Thursday, October 6, 2011

sapaan awal


IRAMA CINTA
ANTARA AKU DAN MEREKA


Siapa yang tak sakit bila ternyata hidup tak pernah memastikan tentang masa depan. Siapa yang tak mau menangis, bila ternyata selama ini hidup dalam kebohongan. Dan siapa yang tak kan terluka jika ternyata semua yang ada hanya tipu belaka. Dan aku adalah manusia yang merasakan semua itu, manusia berwujud lelaki yang tak pernah mampu menjadi orang yang paling tegar dalam menghadapi kenyataan ini.
Dari dulu, saat aku masih hidup dalam lakon kanak-kanak yang masih berumur enam tahun, tanda Tanya besar aku miliki. Tapi entahlah, aku tak terlalu panjang berpikir pada siapa aku akan mendapat jawaban tentang Tanya itu.
Tentang siapa sebenarnya diriku. Bagaimana dan dimana dulu aku dilahirkan, yah, itulah Tanya yang pertama kali muncul dari benakku. Sebenarnya aku tak pernah menyangka hal ini akan terpikirkan. Karena, yang ku tahu aku adalah anak yang hidup ditengah-tengah keluarga yang cukup punya, seorang lelaki yang memiliki ayah bernama Fahri, dan pemilik ibu bernama Zainab.
Tak pernah sama sekali aku merasakan susah hidup bersama mereka, semua yang ku butuhkan terpenuhi, dan aku sangat mencintai mereka. Hanya itu yang dapat aku rasa semasih aku menyandang umur berangka enam tahun.
Ternyata semua itu tiba-tiba sedikit tak lagi terarah, tepatnya saat aku sering dipanggil Galih oleh para tetangga, sebuah nama yang tak pernah aku dengar dari keluargaku. Nama asing yang membuat aku ingin tahu kenapa orang-orang lebih suka memanggilku dengan nama itu, bukan dengan nama Ilham, gelar pemberian ayah ibuku.

                                     ###@###
Tepatnya pada tanggal 14 April 2009, umurku sudah menginjak angka 18 tahun. Dimana dengan menyandang angka itu, semua orang sudah memandang ku dewasa. Secepat itu waktu berlalu, padahal aku masih belum tahu jawaban atas tanyaku itu, Tanya tentang nama Galih yang selalu menjadi ganti nama asliku.
Benar! Sudah sebelas tahun aku menanggung beban Tanya ini, untuk bertanya pada ayah, aku kurang berani. Tapi alhamdulillah, Tanya itu tak terlalu menyiksa hari-hariku. Mungkin karna aku terlalu menyibukkan diri dengan sekolahku. Tapi tak dapat dipunggkiri tanda Tanya itu sering kali mengusik ketenangan pikiranku.
Sebagai lelaki yang cukup dikenal dewasa, aku mulai memberanikan diri pergi kehadapan para tetangga yang serig memanggilku dengan nama itu. Selagi waktu masih sore, aku harus cepat keluar rumah karena, sejam lagi aku harus ke masjid untuk berjemaah sholat maghrib.

Aku tutup pintu kamarku dengan pelan, sekiranya ayah tak kan mendengarnya… setelah aku melngkahkan kaki dari arah kamarku, kira-kira dua tapak kaki. Aku mendengar suara ayah dari ruang kerjanya.
 “ ma, Ilham sudah cukup dewasa. Papa yakin ini adalah saatnya kita memberi tahunya bahwakita bukanlah orang tua kandungnya “jantungku berdetak tak karuan. Aku tak percaya, aku yakin aku salah dengar. “ tapi pa, mama tidak siap kalau dia akan tahu sebenarnya tentang semua ini“ ternyata aku tidak salah dengar. Aku ternyata benar-benar bukan anak mereka. Lalu siapa sebenarnya aku? Tega sekali mereka tak pernah memberi tahu tentang ini padaku, setidaknya aku tahu kalau ternyata masih ada orang yang pantas kudoakan selain mereka.
 Tak terasa air mataku mengalir deras. Aku Cuma tak menyangka saja, ternyata selama ini aku hanya hidup ditangan orang lain, bukan ditangan orang yang melahirkanku. Aku tak pernah menyangka hidup akan serumit ini, sungguh aku tak mampu mendiamkan tangisanku…
Serasa aku takkan kuat bila aku harus dikembalikan pada orang tua kandungku, lalu terpisah dengan orang yang selama ini menaungiku. Tidak, aku tak mau hidup tanpa ayah Fahri dan ibu Zainab, aku terlalu cinta pada mereka.
“ ma, besok pak Galih mau datang kesini, dia mau menjemput Ilham lagi. Jadi papa harap mama bisa bersikap sewajarnya saja “ mendengar pernyataan itu, hatiku kacau. Mungkin nama Galih yang selama ini tetangga sebut untukku, ia adalah ayah kandungku. Ya Allah, kenapa aku baru sadar sekarang…
Aku lari keluar rumah, sekiranya mereka takkan menemukan jejakku. Aku menangis sejadi-jadinya, sekarang aku sudah tahu siapa itu Galih, dan kenapa orang-orang memanggilku dengan nama itu. Pantesan selama ini ayah Fahri dan ibu Zainab terlalu memanjakanku, mungkin mereka tahu kalau aku bersama mereka hanyalah sementara saja. Yah, dan besok adalah hari terakhir aku bersama mereka.
                 
   Tak kusangka matahari sekuat itu menyengat tubuhku
   Tak pernah terpikir rembulan akan takut menampakkan diri pada malam
   Dan sama sekali tak mampu kubayangkan
   Ternyata selama ini aku hidup hanyalah sebagai anak titipan…
                                      
                                                     ###@###                                             

Akhirnya aku harus benar-benar ikut pak Galih ke Australia. Menemui ibu kandungku yang baru bangun dari koma. Yah, ternyata itu alasannya kenapa aku dititip pada bu Zainab. Karena ibu tak bisa merawatku, dan papa Galih takkan mampu, karena selain ia seorang laki-laki, ia juga harus selalu menjaga ibu di rumah sakit.
                 Aku mencoba membuka senyumku setelah sampai dihadapan ibu. Aku memeluknya, selayaknya dulu aku memeluk ibu Zainab dengan hangat. Air matanya mengalir, dia semakin erat memelukku. Semakin terasa bahwa ia sangat menyayangiku. Meski aku tahu selama ini ia tak pernah merawatku. “ ka..mu gimana keadaannya ?” Tanya ibu terbata-bata. Aku menjawabnya dengan balasan senyum,
aku kembali memeluknya, dan berkata “ Ilham baik-baik aja bu, seandainya ibu tahu selama ini Ilham selalu mencari tahu siapa sebenarnya Ilham. Ya, sejak Ilam curiga terhadap pembicaraan para tetangga, tentang nama Galih yang selalu mereka juluki padaku. Dan ternyata baru Ilham tahu sekarang bahwa ia adalah papa kandung Ilham.
Sekitar sepuluh menit setelah aku bersama ibu, aku mencoba keluar dari ruangan rumah sakit yang ibu tempati. Sekedar untuk menghela nafas segar. Beberapa saat setelah aku keluar, dari jauh aku lihat papa Galih duduk termenung, matanya terarah pada satu ukiran nama yang ada didekat tempat duduk dibawah pohon yang biasa di tempati penunggu pasien. ZARA, ternyata nama itu yang mulai dari tadi papa pandang. Aku tidak tahu ada apa dengan nama itu, tanpa berpikir panjang aku menghampiri papa, aku duduk disampingnya. “ pa, ada apa dengan papa ?” aku mencoba belajar menyiapkan hati sebagai tempat ia berbagi, meski aku tahu hatiku masih sedikit merasakan sakit karena kejadian itu. Tapi sudahlah aku sudah tak terlalu memikirkan hal itu, karna akupun sudah tahu apa alasannya kenapa mereka berbuat seperti itu padaku. “ papa hanya ingat kejadian beberapa tahun lalu Ham. Tepat saat kakakmu masih ada di dunia ini, saat ia masih sempat memberi senyuman terindahnya pada dunia “ jawab papa sambil meneteskan air matanya. “ kakak? Maksud papa Ilha punya kakak gitu?” tanyaku heran, karena sungguh aku tak pernah mendengar cerita tentang yang satu ini. “ ia nak, kamu punya kakak. Ardian, itu namanya, nama yang papa berikan sebelum ibumu sakit parah. Memang papa bersyukur karena dia masih sempat bisa menemani kami “ aku semakin takmengerti kenapa papa ngomong kaya’ gitu. “ memangnya sekarang kakak kemana ?” dia meninggal Ham, tepat saat kamu baru berumur satu bulan. Sebelum dia meninggal karena kecelakaan,dia sempat bermain dibawah pohon itu sambil mengukir namanya, hamper setiap hari dia ikut papa kesini untuknganterin ibumu untuk kontrol kesehatan” tiba-tiba air mataku ikut mengalir, aku serasa merasakan sakit yang telah menguasai diri papa. Beranjak, aku mencoba menghapus air mata papa. Aku memeluknya. “ pa, Ilham harap papa sabar, kasihsan ibu jika harus melihat papa terus-terusan seperti  ini. Ibu butuh papa untuk selalu ada disampingnya. Akhirnya papa pun menghentikan air matanya. Kami beranjak, lalu membawa ibu pulang kerumah setelah papa membayar semua keuangan perawatan ibu selama di rumah sakit.
###@###

Setelah tiga bulan aku ada di Australia, akupun hidup bahagia dengan mereka. Kedua orang tua kandungku. Meski aku tahu, dihatiku masih terukir jelas nama ayah Fahri dan ibu Zainab, dua orang yang selama ini telah mengajariku banyak hal. Termasuk bagaimana cara menghargai orang yang lebih tua, bahkan cara mencintai sesama manusia. “ terimakasih yah, ma “.
20, Agustus 2009, pa Galih mengabari satu hal yang membuat aku tak mampu berkata apa-apa. “ ibu Zainab meninggal dunia “. Itu kalimat yang keluar dari mulut papa. Aku tak percaya, sungguh tidak mungkin semua ini terjadi dengan cepatnya. Menepis keraguanku, aku coba hubungi nomer yah Fahri, ternyata tak diangkat. Sampai beberapa kali, tetap tak ada jawaban.
Aku lari keluar rumah, mencari taksi yang akan mengantarkanku ke bandara. Papa mengejarku, aku tak peduli,dan ia pun berhenti berlari.
Setelah penerbangan ke Indonesia tiba, akupun cepat mendatangi rumah yah Fahri. Kulihat banyak orang berdatangan. Dipojok rumah aku lihat yah Fahri menangis. Aku menghanpirinya. Ia pun bercerita banyak hal tentang keadaan ibu Zainab sebelum meninggal. Air mataku mengalir deras, aku ingat segala hal yang beliau berikan padaku. Tentang pelukannya yang hangat, dan kasih sayangnya yang tak pernah bisa dibandingkan dengan siapapun, aku ingat semua itu. Aku memeluk ayah Fahri, seperti dulu ia memelukku saat aku menangis ketakutan, saat aku merasa sedih karena tak ada yang sudi berteman denganku. Tepatnya saat aku berada disisi mereka, saat kenyataan masih belum mengantarkanku pada perpisahan dari sisi mereka.
Beberapa menit kemudian Alhamdulillah yah Fahri sedikit mampu menghapus air matanya. Lalu setelah itu kami menuju jenazah bu Zainab. Aku buka tutup wajahnya, aku menciumnya sehangat ciumannya dulu. Ada setetes air keluar dari matanya. Aku semakin menangis tersedu. Aku ingat betul, ketika ia melarangku untuk menangis. Aku ingat ketika ia selalu mengajakku tertawa untuk menepis sedihku. Aku tahu dia orang yang begitu tegar, jujur selama aku hidup dengannya, aku tak pernah melihat ia mengucurkan air matanya. Kecuali sekarang, saat ia telah benar-benar pergi meninggalkanku. Meninggalkan setiap kenangan saat bersamaku.
Jam 13.35 wib. Ibu Zainab selesai dimakamkan. Aku dan papa Fahri pun meninggalkan pemakaman. Sangat sakit bila aku sadar ternyata papa Fahri tinggal sendiri. Aku tahu dia bakal kesepian, sebagai balas kasihku aku akan pamit untuk tinggal bersamanya lagi. Termasuk pamit pada ibu kandungku sendiri. Aku yakin beliau pasti mengerti akan keputusan ku ini.
                       Semua setuju. Dan akupun tinggal bersama ayah Fahri lagi. Alhamdulillah setelah beberapa bulan dari duka itu, kami pun kembali menjalani hidup dengan bahagia.
Aku dan setiap apa yang kau ajarkan padaku
Adalah amanat yang akan aku jaga dengan baik
Menjaganya dengan instrument cinta dan kerinduan…
Tepatnya pada kalian yang telah membuatku mengerti apa itu sebenarnya cinta sejati..
(papa Fahri, ibu Zainab dan papa Galih, ibu Salma)
Cintaku adalah cinta yang kan mengikuti setiap langkah kalian…


                      “Aku, orang yang tak pernah merasakan manis, asinnya kehidupan”

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates