberikan payung untukku? Atau jika aku bilang takut tidak menerima jawaban darimu kau akan memberikan jawaban itu untukku?” Najma tersenyum “Yaudah, sekarang kau minta payung apa jawaban?” jawabnya sambil mendekatkan dirinya kesampingku. “Aku minta jawaban. Karena jawaban itu adalah payung bagiku” semakin aku rasakan betapa bahagianya berada disampingnya. Sangat dekat. “Oke. Aku akan mencoba untuk menjadi perempuan itu. Aku akan mencintaimu. Sudah, sekarang pulang. Aku sudah memberikan jawaban yang akan kau jadikan payung untukmu pulang” dia pun tersenyum, aku spontan memeluk tubuhnya. “Kau serius akan menjadi yang ku katakan tadi?”  tanyaku dalam pelukannya dan Najma mengangguk, aku pun melepaskan pelukanku “Aku juga berharap akan mendapatkan orang sepertimu Ar, yang suatu saat mampu menjadi imam shalatkumataku terhenti menatapnya. Hatiku bergetar mendapatkan bahasa itu dari Nama, tapi sudahlah aku tak mau memikirkan hal itu. Toh nanti Najma juga akan menerimaku, seiring dengan waktu.
@@@
Sudah lima bulan aku menjalani hubungan dengan Najma. Kurasa dia sudah benar-benar mampu mencintaiku seperti bagaimana aku mencintainya. Badu benar, sampai kapanpun Najma tidak akan tahu tentang agamaku. Sampai sekarang dia masih menganggapku muslim. “Ar, sudah adzan kita shalat berjemaah di masjid yuk” “Aku ke Lab dulu Naj, tadi bu Retno manggil aku. Mungkin nitip tugas, aku kesana dulu nggak enak kalau terlambat datengnya. Yaudah kamu shalat duluan. Ntar aku kesini lagi” aku balikkan tubuhku. Aku melangkah kearah kampus yang kebetulan disebelah kanannya masjid itu. Aku duduk dikursi kantin. Aku menunggu sekiranya Najma turun dari masjid. “Maaf Najma, terpaksa aku bohong. Tidak ada panggilan dari bu Retno untukku. Aku hanya tak ingin memberikan jawaban yang akan membuatmu mulai curiga terhadap aku. Karena untuk berpura-pura menjawab iya, aku pun tak tahu bagaimana bentuknya shalat. Apalagi untuk menjadi imammu? Mustahil!” gumamku.
            Sepuluh menit berlalu, aku menghampiri Najma. Diapun telah menungguku disamping masjid. “Maaf jika membuatmu menunggu lama. Ayo pulang, sudah siang” “Kau shalat saja dulu. Aku tunggu di sini” “Nggak. Aku shalat di kost saja. Lagian setelah ini aku langsung ke tempat kerja Badu” jawabku kembali berbohong. “Oh gitu. Yaudah ayo pulang. Oya Ar, besok hari minggu, temani aku ke toko buku ya” pinta Najma padaku. “Duh, aku nggak bisa Naj” “Kenapa Ar?” “Aku punya janji dengan Badu untuk nganter dia ke tempat service printer, kapan-kapan ajalah” “Yaudah. Aku tunggu kamu bisanya kapan” tak terasa kost Najma sudah ada di depan mata kami. “Aku masuk dulu. Hati-hati” Najmapun masuk ke kostnya. Lagi-lagi aku membohonginya. “Maafkan aku Najma, hari Minggu aku harus ke gereja dan maaf, jika aku tidak seperti mereka yang lain, yang biasanya hari minggu adalah hari buat mereka jalan dengan pacarnya, maaf. Aku tidak akan bisa untuk itu” gumam yang menemani perjalananku.
@@@
Sebulan setelah Najma mengajakku ke toko buku. Aku merasa kasian padanya. Sampai saat inipun aku belum sempat mengantarkannya kesana. Sedang hanya hari minggulah hari libur kuliah. Setiap hari aku ada di kampus, membantu ibu Retno menjaga Lab kimia.
“Kau belum pernah pernah menikmati hari Minggu dengan Ariyan Naj?” ucap Maysa pada Najma.  “Belum. Kenapa May?” “Ya nggak asyik aja. Coba deh kamu ajak dia” “Udah aku ajak May. Tapi dia selalu nggak bisa. Sibuk katanya” “Kamu nggak pernah datengi kostnya langsung?” “Belum pernah” “Coba deh besok kamu langsung aja ke kostnya. Terus ajak dia jalan, pasti bisa kok. Nggak mungkin dia bilang nggak bisa kalau kamu udah nyampek ke kostnya” “Boleh juga, aku coba besok”.
Kesokan hari setelah Najma membeli buku di daerah Landungsari bersama Maysa. Dia tak lagi mengabariku, ntahlah. Apa mungkin dia kecapean di kostnya. Aku tak mau mengganggunya dulu. Lagian sekarang aku harus ke gereja. Miungkin nanti aku datangi dia langsung ke kostnya.
“Ar,.....”  Najma memanggilku tepat di pintu gerbang kostku “Cari siapa mbak?” ucap Rino teman kostku. “Ariayan mas, dia kemana ya mas?” “Oh, biasa mbak hari Minggu” “Emangnya kemana mas?” “Ke gereja mbak” “Gereja? Ngapain mas?” Najma mulai meninggikan suaranya yang tetap tak mengerti maksud Rino. “Masak sih mbak nggak ngerti. Yah kalo ke gereja berarti beribadah. Masak mau jualan. Nggak lah. Yaudah aku ke kost temen dulu mbak. Tungguin aja mas Ariyan disitu, ntar lagi pasti dateng kok” Najma mengangguk “Tidak mungkin, Ariyan tidak mungin ke gereja. Aku tidak percaya itu” gumam Najma sambil duduk tersungkur di depan pintu kamarku. “Najma, ngapain disini?” tanyaku yang tiba-tiba mendapati Najma duduk depan pintu kostku. “Dateng dari mana Ar?” dia balik bertanya padaku seraya bangun dari duduknya. Matanya seperti habis menangis, merah. “Aku...” Mau bilang kalau habis nganterin Badu? Atau apalagi alasanmu Ar?” aku diam. Sepertinya Najma sudah tahu aku dari gereja. Tuhan hanya sampai disinikah kesempatan bagiku untuk memilikinya? Aku tidak rela jika hari ini dia meninggalkanku. “Kenapa kau tidak jawab Ar?” Najma mendekatiku. “Apa yang harus aku jawab lagi Naj? Bukankah kamu sudah tahu aku datang dari mana? Jadi tidak ada yang perlu diperjelas lagi kan? Karena semuanya sudah cukup jelas. Jadi akan percuma jika aku jelaskan lagi dari awal” aku menunduk. Aku tak ingin melihat wajah Najma. “Jadi ini alasanmu kenapa selalu menolak ketika hari minggu aku ajak pergi? Kau ke gereja? Kenapa kau harus bohong dengan berbagai alasan?” Najma marah besar, aku terima. Semua ini salahku. “Karena aku tahu Najma. Aku takkan bisa mengatakan hal itu padamu” aku mulai mengangkat wajahku dan menatap wajahnya. “Lalu dari dulu kenapa kamu pura-pura muslim Ar? Menampakkan dirimu yang sok alim, sok mengenal islam!” suara Najma meninggi. Dia menangis dan menghempaskan tubuhnya ke teras kostku. Dia duduk dalam gamang. “Aku tidak pernah pura-pura muslim Najma. Ketika di kantin kau menanyakan tentang iman kita sejak ada di Malang. Aku jawab aku semakin merasa senang melaksanakan kewajibanku. Yah, aku senang pergi ke gereja! Apa itu salah Najma? Sama seperti kamu senang mendatangi masjid. Aku terima bahkan aku antar kamu kesana. Ketika aku pamit pulang dengan alasan mau ibadah, itu semata-mata ingin menghargai waktu shalatmu. Apa itu salah Najma? Sedangkan aku tak pernah mempermasalahkan tentang kamu dan agamamu” Najma menangis. Ntah, aku tak tahu apa yang dia rasakan sekarang. “Tapi itu masalah dalam agamaku Ar, agamaku tidak memperbolehkan terjalinnya hubungan seseorang yang berbeda agama. Sedang aku dan kamu beda Ar” aku menunduk. Sesekali aku tatap mata Najma, Najma berdiri lagi. “Aku mengerti Najma. Maaf jika aku telah membuatmu begini. Mulai sekarang, aku akan meninggalkanmu. Aku akan menghapus segala harapan tentangmu dan aku janji Najma, aku tidak akan mengganggumu lagi. Sudah siang lebih baik kamu pulang. Aku antar ya” Najma menatapku Sebegitu mudah kah hal itu bagimu Ar?” Ada air mata yang jatuh di pipinya. “Tidak. Aku tidak akan memintamu untuk lagi menemaniku Ar, kau penghianat, pembohong!” Najma berlari cepat dari hadapanku. Ada sedu yang terdengar darinya. Dia merasakan sakit, mungkin. Sama sepertiku juga merasakan itu. Aku juga sangat sakit menerima semua ini Najma. Sampai sekarang, aku masih berharap kau masih denganku, tapi aku tidak mungkin meninggalkan Yesusku karena cintaku padamu. Karena bagiku Yesus adalah MATAHARIku. Matahari yang akan memberi kecerahan dalam hidupku. Maafkan aku jika aku tak bisa mempertahankan cinta ini untukmu. Cukup kau tahu, bahwa aku mencintaimu dan Matahari, Yesusku. Karena tanpa Matahari itu, aku tak kan mungkin mampu mencintaimu. Andaikan masih ada waktu untuk menjelaskan isi hatiku padamu, tapi agh! Kau sudah terlanjur marah dan aku tak mungkin mengejarmu lagi. Biar aku pasung hatiku di tempat lain.

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates